POJOKSATU.id – Pemerintah memastikan sejumlah sekolah di wilayah terdampak banjir dan longsor di Sumatra tidak lagi bisa dipertahankan karena berada di zona rawan bencana.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkapkan hal tersebut seusai meninjau beberapa titik kerusakan.
“Beberapa yang kami kunjungi memang ada sekolah-sekolah yang dia tidak mungkin dipertahankan karena lokasinya di daerah yang berbahaya, tidak aman sehingga memang harus dibangun sekolah baru di lokasi yang baru,” kata Abdul Mu’ti, Minggu, 7 Desember 2025.
Ia menegaskan bahwa sistem pembelajaran untuk daerah terdampak bencana nantinya akan diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah.
Pilihan metode pembelajaran pun beragam, menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa di beberapa titik sekolah menerapkan model shift, sementara lainnya melakukan pembelajaran daring.
“Untuk teknis di lapangan kami tidak membuat aturan nasional karena kondisinya sangat beragam, sehingga kami serahkan hal ini pada pemerintah daerah khususnya pada dinas-dinas pendidikan di provinsi maupun kabupaten/kota,” ujarnya.
Baca Juga: Inter Milan Stabil, Liverpool Labil, Cek Prediksi Skor Liga Champions di Sini
Sebaran Kerusakan Sekolah di Tiga Provinsi
Kemendikdasmen mencatat total 1.009 satuan pendidikan rusak akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data ini sekaligus menegaskan luasnya dampak bencana terhadap layanan pendidikan.
Provinsi Aceh mencatat 310 sekolah terdampak. Di Sumatera Utara angkanya mencapai 385 sekolah, sementara Sumatera Barat melaporkan 314 sekolah mengalami kerusakan.
Rincian Kerusakan per Jenjang Pendidikan
1. Provinsi Aceh
-
PAUD: 57
-
SD: 91
-
SMP: 55
-
SMA: 65
-
SMK: 34
-
PKBM/SKB: 1
-
SLB: 7
Baca Juga: Agar Keluarga Siap Hadapi Bencana, Siapkan 16 Barang Wajib di Kotak Darurat
2. Provinsi Sumatera Utara
-
PAUD: 76
-
SD: 199
-
SMP: 92
-
SMA: 11
-
SMK: 6
-
SLB: 1
3. Provinsi Sumbar
-
PAUD: 51
-
SD: 63
-
SMP: 71
-
SMA: 20
-
SMK: 1
-
SLB: 8
Baca Juga: Krisis Performa dan Konflik Internal, Misi Berat Liverpool di Markas Inter Milan
Langkah Darurat: Tenda Kelas dan Pemetaan Lapangan
Untuk memastikan kegiatan belajar tidak berhenti, Kemendikdasmen telah mendirikan tenda-tenda sekolah darurat di sejumlah titik terdampak. Upaya ini dibarengi penggalangan bantuan, mitigasi, serta pemetaan kebutuhan tiap sekolah.
Pendataan Kebutuhan Mendesak
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, mengatakan pihaknya kini sedang menunggu laporan lengkap dari daerah untuk memproses pengiriman bantuan tambahan. “Kami menunggu info datanya, jika sudah ada maka bisa kami proses pengirimannya. Kami juga terus berkoordinasi dengan Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB),” ujarnya.
Bantuan yang disiapkan Kemendikdasmen meliputi:
-
126 unit Tenda Ruang Kelas Darurat
-
120 paket perlengkapan belajar (school kit)
-
Bantuan Peningkatan Mutu Pembelajaran Rp 25 juta per voucher
-
Bantuan keuangan dan operasional SPAB sebanyak 20 paket
Baca Juga: Peran Polri di Bencana Sumatera, Perangi Kejahatan Lingkungan dari Temuan Kayu-kayu Gelondongan
Dukungan Psikososial dan Distribusi Buku
Dukungan psikososial juga diberikan melalui dua paket bantuan senilai Rp 50 juta per paket untuk warga sekolah di daerah terdampak.
Sementara distribusi bahan ajar mencakup:
-
20.000 eksemplar buku teks
-
15.000 buku non-teks
-
50.000 buku teks dan non-teks tambahan yang segera masuk tahap pengadaan
Baca Juga: Akhir Tahun 2025, Bantuan ATENSI YAPI Telah Masuk di Sekian Daerah Jawa Barat
Program Revitalisasi 2026 Jadi Prioritas
Selain penanganan darurat, pemerintah menyiapkan langkah jangka panjang dengan memprioritaskan wilayah terdampak dalam program revitalisasi pendidikan tahun 2026.
"Kemendikdasmen juga siap memprioritaskan program revitalisasi tahun 2026 untuk daerah terdampak bencana,” tegas Suharti. ***




