POJOKSATU.id - Belakangan, makin banyak guru mengeluhkan Jurnal Pembelajaran gagal validasi untuk PPG Guru Tertentu.
Padahal Jurnal Pembelajaran tersebut sudah dibuat, dikerjakan, dan disusun sedemikian rupa dengan tenaga dan pikiran.
Usaha mahasiwa peserta program pendidikan profesi guru untuk membuat mengerjakan tugas Piloting PPG bagi Guru Tertentu itu tentu saja tidak mudah.
Sebab peserta harus memikirkan, mempraktikkan lalu menuangkan ide dan gagasan ke dalam Aksi Nyata.
Belum lagi waktu yang dihabiskan untuk melalui proses tersebut.
Ditambah kesibukan mengajar setiap hari di dalam kelas serta aktivitas lainnya.
Namun ujung-ujungnya Jurnal Pembelajaran gagal validasi di Platform Merdeka Mengajar.
Lalu apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadii?
Dan apakah ada solusi yang bisa ditempuh setelah mendapat notifikasi 'Perbaiki Jurnal Pembelajaran' di fitur Sertifikasi Pendidik pada PMM?
5 Penyebab Gagal Validasi
Jika ditanya apa penyebab gagal validasi, tentu saja jawabannya adalah karena tidak sesuai aturan dan ketentuan yang sudah ditetapkan.
Dikutip Pojoksatu.id dari kanal Navigator guru, setidaknya ada 5 penyebab gagal validasi, antara lain:
1. Syarat dan Ketentuan
Selalu baca dan pahami setiap ketentuan yang ada pada setiap modul yang berbeda satu dengan lainnya.
Contohnya, Anda diinstruksikan untuk memilih salah satu topik untuk mengerjakan Jurnal Pembelajaran.
Akan tetapi ada mahasiswa yang mengerjakan jurnal dengan lebih dari 1 topik dengan digabung.
Baca Juga: Rencananya Gaji PNS Bakal Naik, Tunggu Pidato Presiden 16 Agustus Mendatang
Maka tentu saja hal demikian otomatis dianggap gagal atau gagal validasi.
2. Plagiat/Copas/Mirip
Diakui atau tidak, banyak guru yang memilih untuk 'mencontek' Aksi Nyata rekan sesama guru.
Agar mudah, materi tersebut cuma diubah nama peserta, nama sekolah, kelas serta foto-foto dokumentasi.
Ketahuilah bahwa PMM memiliki sistem yang bisa mendeteksi plagiarisme.
Sehingga jika jurnal Anda mirip dengan yang sebelumnya sudah pernah diunggah, maka akan terbaca dengan jelas.
Baca Juga: Suka Main Pecat Guru Honorer, Tujuh Guru Ini Demo Disdik Minta Kepala Sekolahnya yang Dipecat
Perlu dicatat bahwa penyusunan jurnal yang baik adalah yang Anda buat, susun dan kerjakan sendiri berdasarkan pengalaman sendiri.
3. Umpan Balik
Dalam setiap jurnal ada ketentuan umpan balik dan Anda juga harus menentukan apa yang harus ada di umpan balik itu.
Contoh, misalnya umpan balik dengan rekan sejawat. maka tulislah umpan balik itu dengan tulisan tangan yang mencantumkan nama guru atau identitas lengkap guru yang jadi rekan sejawat Anda.
Demikian pula jika umpan baliknya adalah siswa, maka lakukan hal yang sama.
Tuliskan di kertas kosong, lalu difoto disimpan sebagai file, sehingga bisa ditempelkan dalam slide.
Baca Juga: YURA PENDAFTARAN SEGERA DIBUKA! Cek informasinya untuk melihat formasi CPNS dan PPPK 2024
Pastikan tulisan pada kerta tersebut terlihat jelas atau tidak blur atau dengan membutnya menjadi tulisan dengan ukuran yang cukup besar sehingga terlihat jelas.
4. Foto Dokumentasi
Foto dokumentqsi memang terlihat simple tapi sejatinya memberikan pengaruh besar.
Pakailah foto yang sesuai dengan topik yang Anda pilih menjadi jurnal.
Lengkapi dengan tulisan pendek antara 4-5 paragraf yang menceritakan pengalaman Anda pribadi.
Baca Juga: PENDATAAN dan VERVAL BKN SUDAH FINAL Honorer Ini Pupus Harapan Bisa Daftar PPPK 2024
Semakin 'cocok' foto tersebut dengan topik yang Anda angka, maka akan makin memperkuat jurnal yang Anda kerjakan.
5. Salah upload
Berikan nama file yang sesuai dengan tugas Anda agar nantinya mudah ditemukan saat akan diunggah.
Misalnya: Jurnal Pembelajaran - Modul 3 - (Topik) - Wahyu Subagyo.
Ini diperlukan agar Anda tidak salah memilih file yang akan disetor.
Boleh percaya atau tidak, tapi banyak guru yang mengeluhkan telah salah mengunggah file jurnal.
Dimana semestinya mengunggah Modul 2 tapi malah mengunggah Modul 1.
Saran Kemdikbud
Selain 5 penyebab di atas, ternyata ada juga penyebab lain yang bisa mengakibatkan Jurnal Pembelajaran gagal validasi.
Hal itu disampaikan Kemdikbud melalaui sistem informasi yang ada di masing-masing akun SIMPKB Anda.
"Untuk menghindari kegagalan validasi, dalam mengerjakan Jurnal Pembelajaran sangat disarankan untuk dibuat dengan Ms. Word atau Google docs dan disimpan menggunakan format PDF."
"Selain format tersebut, tidak bisa diterima sistem," demikian pemberitahuan Kemdikbud sebagaimana dikutip Pojoksatu.id.
Masih dalam pengumuman yang sama, Kemdikbud tidak menyarankan penggunakan aplikasi Canva.
"Hindari membuat Jurnal Pembelajaran menggunakan aplikasi visual, seperti Canva atau lainnya yang disimpan menggunakan format PDF," sambung pemberitahuan itu.
Kenapa tidak disarankan menggunakan Canva?
Karena pada bagian Refleksi pada setiap jurnal yang Anda buat wajib minimal memuat 300 kata.
Jumlah 300 kata tersebut akan sulit ditampung dalam 1 slide jika dibuat melalui Canva.
2. Apakah setiap jurnal yang dibuat dengan Canva akan ditolak atau tidak divalidasi?
Tentu saja jawabannya adalah tidak. Ada jurnal yang dibuat dengan Canva tapi tetap divalidasi.
Akan tetapi Kemdikbud tetap sangat menyarankan agar menggunakan Ms. Word atau Google docs.
3. Bagaimana jika sudah terlanjur mengumpulkan jurnal yang dibuat di Canva?
Baca Juga: Polda Minta DPO Kasus PPPK Eks Bupati Batubara Zahir Menyerah, Adiknya Mulai Disidang di PN Medan
Jika diminta melakukan perbaikan jurnal, satu-satunya ajalan adalah mengulangi lagi.
Yakni dengan menyusun kembali menggunakan Ms. Word atau Google docs sesuai dengan konten dan panduannya.
Semoga informasi pemberitahuan resmi Kemdikbud soal penyebab dan solusi Jurnal Pembelajaran gagal validasi ini bisa berguna buat Anda.***




