POJOKSATU.id – Sejarah pendidikan di Indonesia selalu dipenuhi paradoks. Negara yang mengaku agraris sering kali mencabut anak-anaknya dari tanah.
Menyuruh mereka belajar di kelas tentang hal-hal yang jauh dari sawah, hutan, dan udara lembab yang seharusnya menjadi bagian dari hidup mereka.
Di tengah kenyataan semacam itu, seorang perempuan bernama Sri Wahyaningsih, akrab disapa Wahya, mencoba membalik arah.
Keresahan itu lahir pada 1988, ketika Wahya yang baru menikah memutuskan tinggal di Desa Lawen, Banjarnegara.
Baca Juga: HONOR Rilis Rangkaian Tablet dan Smartwatch AI, Bikin Produktivitas Makin Maksimal
Desa itu sebetulnya subur, tapi warganya terjebak dalam kemiskinan.
Anak-anak banyak yang putus sekolah, beberapa menikah dini, sementara orang tua seolah tak peduli.
Di sana Wahya melihat sekolah formal tak memberi jawaban.
“Mereka petani, tapi pendidikan tak pernah menyentuh dunia pertanian,” ujarnya suatu ketika.
Dari situlah ia membentuk kelompok belajar yang kemudian menjadi embrio SALAM (Sanggar Anak Alam).
Sejak awal, Wahya menolak bayangan sekolah sebagai tempat yang kaku.
Bagi dia, sekolah tak semestinya menjauhkan anak dari kenyataan.
Bukankah aneh, kata Wahya, jika anak-anak harus memakai sepatu ke sekolah di Papua.
Padahal kaki mereka selama ini terbiasa dengan tanah hutan.
Pendidikan semacam itu bukan memerdekakan, melainkan mencabut mereka dari akar.
Kelompok belajar di Lawen beranggotakan ratusan anak muda.
Mereka berdiskusi, bertukar pengalaman, dan mencari jawaban atas persoalan sehari-hari.
Dari sana Wahya belajar, anak-anak sebenarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar, hanya saja pendidikan formal gagal menyediakan ruang bagi pertumbuhan itu.
Ia lalu merumuskan pendekatan berbasis riset, anak memilih sendiri topik yang dekat dengan kehidupannya, lalu mengembangkannya ke pengetahuan lain.
12 tahun kemudian, Wahya pindah ke Nitiprayan, Yogyakarta.
Di tepi persawahan, berdirilah SALAM versi baru, sebuah model yang lebih terstruktur, lebih organik.
Baca Juga: Tidak Perlu Kursus, Belajar Bahasa Asing Otodidak di Rumah juga Bisa kok, Ini Trik dan Kuncinya
Tahun 2000 sekolah itu hanya berupa pendampingan sore untuk remaja.
Empat tahun berselang lahirlah PAUD, lalu Taman Anak pada 2006, SD pada 2008, SMP pada 2011.
Dan akhirnya SMA pada 2017 atas desakan para orang tua.
Status hukumnya memang hanya PKBM, sebuah kategori non-formal di bawah Dinas Pendidikan.
Tetapi di balik kesederhanaan itu, SALAM memegang teguh semangat awalnya, membebaskan anak dari penyeragaman.
Tidak ada seragam, tidak ada guru yang menggurui, tidak ada ujian berlapis. Anak-anak memilih risetnya sendiri.
Ada yang berkecimpung dalam kajian herbal, tari salsa, kopi, atau shampo organik.
Lalu menautkannya ke dunia yang lebih luas.
Fasilitator hanya mendampingi, bukan memimpin. Evaluasi dibuat naratif, bukan angka.
Hasil riset dipresentasikan dalam pameran atau pertunjukan, kadang dijual di Pasar Legi dan Pasar Ekspresi.
Pengetahuan, dengan demikian, benar-benar melekat pada hidup mereka.
SALAM mungkin tampak sporadis, tapi sesungguhnya berdiri di atas empat pilar, yakni pangan, kesehatan, lingkungan, dan sosial-budaya.
Empat hal itulah yang menopang kehidupan sehari-hari, dan dari situlah pendidikan mesti dimulai.
Baca Juga: LCU UNJ, Lembaga Bahasa dengan Kursus hingga Tes Sertifikasi Internasional
“Kalau sekolah cuma menyeragamkan, anak-anak akan jadi sekrup industri, bukan manusia merdeka,” kata Wahya, mengutip imajinasi kelam Pink Floyd tentang dinding-dinding sekolah.
Pada 2016, SALAM ikut menggagas Jaringan Pendidikan Alternatif.
Dari Nitiprayan, semangat itu menyebar ke banyak daerah.
Sekolah Akar Rumput, Sekolah Tumbuh, hingga puluhan lembaga lain yang menolak logika seragam.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Channel Whatsapp Pojoksatu.id serta Fanpage Edugov
Sejarah SALAM adalah sejarah kecil yang menandai bahwa pendidikan di negeri ini selalu punya jalannya sendiri, di luar tembok sekolah resmi yang dingin dan birokratis.
Sekolah tanpa seragam, tanpa guru, tanpa mata pelajaran, begitulah SALAM berjalan, menulis sejarahnya sendiri sejak dari Banjarnegara.***



