POJOKSATU.id — Di dunia pesantren tradisional, metode sorogan dan bandongan menjadi cara khas dalam menyampaikan ilmu agama kepada para santri.
Khususnya melalui kitab kuning atau kitab turats yang menjadi bahan utama pembelajaran.
Secara etimologis, sorogan berasal dari bahasa Jawa 'sorog' yang berarti menyodorkan.
Baca Juga: 143 Guru Sekolah Rakyat Mengundurkan Diri? Padahal Sudah Masuk Pembelajaran Tahun Ajaran Baru!
Metode ini memberi kesempatan bagi santri untuk menyodorkan materi yang ingin dipelajari secara personal kepada kiai atau ustaz.
Proses ini memungkinkan adanya interaksi satu lawan satu antara santri dan guru dalam mengkaji kitab secara intensif.
Metode sorogan dipercaya lebih tua dari sistem pesantren itu sendiri, karena sudah dipraktikkan sejak pendidikan Islam berkembang di langgar atau surau di pedesaan.
Baca Juga: MASIH TERBUKA! Pendaftaran Beasiswa GrabScholar 2025 Diperpanjang, Jangan Sampai Terlewat
Ketika itu, anak-anak mengaji langsung kepada ustaz dengan cara menirukan bacaan secara berulang-ulang.
Dalam praktiknya, sorogan memberi fokus penuh pada ketepatan membaca dan menerjemahkan isi kitab.
Santri tidak diperbolehkan melangkah ke pelajaran berikutnya tanpa benar-benar menguasai materi sebelumnya.
Baca Juga: Profil Nirsa Ismi Almanda, Mahasiswi UNJ Juara Nasional di Forum FIP-JIP 2025
Hal ini melatih kesabaran, ketekunan, serta kedisiplinan dalam belajar.
Ilustrasi menarik pernah diungkap Abu Bakar Aceh, dikutip Ridwan Nasir dalam buku Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal: Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan.
Ilustrasi itu menggambarkan suasana pengajian sorogan: kiai duduk di atas sajadah atau kulit kambing, dikelilingi murid-murid dalam berbagai posisi, semuanya menyimak dan mencermati lembaran kitab.
Sementara itu, bandongan berasal dari bahasa Sunda "ngabandungan" yang berarti menyimak dengan saksama.
Dalam bahasa Jawa, bandongan juga dihubungkan dengan kata "bandong" yang berarti rombongan, karena dilakukan secara kolektif oleh banyak santri dalam satu waktu.
Dalam metode bandongan, seorang kiai membacakan kitab kuning, menerjemahkan, sekaligus menjelaskan isi kitab kepada puluhan hingga ratusan santri.
Baca Juga: Profil Nirsa Ismi Almanda, Mahasiswi UNJ Juara Nasional di Forum FIP-JIP 2025
Setiap santri menyimak dengan kitab masing-masing dan mencatat arti atau keterangan penting.
Bahasa pengantar biasanya menggunakan bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, atau Madura.
Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren menyebut bandongan sebagai sistem pengajaran kolektif yang paling umum di pesantren besar, dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi.
Karena dilakukan pada waktu-waktu tertentu, metode ini juga dikenal sebagai wetonan, dari kata "wektu" yang berarti waktu.
Meski berbeda dalam teknis pelaksanaan, sorogan dan bandongan memiliki tujuan yang sama: mentransfer ilmu agama secara mendalam dan terstruktur.
Namun, keduanya dinilai kurang mendorong nalar kritis santri karena minimnya dialog atau sesi tanya jawab selama proses pembelajaran berlangsung.
Meski demikian, kedua metode ini tetap menjadi ciri khas pendidikan pesantren yang hingga kini terus dilestarikan, karena terbukti melahirkan banyak ulama besar yang ahli dalam kajian kitab kuning.
Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat, mudah dan tanpa iklan bisa download aplikasi Pojoksatu.id melalui tautan berikut ini:
Anda juga bisa bergabung dalam saluran Whatsapp Pojoksatu.id atau Fanpage Edugov Pojoksatu.id melalui link di bawah ini:
Demikian artikel tentang perbedaan Sorogan dan Bondongan, metode belajar santri di pesantren.***




