POJOKSATU.ID - Kabar mengenai pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) yang disebut-sebut bakal segera mengucur deras pasca kepulangan Presiden Prabowo Subianto dari kunjungan luar negeri kini mulai dipertanyakan efektivitasnya.
Meski desas-desus yang beredar di masyarakat sempat memicu optimisme bahwa dana segar akan membanjiri rekening mulai tanggal 26, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik.
Jutaan abdi negara kini terjebak dalam ruang tunggu ketidakpastian, memelototi aplikasi perbankan yang tak kunjung menunjukkan notifikasi saldo masuk.
Sementara harga kebutuhan pokok di pasar sudah lebih dulu terbang menyambut hari raya.
Kekecewaan publik kian memuncak karena narasi yang berkembang seolah-olah mengaitkan kepulangan sang pemimpin sebagai tombol otomatis cairnya hak finansial mereka.
Padahal, secara birokrasi, proses distribusi anggaran negara bukanlah perkara membalikkan telapak tangan.
Namun, minimnya transparansi mengenai update harian pencairan membuat spekulasi liar merajalela di media sosial.
Rakyat butuhkan adalah kepastian nominal yang mendarat tepat waktu di dompet mereka untuk menutupi kebutuhan mudik dan dapur yang kian mencekik.
Kini, bola panas ada di tangan kementerian terkait dan instansi perbankan untuk membuktikan bahwa janji tersebut bukan sekadar wacana.
Jika dalam beberapa hari ke depan tanda-tanda dana masuk tetap nihil, maka gelombang pertanyaan diprediksi akan semakin liar.
Publik menuntut lebih dari sekadar prosedur administratif yang berbelit, mereka menuntut hak yang seharusnya menjadi bantalan ekonomi di tengah euforia lebaran yang sudah di depan mata.***




