POJOKSATU.id, KEMENTERIAN Agama (Kemenag) melalui Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan kembali mengalokasikan dana riset kolaboratif sebesar Rp150 miliar untuk periode 2024–2026.
Program dana riset kolaboratif ini dikemas dalam skema MoRA The Air Fund yang ditujukan bagi dosen Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) dan Ma’had Aly.
“Dosen PTK dan Ma’had Aly dapat memanfaatkan MoRA The Air Fund untuk meningkatkan kualitas penelitian di lingkungan Kemenag,” ujar Kepala PUSPENMA, Ruchman Basori dilansir dari laman resmi Kemenag, Selasa, 2 September 2025.
MoRA The Air Fund menjadi bagian dari program Riset Indonesia Bangkit yang digagas Kemenag bersama LPDP. Dana Rp150 miliar tersebut akan mendukung penelitian kolaboratif dengan empat tema utama, yaitu:
-Sosial Humaniora, Ekonomi, dan Lingkungan (dengan anggaran maksimal Rp500 juta per proposal).
-Kebijakan Layanan Pendidikan dan Keagamaan (maksimal Rp500 juta).
-Sains dan Teknologi (maksimal Rp2 miliar).
-Pengembangan Inovasi yang berdampak pada kemasyarakatan, sosial-ekonomi, dan keagamaan.
“Kesempatan pendanaan riset yang memadai ini harus dimanfaatkan. Para dosen harus semangat menyiapkan proposal yang mampu menjawab tantangan sosial, keagamaan, dan perkembangan sains,” tegas Ruchman.
Baca Juga: Nggak Mau Salah Beli? Ini 7 Tips Memilih GPS Tracker yang Tepat
Persyaratan untuk Periset
Ketua Tim Kerja Kerja Sama Kelembagaan PUSPENMA, Hendro Dwi Antoro, menjelaskan sejumlah syarat untuk dosen PTK yang ingin mendaftar, di antaranya:
-Warga Negara Indonesia;
-Berasal dari Perguruan Tinggi Keagamaan;
-Kualifikasi akademik minimal Doktor (S3) dengan jabatan Lektor;
-Memiliki rekam jejak akademik yang baik dan skor Sinta minimal 50;
-Diutamakan berkolaborasi dengan periset dalam atau luar negeri dari kampus peringkat 500 dunia versi QS World University Rankings.
Sementara itu, dosen Ma’had Aly minimal berpendidikan Magister (S2), memiliki karya akademik sesuai bidang keilmuan, berbahasa Arab, dan mendapat rekomendasi dari Majelis Masyayikh.
Pada tahun 2024, tercatat sekira 350 proposal diajukan, namun hanya 47 periset yang lolos seleksi pendanaan.
Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;
Tahun 2025, PUSPENMA menegaskan pendaftaran dibuka lebih luas bagi dosen dari seluruh PTK, baik di bawah Ditjen Bimas Islam maupun Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, serta Ma’had Aly. ***



