POJOKSATU.id – Solidaritas dari dunia kampus terus menyala kuat di Aceh dan Sumatra.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memberi apresiasi tinggi atas langkah cepat berbagai perguruan tinggi di Sumatra yang langsung turun ke lapangan, membantu warga terdampak banjir, longsor, dan dampak Cyclone Senyar.

USK Jadi Tim Pertama Ambil Alih Operasional RSUD Pidie Jaya

Aksi lapangan yang paling menonjol datang dari Tim Medis Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK). 

Baca Juga: Biaya Politik Mahal Prabowo Jadikan Alasan, Pilkada Dikembalikan ke DPRD? Publik Protes!

Ketika Pidie Jaya lumpuh dihantam badai dan infrastruktur layanan kesehatan kolaps, satu tim bergerak cepat dari Banda Aceh, dipimpin dr. Meilya Silvalila.

Tim medis ini bukan sekadar relawan. 

Mereka adalah tim pertama yang berhasil menembus lokasi terdampak dan langsung mengambil alih operasional RSUD Meureudu. 

Tindakan cepat ini menjadi penentu keberlanjutan layanan medis pada masa-masa kritis.

Baca Juga: Cara Lengkap Cek NIK Dosen Secara Online di PDDikti Kemendiktisaintek, Berikut Dua Metode dan Panduan Detailnya

Ketua Satgas Bencana Senyar USK, Syamsidik, menegaskan bahwa kehadiran USK sejak fase darurat awal merupakan bukti nyata komitmen kampus berdampak. 

Tenaga kesehatan USK sudah berada di Pidie Jaya sejak 28 November, membantu memastikan rumah sakit kembali berfungsi.

Baca Juga: Prabowo Tiba Terlambat di Aceh? Banjir Sudah Menghancurkan, Baru Hari Ini Ditinjau

“USK hadir sejak hari paling kritis. Tim medis kita adalah yang pertama mengambil alih operasional RS Pidie Jaya ketika sistem layanan berada dalam tekanan ekstrem. 

Langkah cepat ini bukan hanya soal penyelamatan nyawa, tetapi stabilisasi fasilitas kesehatan agar masyarakat tidak kehilangan akses layanan,” ujarnya.

Sejak hari pertama, tim advance ini langsung menata alur triase, menguatkan instalasi gawat darurat, hingga menjalankan rumah sakit dalam mode darurat penuh. 

Baca Juga: 12 Pelaku Perusak Hutan Baru Dipanggil, Setelah Sumatra Hancur: Terlambatnya Negara!

Tenaga kesehatan yang diterjunkan mencakup spesialis Bedah, Anak, Anestesi, Penyakit Dalam, hingga Ortopedi.

Melihat kebutuhan layanan yang semakin meningkat, USK mengirim gelombang kedua Tim Satgas pada 29 November 2025 dan gelombang ketiga pada 30 November 2025 untuk menjaga ritme kerja dan mencegah kelelahan relawan.

“Hingga hari ini, total tenaga medis USK yang bertugas sudah mendekati 100 orang. 

Baca Juga: Tambahan TPG 100 Persen Jadi Sorotan Tapi Bagaimana Cara Pemerintah Menganggarkannya

Dalam misi tanggap bencana ini, USK mengirim 114 tenaga kesehatan; 65 persen ditempatkan di Pidie Jaya. Bantuan logistik juga mencapai 1.5 ton beras dan 400 kardus air mineral,” jelas Syamsidik.

Universitas Almuslim Bangun Dua Posko Kesehatan Darurat

Tak berhenti di USK, gerak cepat juga datang dari Universitas Almuslim di Kabupaten Bireuen. 

Baca Juga: Expo STEM Tadris Biologi 2025 Pamerkan Puluhan Karya Inovatif Mahasiswa Angkatan 2023

Dekan Fakultas Kesehatan Almuslim, Zumirda, menceritakan bahwa saat akses ke berbagai lokasi terputus dan rumah sakit kewalahan, pihaknya langsung mendirikan dua posko kesehatan darurat.

Posko utama berada di Rumah Sakit Peusangan Raya, sementara posko kedua dibuka di Kampus Universitas Almuslim.

“Kenapa kami buka di RS Peusangan Raya? 

Karena akses ke lokasi lain sudah terputus, BBM habis, dan banyak ambulans terendam. Ambulans yang berfungsi untuk operasional RS Peusangan hanya tinggal satu unit. 

Bahkan kamar operasi RSUD dr. Fauziah juga terendam banjir. Jadi posko ini menjadi penahan arus pasien agar RSUD tidak membludak,” papar Zumirda.

Baca Juga: Prabowo Klaim 97 Persen Aceh Sudah Terang, Faktanya Banyak Desa Masih Tertutup Lumpur

Ia mengungkapkan bahwa hanya dua fasilitas yang benar-benar “hidup” dengan stok obat memadai: RS Peusangan Raya dan RSUD dr. Fauziah. 

Rumah sakit swasta lainnya telah kehabisan obat, sementara jumlah pengungsi—termasuk mahasiswa dan masyarakat—diperkirakan mencapai ratusan ribu jiwa.

Bahkan Zumirda dan beberapa mahasiswa kedokteran, yang juga menjadi korban banjir dan ikut mengungsi, tetap aktif mengoperasikan posko. 

Baca Juga: Terkuak! Kayu Banjir dengan Bekas Chainsaw, Kapolri Ungkap Jejak Kejahatan Hutan yang Disembunyikan

Termasuk angkatan pertama Fakultas Kedokteran Almuslim yang baru satu semester berjalan dan langsung terjun ke lapangan.

“Alhamdulillah hari ini sudah masuk hari ke-11 pascabanjir. Meski kami juga korban, adik-adik mahasiswa dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan tetap turun membantu masyarakat,” ujarnya.

Dengan peralatan seadanya—alat kesehatan fakultas yang berhasil diselamatkan dari banjir—posko mampu menangani sekitar 300 pasien per hari.

Baca Juga: Rencana TPG Bulanan Peluang Besar dan Risiko Besar! Bagaimana Cara Guru Bisa Menyesuaikan Diri?

Mulai dari Basic Life Support (BHD), bedah minor, hingga tindakan bedah mayor.

“Setiap hari rata-rata kami menangani 300 pasien. Tenaga medis kami atur shift pagi dan siang. Untuk malam hari, saya sendiri standby di lokasi sebagai dokter bedah sekaligus koordinator lapangan,” tutur Zumirda.

Ia berharap bantuan tambahan segera hadir, terutama obat-obatan, emergency set, genset, air bersih, dan masker.

Baca Juga: Perusahaan Anak BRI Bukukan Laba Rp8,2 Triliun, Sumbang Hampir 20 Persen bagi Induk

“Saat ini kami sangat membutuhkan bantuan logistik tambahan. Kepada sesama warga terdampak, mari jangan mengeluh, tetap optimis, dan terus berusaha meski sedang diberi ujian,” pesannya.

Kemdiktisaintek Pastikan Bantuan Tepat Sasaran

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, yang mengunjungi Posko Kesehatan Darurat di Peusangan (6/12/2025), menegaskan bahwa kementerian terus berkoordinasi intensif dengan kampus di berbagai wilayah agar bantuan tersalurkan dengan tepat.

Baca Juga: Ada Apa Dengan Jadwal Pencairan TPG? Tidak Pernah Sama Tiap Daerah? Cek Penjelasannya

“Inilah wujud nyata Diktisaintek Berdampak, ketika kampus hadir untuk masyarakat, terutama saat bencana melanda,” tutup Khairul. ***