POJOKSATU.id - Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu negara penghasil kemenyan dunia.
Sayangnya, komoditas hasil hutan bukan kayu tersebut masih banyak dijual dan diekspor dalam bentuk mentah.
Kondisi itu membuat nilai ekonomi kemenyan belum sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.
Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ganis Lukmandaru, mendorong pemerintah segera memperkuat hilirisasi kemenyan agar komoditas tersebut memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Menurut Ganis, kemenyan Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan kemenyan dari Turki maupun kawasan Arab.
Baca Juga: Rompi Netravest dari UPI Bandung Bantu Difabel Netra Hindari Rintangan, Kenali Uang Rupiah
Kemenyan yang tumbuh di Indonesia berasal dari genus Styrax. Sementara kemenyan yang dikenal dari kawasan Timur Tengah umumnya berasal dari genus Boswellia.
“Keunggulannya di Indonesia ini bau madunya. Baunya itu agak kayak permen gitu,” ujar Ganis.
Aroma khas tersebut berkaitan dengan kandungan asam sinamat.
Senyawa ini membuka peluang pemanfaatan kemenyan untuk berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, termasuk parfum, obat, hingga produk pangan.
Nilai Kemenyan Bisa Naik 20 Kali Lipat
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat produksi kemenyan di Sumatera Utara mencapai sekitar 5.000 hingga 8.000 ton per tahun.
Baca Juga: Universitas Teknokrat Indonesia Masuk Top 22 Kampus Juara Terbanyak PEKSIMINAS XVIII 2026
Sebagian produksi tersebut selama ini diekspor ke sejumlah negara, seperti India, Singapura, dan negara-negara Uni Eropa.
Kemenyan yang dikirim dalam bentuk bahan mentah kemudian diolah menjadi berbagai produk turunan.
Padahal, menurut Ganis, pengolahan di dalam negeri berpotensi meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut hingga 20 kali lipat.
Salah satu tahapan hilirisasi yang dapat dilakukan adalah mengolah getah kemenyan menjadi minyak.
“Getah padat ini dipanaskan, lalu yang menguap didinginkan jadi minyak. Ini namanya minyak kemenyan,” jelas Ganis.
Baca Juga: Kemensos Siapkan Agen Perlinsos untuk Bantu Akses Bansos, Bukan Penentu Penerima
Minyak tersebut kemudian dapat menjadi bahan baku untuk pengembangan produk lanjutan, termasuk parfum atau pemisahan senyawa tunggal yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Ganis menilai pola pengolahan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang asing.
Ia mencontohkan getah pinus yang kini telah dikembangkan menjadi berbagai produk turunan seperti gondorukem dan terpentin.
“Nanti harusnya kemenyan juga kayak pinus gitu. Ending-nya itu,” katanya.
Baca Juga: Jangan Cuma Hafalan! 60 Contoh Soal TKA Ekonomi SMA 2026 dan Kunci Jawaban, Ada Soal Analisis
Bukan Cuma Soal Teknologi
Meski peluang hilirisasi cukup besar, pengembangan industri kemenyan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi pengolahan.
Ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan dan konsistensi mutu menjadi tantangan yang harus diselesaikan.
Pemerintah sebenarnya telah memiliki standar kualitas kemenyan. Standar yang sebelumnya terdiri dari enam kelas pada 1980-an kini telah menjadi tiga kelas.
Namun, penerapan standar tersebut dalam perdagangan dinilai belum berjalan optimal.
Baca Juga: Dosen UNJA Juara 1 Jambi Spark 2026, Gabungkan Energi Surya, IoT dan Platform Digital
“Kalau ingin mendirikan pabrik, mereka butuh pasokan yang kontinu dengan mutu yang standar. Itu bisa dipenuhi tidak oleh para penyadap kemenyan?” ujar Ganis.
Artinya, industri pengolahan membutuhkan kepastian pasokan sekaligus kualitas bahan baku yang konsisten.
Regenerasi Penyadap Jadi Tantangan
Tantangan lain muncul dari sisi sumber daya manusia. Sebagian penyadap kemenyan saat ini telah berusia lanjut.
Sementara itu, generasi muda di sejumlah wilayah mulai melirik komoditas lain, seperti kopi, yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi.
Jika kondisi tersebut berlanjut, regenerasi penyadap akan menjadi persoalan serius.
Baca Juga: Bukan Cuma Obligasi, Yield Tinggi Mulai Mengancam Ekonomi Global dan Pasar Saham
Lahan kemenyan juga berpotensi dialihkan untuk komoditas lain sehingga ketersediaan bahan baku semakin terancam.
Rantai perdagangan kemenyan saat ini juga masih banyak menggunakan jalur tradisional dengan sejumlah perantara antara petani dan konsumen.
Namun, perkembangan teknologi digital mulai membuka peluang baru.
