POJOKSATU.id — Pada Rabu, 12 November 2025, Kemendikdasmen mengumumkan hasil evaluasi program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) yang menunjukkan kebiasaan makan tidak sehat di kalangan pelajar.

Sebanyak 45% murid SMK dan 42% murid SMA mengonsumsi mi instan setiap hari, angka yang membuat Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen Rusprita Putri Utami terkejut.

Ia menyampaikan hasil temuan tersebut dalam acara Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) di Hotel Shangri-La, Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

Baca Juga: Mahasiswi Ekonomi Bisnis Unpak Terindikasi Bunuh Diri dari Lantai 3, Berwasiat Minta Maaf ke Ortu

“Konsumsi makanan instan sangat memengaruhi kesehatan. Kalau sudah nggak sehat, gimana mau belajar secara fokus dan optimal,” ujar Rusprita di hadapan peserta konferensi.

Aspek “Makan Bergizi” Jadi Fokus Utama KAIH
Temuan itu berkaitan dengan aspek makan bergizi dalam program 7 KAIH yang dinilai sangat berpengaruh terhadap kebiasaan positif lainnya.

“Kalau anak-anak sudah terbiasa makan sehat dan bergizi, itu berdampak baik pada kebiasaan lain,” kata Rusprita menegaskan pentingnya pola makan seimbang.

Baca Juga: Selamat! 9.687 PPPK Paruh Waktu di Bogor Akhirnya Siap Dilantik dan Terima SK 2025

Murid Masih “Mager”, Olahraga Jadi Tantangan
Selain pola makan, kebiasaan berolahraga juga dinilai bermasalah karena banyak pelajar Indonesia malas bergerak atau mager.

Data Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari Kemenkes juga memperkuat temuan tersebut, menunjukkan tingkat kebugaran pelajar masih rendah.

Kemendikdasmen kini mendorong penerapan Senam Anak Indonesia Hebat, versi baru Senam Kesehatan Jasmani (SKJ) untuk menghidupkan kembali semangat bergerak siswa.

Baca Juga: Pemkot Tangsel Gencarkan Sosialisasi Portal Digital Anti Nganggur demi Permudah Akses Pencari Kerja

“Kami ingin anak-anak aktif bergerak seperti dulu, mau bermain, dan tetap sehat,” ujar Rusprita menutup pernyataannya.

Kemendikdasmen berharap kebiasaan makan bergizi dan aktif bergerak tidak hanya menjadi program formal, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa di sekolah dan rumah.***