POJOKSATU.id - Melihat Info GTK centang hijau sering kali membuat guru merasa aman.

Status valid dianggap sebagai tanda bahwa Tunjangan Profesi Guru (TPG) tinggal menunggu waktu cair.

Namun, di balik tampilan yang terlihat meyakinkan itu, terdapat sejumlah celah berbahaya yang kerap diabaikan.

Baca Juga: INFO GTK Sudah Centang Hijau? Ini Alasan Sertifikasi Guru Tetap Bisa Gagal Cair dan Cara Mencegahnya

Celah inilah yang membuat banyak guru “kecolongan”. TPG yang semula diperkirakan cair lancar justru mendadak terhenti, tanpa kesalahan yang disadari guru secara langsung.

Ilusi Aman Setelah Centang Hijau

Salah satu kesalahan paling umum adalah menganggap status valid sebagai kondisi permanen.

Padahal, Info GTK bekerja secara dinamis. Sistem terus membaca data pembelajaran yang terhubung dengan Dapodik.

Baca Juga: LOWONGAN KERJA Samsung Electronics Posisi Junior Legal & Compliance hingga 31 Maret 2026

Artinya, centang hijau hanya mencerminkan kondisi data pada saat itu, bukan jaminan untuk bulan berikutnya.

Ketika terjadi perubahan sekecil apa pun, status valid bisa berubah tanpa peringatan langsung ke guru.

Perubahan Jam dan Rombel yang Sering Dianggap Sepele

Perubahan jam mengajar dan rombongan belajar menjadi celah paling rawan.

Banyak sekolah melakukan penyesuaian karena:

1. Jumlah siswa berkurang

2. Penggabungan atau penghapusan rombel

3. Penataan ulang guru kelas atau mapel

Perubahan ini sering dianggap sebagai hal teknis biasa.

Padahal, bagi sistem Info GTK, perubahan tersebut sangat menentukan kelayakan TPG.

Dampak Arisan Jam yang Masih Terjadi

Praktik arisan jam masih kerap ditemukan, terutama di sekolah dengan jumlah guru lebih banyak dibanding rombel.

Jam mengajar diatur bergantian agar beberapa guru terlihat memenuhi syarat.

Baca Juga: Masih Abu-Abu di Info GTK? Jangan Panik, Ini Penyebab Teknis yang Paling Sering Terjadi

Pada sistem pencairan bulanan, praktik ini justru berbahaya.

Guru yang jamnya diambil atau digeser akan langsung terbaca tidak memenuhi syarat.

Akibatnya, TPG bisa langsung hangus di bulan berjalan.

Studi Kasus di SD dan SMP

Di jenjang SD, kasus umum terjadi ketika hanya tersedia satu rombel, tetapi ada dua guru kelas.

Baca Juga: CAT PPPK Kemenham 2026 Digelar Februari, Ini Kisi-Kisi Soal, Jadwal, dan Sistem Kelulusannya

Guru A divalidkan lebih dulu, lalu di bulan berikutnya diganti guru B.

Sistem membaca perubahan ini sebagai ketidakkonsistenan pembelajaran.

Di SMP, kasus serupa terjadi pada guru mapel. Jam pelajaran dibagi agar beberapa guru bersertifikat terlihat cukup.

Saat pembagian diubah, salah satu guru langsung kehilangan hak TPG.

Cara Membaca Potensi Risiko Sejak Awal

Guru perlu belajar membaca potensi risiko sejak awal semester, antara lain:

1. Apakah jumlah rombel stabil

2. Apakah ada rencana pergantian guru

3. Apakah jam mengajar rawan dibagi

4. Apakah SK sudah sesuai kondisi riil

Baca Juga: Gaji Guru Honorer Rp300 Ribu, Ini Dampak Nyata Kebijakan Upah Rendah terhadap Kualitas Pendidikan Nasional

Jika sejak awal terlihat tidak stabil, maka potensi masalah TPG sangat besar.

Tips Komunikasi Guru dan Operator

Komunikasi menjadi kunci pencegahan.

Guru sebaiknya tidak hanya “menunggu beres”, tetapi aktif berdiskusi dengan operator dan pimpinan sekolah.

Guru perlu memastikan bahwa setiap perubahan data dipahami risikonya.

Operator pun harus berani menyampaikan dampak administratif dari kebijakan pembelajaran yang berubah-ubah.

Dengan komunikasi yang sehat, celah berbahaya di Info GTK dapat diminimalkan dan hak TPG guru tetap terlindungi hingga akhir semester.***