POJOKSATU.id - Rekrutmen manajer dalam program Koperasi Merah Putih mulai memasuki tahap seleksi kompetensi.

Setelah proses administrasi, peserta yang dinyatakan lolos bersiap menghadapi ujian berbasis Computer Assisted Test (CAT) yang dijadwalkan berlangsung pada 5 hingga 14 Mei 2026.

Metode ini dipilih untuk memastikan proses seleksi berjalan cepat, transparan, dan akuntabel.

Tahapan ujian menjadi penentu penting dalam menyaring kandidat yang dinilai layak mengelola koperasi.

Baca Juga: SKTP April 2026 Terbit di Info GTK, Ini Penyebab TPG Guru Cair Tidak Serentak

Sistem seleksi dirancang tidak hanya mengukur kemampuan teknis, tetapi juga kapasitas berpikir dan pemahaman dasar tentang pengelolaan koperasi sebagai lembaga ekonomi berbasis anggota.

Berdasarkan pedoman rekrutmen yang beredar, materi ujian terbagi dalam dua kelompok besar.

Pertama adalah tes potensi kognitif yang berfungsi mengukur kemampuan dasar peserta.

Dalam bagian ini, peserta akan dihadapkan pada berbagai jenis soal yang menguji logika, kemampuan numerik, hingga pemahaman bahasa.

Baca Juga: Guru Bimbel

Soal-soal kognitif biasanya mencakup penalaran verbal, hitungan sederhana hingga menengah, pengetahuan umum, serta kemampuan mengenali pola, baik dalam bentuk angka maupun gambar.

Selain itu, terdapat pula soal yang menguji daya analisis ruang dan kemampuan memahami hubungan antarobjek secara abstrak.

Waktu pengerjaan relatif terbatas, sehingga peserta dituntut tidak hanya tepat, tetapi juga cepat dalam menjawab.

Bagian kedua adalah tes manajemen koperasi. Pada tahap ini, peserta diuji terkait pemahaman mereka tentang prinsip, tujuan, serta praktik pengelolaan koperasi.

Baca Juga: Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur, 71 Korban Dirawat di 5 Rumah Sakit

Materi yang diujikan umumnya berkaitan dengan konsep dasar koperasi, termasuk peran anggota, pembagian sisa hasil usaha (SHU), hingga posisi koperasi dalam sistem ekonomi nasional.

Pertanyaan yang muncul dalam tes ini cenderung bersifat konseptual, namun tetap membutuhkan pemahaman yang kuat.

Misalnya, peserta harus mengetahui bahwa koperasi tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, melainkan bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggota.

Selain itu, pemahaman mengenai mekanisme pembagian SHU berdasarkan partisipasi anggota juga menjadi aspek yang kerap diujikan.

Baca Juga: Produk Tenun Pewarna Alami Binaan Bakti BCA Naik Kelas, Tembus Pameran di Amsterdam

Tidak hanya itu, peserta juga perlu memahami nilai-nilai yang melekat dalam koperasi, seperti asas kekeluargaan dan prinsip ekonomi kerakyatan.

Hal ini penting mengingat peran manajer tidak hanya sebagai pengelola operasional, tetapi juga sebagai penggerak organisasi yang berbasis partisipasi anggota.

Setiap jawaban benar dalam tes manajemen koperasi memiliki bobot nilai tertentu, sementara jawaban salah tidak mendapatkan poin.

Dengan jumlah soal yang terbatas, ketepatan menjadi faktor utama dalam meraih nilai optimal.

Baca Juga: Humas PT KAI Ungkap Tabrakan Kereta di Bekasi Timur Hanya Tertemper, Ini Penjelasannya

Pelaksanaan seleksi ini berada dalam koordinasi lintas lembaga, dengan prinsip bebas biaya bagi peserta.

Pemerintah menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan secara terbuka untuk menjaring sumber daya manusia yang kompeten dan berintegritas.

Menjelang pelaksanaan tes, para pelamar diimbau untuk mempersiapkan diri secara matang.

Selain memahami konsep dasar koperasi, latihan soal-soal logika dan kemampuan kognitif juga menjadi kunci untuk menghadapi ujian berbasis CAT.

***