POJOKSATU.id - Siapa sangka kardus bekas, tutup botol, batu-batuan sampai gelas plastik bisa menjadi “laboratorium” kecil bagi anak-anak?

Benda yang sehari-hari terlihat sepele itu justru dimanfaatkan untuk mengenalkan Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika atau STEM.

Praktik tersebut dilakukan anak-anak RA Miftahul Falah Dawe dan PAUD Terpadu Kalirejo.

Pembelajaran dibuat dekat dengan lingkungan anak sehingga konsep yang dipelajari tidak berhenti sebagai teori.

Pendekatan itu sejalan dengan peluncuran Program STEM Nasional yang membawa prinsip 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.

Baca Juga: Resep Getuk Kimpul Merah Putih, Jajanan Tradisional Empuk Gurih dengan Taburan Kelapa

Kardus Disulap Jadi Miniatur Sekolah
Di RA Miftahul Falah Dawe, guru Fitria Anggraeni mengajak anak-anak mengerjakan proyek membuat miniatur sekolah dari kardus.

Proyek tersebut ternyata memuat banyak konsep pembelajaran.

Anak-anak tidak sekadar memotong atau menyusun kardus, tetapi juga diajak memikirkan bagaimana bangunan dapat berdiri kokoh.

Mereka menentukan bahan perekat yang akan digunakan, memperkirakan ukuran, sampai menghitung berapa banyak kardus yang diperlukan.

“Untuk teknologinya, bagaimana kardus itu bisa kita gunakan untuk membuat bangunan sekolah. Engineering-nya bagaimana bangunan itu agar tidak roboh. Untuk matematikanya, anak-anak bisa mengambil ukuran dan menghitung berapa kardus yang digunakan,” ujar Fitria saat diwawancara tentang praktik STEM yang sudah ia terapkan di sekolahnya.

Baca Juga: HPN 2026 Jadi Momen Berburu Promo BRI, Ada Diskon Kuliner hingga Belanja Online

Menariknya, Fitria mengaku kegiatan semacam itu sebenarnya sudah cukup sering dilakukan sebelum istilah STEM dikenal lebih luas di lingkungan sekolah.

“Alhamdulillah, sebenarnya sudah banyak kita terapkan dalam pembelajaran, hanya belum tahu bahwa itu namanya STEM,” katanya.

Menurut Fitria, kegiatan eksploratif semacam ini semakin relevan untuk mempersiapkan anak menghadapi perubahan zaman.

“Anak-anak itu harus dibekali kegiatan untuk mencoba, memadukan pembelajaran dengan teknologi, dan juga matematika, karena pengetahuan tentang STEM itu diperlukan di masa depan,” ujarnya.

Baca Juga: Total Lima Bandara Tutup Imbas Erupsi Anak Krakatau, BNPB Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca

Gelas Plastik Jadi Tiang Menara Kudus
Konsep serupa juga diterapkan di PAUD Terpadu Kalirejo yang dipimpin kepala sekolah Sumiyati.

Sekolah tersebut memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di sekitar anak.

Prinsipnya sederhana: benda yang tersedia tidak harus mahal untuk bisa menghasilkan pengalaman belajar yang bermakna.

Dalam prosesnya, anak diajak mengamati benda, memahami kegunaannya, membuat rencana, mencoba berbagai kemungkinan, menghasilkan karya, sekaligus belajar konsep matematika.

Salah satu proyek yang dilakukan adalah membuat miniatur Menara Kudus.

Baca Juga: Garuda Indonesia Buka Opsi Reschedule dan Refund Imbas Erupsi Anak Krakatau

Anak-anak menggunakan gelas plastik sebagai bagian yang menopang bangunan.

Mereka kemudian menentukan bahan untuk bagian atap, menghias miniatur, dan menghitung jumlah tingkatannya.

“Anak-anak tahu kenapa harus pakai gelas untuk membuat tiang, karena mereka tahu gelas ini bisa berdiri. Kemudian mereka menghitung, tadi ada enam tingkatan/susunan dari bawah ke atas,” kata Sumiyati.

Dari satu proyek sederhana, anak-anak ternyata belajar banyak hal sekaligus.

Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Hujani Jakarta, Transjakarta Nonaktifkan Lift dan Eskalator

Mereka mengamati karakter benda, memikirkan fungsi, mencoba menyusun bagian-bagian bangunan, kemudian menggunakan kemampuan berhitung.

Belajar Sambil Bereksplorasi
Bagi Sumiyati, rasa senang selama proses belajar juga menjadi bagian penting dari pembelajaran STEM.

“Anak-anak semakin happy dan menikmati. Dengan alat dan benda yang kami siapkan, mereka lebih banyak bereksplorasi,” ujarnya.

Anak tidak hanya menerima instruksi dari guru. Mereka diberi ruang untuk mencoba, membuat keputusan, melihat hasilnya, kemudian mencari cara lain ketika rancangan awal belum berhasil.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Apakah Bisa Picu Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Sumiyati pun menilai bahwa pendekatan STEM sebenarnya sudah bersinggungan dengan praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan di satuan pendidikan.

“Sebetulnya kita semua sudah melakukan, tetapi belum kita munculkan bahwa itu STEM. Dari inkuiri, berpikir komputasional, hingga Kurikulum Merdeka, semuanya bisa diintegrasikan ke STEM,” katanya.

Dengan demikian, pengenalan STEM pada anak usia dini tidak harus dimulai dari peralatan canggih.

Justru lingkungan sekitar bisa menjadi sumber belajar yang kaya, selama guru mampu mengarahkan rasa ingin tahu anak.

Menyiapkan Saintis Kecil Berkarakter
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menilai rasa ingin tahu anak usia dini perlu dipupuk dan dikembangkan.

Baca Juga: Kenapa Erupsi Gunung Anak Krakatau Disorot Media Internasional? Ini Alasannya

Anak-anak perlu dibantu untuk memahami berbagai peristiwa yang mereka temukan di lingkungan sehari-hari.

Dengan cara tersebut, pengalaman sederhana bisa menjadi pintu masuk untuk membangun kemampuan berpikir sekaligus karakter.

“Kita harus mengarahkan dan memberi arti terhadap peristiwa yang mereka temukan di sekitarnya. Dengan STEM 5M kita harap dapat menyiapkan anak-anak kita menjadi saintis-saintis muda yang berkarakter Pancasila. Saintis yang memiliki akhlak mulia dan yang mengembangkan ilmu berbasis kekayaan alam yang kita miliki sebagai bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Ini Cara Mitigasi Saat Terjadi Hujan Abu

Benda Sederhana, Pengalaman Belajar yang Bermakna
Pembelajaran STEM di RA Miftahul Falah Dawe dan PAUD Terpadu Kalirejo menunjukkan bahwa pendidikan sains tidak selalu membutuhkan ruang laboratorium dengan peralatan mahal.

Kardus bisa mengajarkan konstruksi. Gelas plastik dapat mengenalkan konsep penopang.

Menghitung tingkat bangunan melatih matematika, sementara proses mencoba dan memperbaiki karya menumbuhkan keberanian untuk bereksplorasi.

Nah, dari benda-benda sederhana itulah anak belajar bahwa setiap masalah punya kemungkinan solusi.

Mereka tidak hanya belajar membuat sebuah karya, tetapi juga belajar bertanya, mencoba, gagal, memperbaiki, dan menemukan jawaban dengan cara mereka sendiri.***