Generasi muda dari keluarga petani dapat memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk kemenyan secara lebih langsung.
Hilirisasi Bisa Dimulai dari Petani
Menurut Ganis, hilirisasi tidak harus langsung diwujudkan melalui pembangunan industri berskala besar.
Pengolahan sederhana di tingkat petani justru dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan nilai tambah.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Alasan Dicopot dari Menkeu, Perombakan Ratusan Pejabat Ikut Disorot
Ia mencontohkan pengolahan minyak kayu putih dan minyak kenanga yang dapat dilakukan dalam skala rumah tangga.
“Kalau sekadar mendistilasi, yang paling mudah. Dari getah menjadi minyak, dipanaskan, itu sudah mudah,” ujarnya.
Perubahan dari sekadar menjual getah mentah menjadi produk olahan memang membutuhkan keterampilan baru.
Masyarakat juga perlu mengubah pola pikir produksi agar tidak hanya mengejar jumlah panen, tetapi mulai memperhatikan nilai tambah dari setiap produk.
Dengan nilai tambah yang lebih tinggi, petani tidak harus memanen kemenyan dalam jumlah besar hanya untuk memperoleh pendapatan yang sama.
“Kalau nilai tambahnya tinggi, dengan jumlah produk yang sama, pendapatan yang diperoleh bisa lebih besar. Jadi, petani tidak perlu memanen dalam jumlah banyak,” jelasnya.
Baca Juga: Mau Nilai TKA Geografi 2026 Lebih Maksimal? Coba 60 Soal Latihan dan Cek Kunci Jawabannya
Cara tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya alam.
Ketika nilai ekonomi kemenyan meningkat, petani memiliki peluang memperoleh pendapatan lebih besar tanpa harus terus meningkatkan volume panen, memperluas lahan, atau mengeksploitasi tanaman secara berlebihan.
“Kalau nilai tambahnya rendah, mereka harus memanen lebih banyak untuk memperoleh pendapatan yang cukup.
Sebaliknya, kalau nilai tambahnya tinggi, dengan pendapatan yang lebih besar, mereka cukup memanen lebih sedikit. Ini kan lebih melindungi,” tambahnya.
Sentra Kemenyan Masih di Sumatera Utara
Produksi kemenyan Indonesia saat ini masih terkonsentrasi di Sumatera Utara, terutama di Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan.
Baca Juga: Mendikdasmen Tegaskan PKL Tak Boleh Hentikan Pembelajaran Murid SMK, Ini Solusinya
Luas areal kemenyan di wilayah tersebut sekitar 23.000 hektare. Angka itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan areal pinus di Jawa yang mencapai sekitar 290.000 hektare.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri kemenyan perlu memperhitungkan keterbatasan bahan baku.
Pengembangan industri juga harus tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian hutan rakyat yang menjadi sumber kemenyan.
Baca Juga: Purbaya DJuamputh
Kemenyan Bisa Dikembangkan di Wilayah Lain
Secara teknis, tanaman kemenyan sebenarnya dapat dikembangkan di wilayah lain yang memiliki kondisi lingkungan sesuai.
Ketinggian sekitar 800 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut menjadi salah satu kondisi yang dapat mendukung pengembangan kemenyan. Namun, perluasan areal harus dilakukan secara hati-hati.
Pemerintah perlu memperhitungkan keberadaan komoditas lain yang sudah lebih dahulu dibudidayakan agar pengembangan kemenyan tidak menimbulkan persaingan penggunaan lahan.
Ganis menilai kemenyan memiliki peluang menjadi salah satu produk unggulan hasil hutan bukan kayu Indonesia apabila dikembangkan melalui industri hilir yang tepat.
Baca Juga: Mendikdasmen Tegaskan PKL Tak Boleh Hentikan Pembelajaran Murid SMK, Ini Solusinya
Pengalaman pengembangan derivat pinus di Jawa dapat menjadi salah satu pembelajaran.
Menurutnya, nilai ekonomi komoditas dapat meningkat ketika pengolahan dan investasi industri mulai berkembang.
“Dulu kan nggak ada derivat pinus. Setelah itu, tahun 2015-an di Pemalang baru dibangun derivatnya. Jadi, nilainya lebih tinggi. Harusnya kemenyan juga bisa seperti pinus itu,” ujarnya.
Pada akhirnya, hilirisasi kemenyan bukan sekadar persoalan mengubah getah menjadi produk bernilai tinggi.
Pemerintah juga perlu memastikan keberlanjutan bahan baku, meningkatkan keterampilan petani, memperbaiki standar mutu, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk tetap melihat kemenyan sebagai komoditas yang menjanjikan.
“Asal memang keberlanjutannya itu diperhatikan. Selalu ada hulu dan hilir,” tutupnya. ***




