POJOKSATU.id - Kasus stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih menjadi sorotan karena hingga Desember 2023, persentasenya yang besar, yaitu di kisaran 20 persen.
Angka prevalensi balita kasus stunting di KBB juga menempati urutan ketiga tertinggi di Jawa Barat.
Tercatat, kasus stunting di Kabupaten Bandung Barat sedikitnya ada 123 anak yang mengalami stunting di salah satu kecamatan di wilayah tersebut.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) tahun 2013 dan 2014, serta Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) dari tahun 2019 hingga 2022, memang terlihat tren penurunan kasus stunting di Kabupaten Bandung Barat sebagai berikut: 2013 (52,55%), 2014 (36,69%), 2019 (30,80%), 2021 (29,60%), dan 2022 (27,30%).
Baca Juga: Baby Meal Planner (BMP), Solusi Inovatif untuk Menanggulangi Stunting pada Balita di Indonesia
Bupati Bandung Barat, Hengky Kurniawan mengaku sudah mengupayakan agar angka kasus stunting di Kabupaten Bandung Barat terus menurun bahkan nol kasus baru pada tahun 2024.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat konon sudah membentuk 3.933 Tim Pendamping Keluarga (TPK) pada tahun 2022 dan meningkatkan jumlahnya menjadi 4.131 pada tahun 2023.
“Kita juga melakukan pembentukan kader pembangunan manusia di seluruh desa yang ada di Kabupaten Bandung Barat,” katanya.
Informasi yang muncul di permukaan itu, rasanya berbeda dengan realitas yang dihadapi.
Sejumlah guru di Kecamatan Batujajar Kabupaten Bandung Barat yang mendirikan Batujajar Community Care (BCC) sejak tahun 2010 hingga saat ini belum melihat tindakan masif untuk penanganan kasus stunting.
Baca Juga: Srikandi Ganjar Jabar Gencarkan Sosialisasi Pencegahan Stunting
Mengasuh puluhan anak asuh di sekitar SMP Negeri 2 Batujajar, Bandung Barat komunitas ini mulai mengembangkan programnya untuk memperhatikan kondisi kesehatan anak.
"Pada 2010 kami tergerak untuk pro aktif melihat kondisi lingkungan sosial yang terjadi di masyarakat. Minimnya kesadaran masyarakat terhadap pendidikan kurang terserapnya informasi yang baik tentang pengasuhan anak, serta kemampuan ekonomi yang rendah ditambah lagi dengan ketrampilan yang minim," ujar Yuniarti, salah satu pendiri Batujajar Community Care.
Perempuan yang akrab dipanggil Teh Ibey itu menuturkan, umumnya masyarakat di sekitar sekolah yaitu di di Desa Pangauban Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat berada dalam kondisi ekonomi yang kurang mampu.
Hasil wawancara dan survei langsung yang dilakukan oleh BCC menunjukkan bahwa masih ada rumah yang tidak layak huni, serta pola makan yang tidak memadai, dengan sebagian besar penduduk makan kurang dari tiga kali sehari.
Konsumsi makanan seperti ikan, telur, dan terutama daging jarang terjadi.
"Kondisi ini mempengaruhi pertumbuhan tubuh, terlihat dari perkembangan tubuh yang lambat dan tinggi badan yang pendek, yang dapat dikaitkan dengan kekurangan asupan gizi sejak usia dini," ujar Teh Ibey.
Dari survey itu pula, Teh Ibey dan komunitas BCC menemukan fakta bahwa rata-rata orang tua di sekitar wilayah tersebut bekerja dengan pekerjaan yang tidak menentu.
Pekerjaan orangtua mereka kebanyakan adalah buruh tidak tetap, buruh singkup, tukang becak, tukang rongsokan, tukang cuci, tukang nyari rumput, kusir delman, dan tukang tembok.
"Mayoritas dari mereka tidak memiliki penghasilan tetap setiap bulan, yang berdampak pada ketidakstabilan ekonomi keluarga," kata Teh Ibey.
Dalam beberapa kasus, ibu-ibu juga terpaksa menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk mencari nafkah, yang menyebabkan anak-anak ditinggalkan dan tidak mendapatkan pengasuhan optimal dari kedua orang tua.
