POJOKSATU.id – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) membuka peluang studi lanjut bagi dosen Indonesia melalui Indonesia-Austria Scholarship Programme (IASP).
Program ini merupakan hasil kerja sama dengan Badan Pendidikan dan Internasionalisasi Austria (OeAD-GmbH) di bawah Kementerian Federal Urusan Perempuan, Ilmu Pengetahuan, dan Penelitian Austria.
Beasiswa doktoral ini memberikan kesempatan studi selama 36 bulan, termasuk 9 hingga 12 bulan fase persiapan.
Baca Juga: Viral! Oknum ASN Kemenag Sulbar Diciduk Polisi, Diduga Pesta Sabu Bareng 2 Wanita
Pada tahun ini, kuota yang disediakan sebanyak 15 penerima beasiswa dengan pendaftaran daring melalui laman kualifikasidikti.kemdiktisaintek.go.id hingga 1 Maret 2026.
IASP terbuka bagi dosen di bawah naungan Kemendikti Saintek dari berbagai bidang studi, mulai dari Ilmu Pengetahuan Alam, Teknik, Kedokteran, Ilmu Kesehatan, Pertanian, Ilmu Sosial, Humaniora, hingga Seni.
Meski terbuka luas, fokus utama program ini tetap diarahkan pada bidang STEM.
Dari sisi manfaat, penerima beasiswa akan memperoleh pembebasan biaya kuliah serta tunjangan hidup bulanan sebesar EUR 1.150–1.300 atau setara Rp22–25 juta.
Selain itu, tersedia tiket pesawat internasional dengan batas maksimal EUR 1.000, tunjangan mobilitas bulanan EUR 80, bantuan pengaturan akomodasi, serta asuransi kesehatan.
Beasiswa ini juga menyediakan tunjangan keluarga pada tahun kedua dan ketiga studi, masing-masing sebesar EUR 250 per bulan untuk pasangan dan EUR 250–325 per bulan untuk maksimal satu anak.
Baca Juga: Terungkap! Ini Rekam Jejak Budi Prasetyo, Jubir KPK yang Makin Disorot Publik
Tunjangan tersebut diberikan dengan syarat keluarga diundang oleh penerima beasiswa.
Meski demikian, awardee tetap disarankan menyiapkan dana tambahan untuk kebutuhan mendesak.
Syarat dan Dokumen Pendaftaran
Untuk dapat mengikuti program ini, pelamar wajib memenuhi sejumlah persyaratan berikut:
1. Dosen tetap Indonesia yang memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) dan bekerja di perguruan tinggi di bawah Kemendikti Saintek.
Baca Juga: TPG Bulanan Bisa Lebih Cepat atau Justru Tertahan, Semua Tergantung Fase Awal 2026
2. Pendidikan minimal S2 atau magister, dengan tahun kelulusan tidak lebih dari 10 tahun sebelum tahun pengajuan beasiswa.
3. Usia maksimal 35 tahun pada saat pendaftaran.
4. Tidak sedang menempuh pendidikan doktoral dan belum memiliki gelar doktor.
Selain persyaratan tersebut, pelamar juga harus menyiapkan dokumen pendukung sebagai berikut:
Baca Juga: Ribuan Korban Teriak! Skandal Dana Syariah Rp 1,4 T Mengguncang, Ini Temuan Mengejutkan OJK
1. Surat penerimaan dari pembimbing atau supervisor universitas di Austria, atau Letter of Acceptance tanpa syarat.
2. Proposal penelitian sepanjang 5–10 halaman yang berfokus pada pertanyaan riset spesifik dan telah disetujui pembimbing di Austria. Proposal ini diharapkan memuat gambaran masalah, tinjauan pustaka, hasil yang diharapkan, kontribusi penelitian, pendekatan metodologis, serta rencana kerja dan jadwal penelitian.
3. Izin tertulis dari Rektor bagi dosen perguruan tinggi negeri atau kepala Badan Pendidikan Tinggi wilayah setempat bagi dosen perguruan tinggi swasta.
Baca Juga: Vonis Putusan Hakim Mengejutkan: iPhone 16 Dirampas, Akun Instagram Laras Faizati Dihapus
4. Dua surat rekomendasi dari dosen universitas yang dilengkapi kop surat, tanggal, tanda tangan, serta cap institusi dan diterbitkan tidak lebih dari enam bulan sebelum pendaftaran.
5. Salinan paspor pada halaman identitas.
6. Salinan transkrip nilai dan ijazah pendidikan sebelumnya, mulai dari diploma, sarjana, hingga magister.
7. Curriculum Vitae (CV) yang detail dan ditulis dalam bahasa Inggris.
Baca Juga: Ingin Langsung Jadi CPNS? Ini 10 Sekolah Kedinasan Paling Favorit di Indonesia, Ini Lengkapnya
8. Sertifikat kemampuan bahasa Inggris dengan skor minimal TOEFL IBT 90, TOEFL ITP 550, atau IELTS 6.5 yang masih berlaku.
Tahapan Seleksi
Proses seleksi beasiswa IASP dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, panitia akan melakukan seleksi administrasi berdasarkan kelengkapan dan kesesuaian dokumen.
Pelamar yang lolos tahap ini akan diundang mengikuti wawancara di Indonesia.
Wawancara diselenggarakan oleh tim seleksi gabungan dari Kemendikti Saintek dan ASEA-UNINET.
Peserta yang dinyatakan lolos wawancara selanjutnya diwajibkan mengajukan permohonan resmi ke universitas tujuan di Austria.
Keputusan akhir pemberian beasiswa baru ditetapkan setelah pelamar dinyatakan diterima oleh universitas di Austria.
Pengumuman hasil seleksi dapat dipantau melalui laman kemdiktisaintek.go.id.
Baca Juga: Gaji Tunggal ASN Kapan Diterapkan? Pemerintah Ungkap Tahapan dan Pola Penggajiannya
Setelah ditetapkan sebagai penerima beasiswa, awardee akan menerima kontrak yang mengatur durasi studi, besaran beasiswa, metode pembayaran, hingga kewajiban laporan akhir. ***




