POJOKSATU.id - Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, masuk dalam 32 nominasi Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari 2026 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup.

Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Sangurejo dalam membenahi lingkungan. 

Padukuhan ini sebelumnya dikenal sebagai kawasan kumuh, sebelum perlahan berkembang menjadi salah satu kampung yang aktif menjalankan berbagai program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Baca Juga: Unesa Skors 6 Mahasiswa hingga 3 Semester karena Pelecehan Seksual Verbal

Program Kampung Iklim sendiri bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPU, terlibat langsung dalam pengembangan ProKlim di Sangurejo.

Menurut Atus, pembenahan dilakukan melalui berbagai bidang, mulai dari pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, pengelolaan sampah, hingga kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Baca Juga: Klise Berita Gagal Jika Ekspor AI API Masih Berlogo

"Berbagai pembenahan melalui pengelolaan lingkungan, konservasi air, pengembangan desa wisata, pengelolaan sampah, serta kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dilakukan oleh Sangurejo," katanya, Selasa (18/8).

Mahasiswa KKN Ikut Belajar dari Sangurejo

Pendampingan ProKlim Sangurejo oleh Atus difokuskan pada penguatan kolaborasi akademik, penelitian, pemberdayaan masyarakat, pembekalan mahasiswa KKN, serta praktikum kurator keanekaragaman hayati.

Baca Juga: Penghargaan Satyalancana Karya Satya untuk 2 Dosen Unsoed Diminta Batal, Dinilai Langgar Integritas Akademik

Status Sangurejo sebagai kampung ProKlim membuat mahasiswa KKN tidak hanya menjalankan kegiatan pengabdian. 

Mereka juga belajar mengidentifikasi potensi lokal, mendokumentasikan praktik pengelolaan lingkungan, mengembangkan edukasi masyarakat, serta mendukung kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Pendekatan tersebut mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat.

Baca Juga: Kepala Inspektorat Banda Aceh Penyuka Sesama Jenis, Kini Diberhentikan Sementara dari Jabatan

Potensi keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, konservasi tanah dan air, penghijauan, pengembangan ekonomi berbasis lingkungan, hingga penguatan kelembagaan masyarakat menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus pemberdayaan.

"Program KKN menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan praktik di masyarakat. 

Mahasiswa dapat belajar dari masyarakat, sementara masyarakat memperoleh dukungan pengetahuan, dokumentasi, dan inovasi yang dapat memperkuat program lingkungan yang sudah berjalan," jelas Atus.

Baca Juga: Pakta Integritas Sekolah Kedinasan 2026, Link Unduh IPDN dan Kemenhub

Sangurejo Bangun Jejaring 12 Mitra Binaan

Perjalanan Sangurejo sebagai ProKlim juga diperkuat melalui pengembangan jejaring mitra binaan.

Berdasarkan Surat Keputusan DLH Kabupaten Sleman, terdapat 12 lokasi mitra binaan Sangurejo, yakni Padukuhan Kuwang, Gondangan, Banjeng, Nganggring, Parakan Kulon, Kranggan II, Sedogan, Dayakan, Koroulon Lor, Kloposawit, Krasaan, Sindon, dan Plosorejo.

Jejaring tersebut memperluas praktik adaptasi perubahan iklim ke wilayah lain sekaligus melibatkan lebih banyak unsur masyarakat.

Baca Juga: Uang Muka Ibadah Haji 2027 Rp 66,6 Miliar Milik Pemerintah RI Diblokir Arab Saudi

Atus menilai jejaring menjadi modal sosial penting untuk menjaga keberlanjutan ProKlim.

"Perguruan tinggi memiliki peran dalam memperkuat basis pengetahuan dan inovasi, sedangkan masyarakat menjadi aktor utama yang menjalankan praktik lingkungan secara berkelanjutan," tambah Atus.

Limbah Kulit Salak Jadi Ecoprint

Salah satu inovasi yang berkembang dalam perjalanan Sangurejo menuju ProKlim adalah pemanfaatan limbah kulit salak sebagai bahan ecoprint.

Produk tersebut dikembangkan masyarakat melalui ECSA (Ecoprint & Craft Sangurejo). 

Karyanya bahkan telah mengikuti berbagai pameran dan menjadi koleksi Hortus Botanicus Leiden di Belanda.

Baca Juga: Pendaftaran STMKG 2026 Dibuka, 130 Formasi, Ini Syarat, Biaya, dan Cara Daftarnya

Pengelolaan sampah juga menjadi bagian penting dari gerakan masyarakat. Kegiatannya mencakup edukasi, pengurangan dan pemanfaatan sampah, serta penguatan kesadaran pengelolaan lingkungan mulai dari tingkat rumah tangga.

Menariknya, gerakan lingkungan di Sangurejo juga tidak hanya menggunakan pendekatan teknis.

Pengembangan ProKlim turut mengintegrasikan pendekatan sosial dan keagamaan melalui nilai ekoteologi atau dakwah ekologi.

Baca Juga: Momen HUT RI, Remaja Putri di Bogor Bundir Karena Kemiskinan, HP-nya Digadai Ayah Buat Makan

Prinsip amanah, keseimbangan atau mizan, serta larangan melakukan kerusakan atau fasad digunakan sebagai landasan moral dalam menjaga lingkungan.

"Implementasinya dilakukan melalui edukasi, penanaman pohon, pengelolaan sampah, konservasi air, dan berbagai aksi lingkungan berbasis masyarakat," ujar Atus.

Berawal dari Kerja Bersama Masyarakat

Pembina ProKlim Sangurejo, Agus Kurniawan, mengatakan perjalanan menuju ProKlim Lestari merupakan proses panjang yang melibatkan masyarakat dan berbagai mitra.

Baca Juga: Keabsahan Ijazah Bakal Calon Kades Karangsegar Dipersoalkan, Warga Ancam Tempuh Jalur Hukum

Persiapan verifikasi dilakukan secara gotong royong. Penguatan keanekaragaman hayati lokal, pengelolaan lingkungan, dokumentasi kegiatan, hingga penataan kawasan menjadi bagian dari persiapan.

Sementara itu, Ketua ProKlim Sangurejo, M. Chairul Huda, mengatakan capaian ProKlim Utama pada 2024 merupakan hasil kerja bersama masyarakat dan pemerintah.

Sangurejo sebelumnya juga memperoleh penghargaan sebagai Padukuhan Tangguh Iklim tingkat Provinsi DIY.

Bagi Atus, nominasi ProKlim Lestari 2026 bukan sekadar tentang mengejar penghargaan.

"Yang terpenting bukan hanya predikatnya, tetapi bagaimana pengetahuan, praktik baik, dan jejaring yang sudah dibangun dapat terus tumbuh. 

Baca Juga: Keabsahan Ijazah Bakal Calon Kades Karangsegar Dipersoalkan, Warga Ancam Tempuh Jalur Hukum

Di sinilah perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dapat bekerja bersama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan," pungkas Atus.

Perjalanan Sangurejo menunjukkan bahwa perubahan lingkungan tidak selalu lahir dari program besar. 

Dari sebuah kawasan yang pernah dikenal kumuh, gerakan yang dibangun bersama perlahan tumbuh menjadi praktik pengelolaan lingkungan yang melibatkan kampus, pemerintah, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat. ***