Tanggung jawab asuhan kemudian diambil alih oleh kakek dan nenek yang mungkin kurang memahami kondisi psikologi anak zaman sekarang.
Kondisi ini memberikan dampak pada peningkatan tingkat kenakalan remaja. Kurangnya kontrol dan mudahnya akses internet membuat banyak anak terpengaruh negatif, seperti merokok pada usia dini, menonton film dewasa, atau bahkan terlibat dalam perilaku berbahaya seperti masuk ke dalam geng motor.
Sebuah wawancara langsung dengan siswa di satu kelas menunjukkan bahwa 15 dari 20 anak laki-laki aktif merokok, dan sejumlah besar siswa pernah menonton film dewasa.
"Situasi ini menegaskan perlunya perhatian lebih pada pengasuhan dan pendidikan anak-anak dalam konteks sosial dan ekonomi yang sulit," ungkap Ibey.
Ditambah lagi ada kondisi motivasi yang rendah, tidak ada role mode, rendahnya cita-cita untuk sekolah tinggi, membuat sebagian besar anak-anak cenderung melanjutkan tradisi kemiskinan orang tua mereka.
"Itu awalnya latar belakang Batujajar Community care hadir dan berdiri. Kami ikhtiar untuk berkontribusi dan berperan aktif sebagai bagian dari masyarakat membuat program orang tua asuh," kata Ibey.
Selain Yuniarti, beberapa guru lain yang turut merintis BCC adalah Atik Susanti, Eti Suprapti, Lilis Nuraeni, dan Aliah.
Karena itu, dibuatlah program tetap BCC Sukses berupa orang tua asuh yang mendonasi pembiayaan pendidikan bagi 1 anak asuh dari 7 orangtua asuh yang berkontribusi setiap bulan.
Juga pengayaan pendidikan dan keterampilan di luar pembelajaran sekolah formal yang dikenal dengan program BCC Aktif.
BCC juga membuat program BCC Senyum sebagai program non regular yang sifatnya tentatif atau sewaktu-waktu saja.
Program itu diantaranya program bantuan sosial, termasuk bukber, bingkisan Lebaran, pembagian sembako, pakaian layak pakai, serta program kembali ke sekolah.
Ada juga distribusi daging qurban. Program ini berhasil menyasar 120 janda dan lansia di enam titik lokasi di daerah Batujajar.
Untuk mengurangi angka prevalensi kasus stunting, para pelajar di SMP Negeri 2 Batujajar menerima pemberian makanan tambahan (Extra Fooding).
Makanan yang disajikan memiliki menu yang bervariatif dan gizi seimbang.
"Awalnya pemberian bubur kacang hijau, masak sendiri dari donatur yang menyumbang celengan ayam," cerita Ibey.
Baca Juga: Menghadapi Stunting, Penyebab, Dampak, dan Langkah-Langkah Pengobatan yang Perlu Diketahui
Lalu seiring waktu sumbangan terkumpul akhirnya bubur kacang disediakan dengan cara membeli setiap hari.
Extra fooding itu diberikan kepada anak-anak selama jam istirahat berupa susu, telur, tahu, tempe dan lainnya dari Senin hingga Jumat. Jumlahnya kurang lebih sekitar 20 hingga 25 anak.
Kelompok anak extra fooding ini per tahun dipilih melalui proses seleksi wawancara dan survei untuk menerima bantuan ini.
Program ini berlangsung selama masih ada sumbangan yang diterima.
Baca Juga: Mengenal dan Mengatasi Stunting pada Anak, Orang Tua Harus Tahu!
Sumbangan-sumbangan itulah yang diatur oleh BCC untuk mendukung kualitas hidup mereka baik pendidikan maupun kesehatan.
"Puskesmas di sekolah pernah mengadakan pemeriksaan untuk anak secara menyeluruh mulai dari mata, telinga, diukur tinggi bdan berat badan, tapi kami tidak tahu tindaklanjut data tersebut untuk apa," tuturnya.
Karenanya, Yuniarti dan para pengurus BCC tak pernah ambil pusing pada program lain.
Sebab faktanya, hingga hari ini aksi peduli BCC menurunkan angka prevalensi di Batujajar, adalah dunia lain yang tak pernah bertemu dengan program kebijakan yang asik sendiri. ***




