POJOKSATU.id — Ketika membicarakan soal matematika bagi anak usia dini, kita kerap mendengar istilah pra-Matematika dan Matematika usia dini.
Sekilas keduanya terdengar mirip, namun ternyata terdapat perbedaan mendasar yang penting untuk dipahami orang tua maupun guru.
Lalu, apa saja yang membedakan keduanya? Yuk, kita bahas bersama.
Pra-Matematika
Pra-Matematika biasanya dipelajari anak melalui kegiatan sehari-hari atau practical life. Inilah salah satu hal yang membuatnya berbeda dengan Matematika Usia Dini. Bahkan, proses ini sudah bisa dimulai sejak anak berusia 2 tahun.
Baca Juga: Masukan DPD RI: Senator Mirah Desak Pemerintah NTB Segera Tetapkan Status Darurat Kekeringan
Nah, berikut beberapa ciri utama pra-Matematika:
1.Harus selesai sebelum Matematika Usia Dini dimulai
Anak perlu menguasai keterampilan dasar, seperti kemampuan mengamati, mengingat informasi, serta koordinasi mata dan tangan.
2.Belum melibatkan simbol
Kegiatan sederhana, seperti mengancingkan baju, sudah termasuk pra-Matematika karena melatih pemahaman anak tentang keterhubungan.
3.Tidak berurutan
Kegiatan pra-Matematika tidak disajikan secara bertahap, melainkan diperkenalkan melalui materi dan lingkungan yang sudah disiapkan.
Anak bebas memilih aktivitas yang diminatinya.
4. Mengutamakan pengalaman multisensori
Fase ini tidak ditawarkan lewat pensil dan kertas, melainkan lewat pengalaman nyata. Gerakan tubuh membantu anak memahami ruang dan arah.
Baca Juga: Hasil Tes DNA Ridwan Kamil Lisa Mariana Mungkin Keluar Pekan Ini, Ini Kata Pengacara Dua Kubu
Jika diibaratkan, pra-Matematika adalah fondasi bangunan: tidak terlihat, tetapi sangat penting untuk menopang kemampuan matematika anak di tahap selanjutnya.
Matematika Usia Dini
Berbeda dengan pra-Matematika, Matematika Usia Dini sudah mulai mengenalkan simbol dan konsep yang lebih konkret. Namun, tetap harus dicapai setelah anak matang dalam pra-Matematika.
Berikut beberapa ciri khas Matematika Usia Dini:
1.Dimulai setelah pra-Matematika matang
Anak baru siap mempelajari Matematika Usia Dini jika fondasi pra-Matematika sudah terbentuk dengan baik.
2.Sudah melibatkan simbol
Anak mulai diperkenalkan pada simbol matematika, biasanya melalui benda konkret sebelum akhirnya abstrak.
3.Ada tingkatan kesulitan
Prosesnya berurutan: anak mengenal simbol dulu, baru belajar penjumlahan dan pengurangan. Perkalian pun baru bisa dipahami setelah anak mengenal tingkatan bilangan.
4.Ada lembar kerja sederhana
Setelah anak mengenal simbol, barulah ia mulai mengerjakan lembar kerja dengan tingkat kesulitan yang sesuai. Matematika sendiri adalah bahasa universal yang disepakati oleh masyarakat dunia.
Anak tidak bisa melompati tahapannya. Itu sebabnya, Matematika Usia Dini tidak akan efektif jika pra-Matematika belum dikuasai.
Begitu pula, Matematika di Sekolah Dasar akan sulit dipahami jika Matematika Usia Dini tidak matang.
Bapak dan Ibu, memahami perbedaan antara pra-Matematika dan Matematika di Usia Dini sangatlah penting. Dengan begitu, kita bisa mendampingi anak sesuai fase perkembangannya tanpa degreases.
Ingat, setiap anak punya waktunya masing-masing untuk siap menghadapi tahapan baru.***




