POJOKSATU.id - Transformasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi mesin pencetak talenta global kini masuk tahap percepatan.

Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) mendorong SMK berperan sebagai inkubator yang mampu menghasilkan satu juta talenta global terampil, sejalan dengan kebutuhan pasar kerja internasional.

Langkah ini diwujudkan melalui Roadshow Workshop Kepala Sekolah SMK Go Global yang digelar di tiga kota strategis: Bandung, Makassar, dan Semarang pada 1, 3, dan 4 Desember 2025.

Baca Juga: Universitas Brawijaya Umumkan Mekanisme SNPMB 2026, Ada Aturan Baru UTBK dan Prodi Anyar

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, A Muhaimin Iskandar, menegaskan pentingnya transformasi SMK untuk memastikan lulusannya mampu bersaing secara global.

Ia mengatakan, “Persaingan antar negara tidak hanya dalam perdagangan, tapi juga pasar kerja. SMK Go Global memastikan lulusan SMK kita mampu menaklukkan pasar kerja global.”

Muhaimin juga menambahkan bahwa pihaknya tengah mendorong perbaikan sistem vokasi nasional dari hulu ke hilir, termasuk usulan pembentukan Badan Vokasi Nasional.

Baca Juga: Pemkab Mimika Perketat ASN Pembatasan Plastik, DLH Dorong OPD Gunakan Tumbler dan Wadah Ramah Lingkungan

Tantangan 1,63 Juta Lulusan SMK

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison, menyoroti fakta bahwa 1,63 juta lulusan SMK saat ini belum mendapatkan pekerjaan.

Ia menilai situasi tersebut memerlukan pendekatan lintas sektor yang lebih solid.

Menurut Leon, roadshow ini adalah langkah konkret dalam menghadapi tantangan tersebut.

“Sebagai penyelenggara negara, tugas kami bukan sekadar membuka akses pasar, tetapi memastikan supply dan demand bertemu pada standar kualitas yang sama. Kami berharap melalui transformasi SMK bisa mencetak 1 juta talenta global terampil,” ujarnya.

Baca Juga: Bukan Hanya UNJ, Ini 5 Kampus di Jakarta untuk Calon Guru, Ada Uhamka hingga UIN Jakarta, Pilih Prodi dan Kenali Lingkungannya

Workshop ini juga dirancang untuk memetakan tantangan riil di setiap sekolah sekaligus merumuskan langkah prioritas revitalisasi satuan pendidikan vokasi.

Tiga Pilar Transformasi SMK

Leon memaparkan bahwa transformasi SMK difokuskan pada tiga pilar utama:

-Pertama, peluang pasar global.

Para Kepala Sekolah diajak memahami bahwa kebutuhan tenaga terampil dunia, terutama skema Specified Skilled Worker (SSW) di Jepang, membuka peluang besar bagi lulusan SMK.

“Tujuan kami jelas, memastikan lulusan SMK dapat menjadi kontributor utama dalam pencapaian target nasional 1 juta PMI terampil,” kata Leon.

-Kedua, kualitas dan standarisasi supply.

Ia menegaskan kompetensi lulusan harus diselaraskan dengan standar global yang diharapkan negara tujuan.

Hal ini meliputi peningkatan keterampilan teknis, penguasaan bahasa, hingga kesiapan budaya kerja.

-Ketiga, pelindungan dan keamanan.

Baca Juga: Bencana Alam atau Kegagalan Politik? Greenpeace Desak 3 Menteri Berperan dalam Tragedi Sumatera untuk Mundur

Pilar ini menekankan bahwa penempatan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai tenaga kerja migran harus dilakukan secara aman, legal, dan bermartabat.

Transformasi SMK bukan hanya soal menaikkan kualitas lulusan, tetapi juga memastikan mereka benar-benar siap memasuki pasar kerja global yang semakin kompetitif.

Semoga langkah ini menjadi jalan baru bagi lulusan SMK untuk menembus peluang internasional dan memperkuat posisi Indonesia di kancah global. ***