POJOKSATU.id - Jadwal perkuliahan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) kembali menjadi sorotan. Ini terkait, informasi padatnya aktivitas akademik hingga libur yang hanya sehari di semester 1 dan sehari di semester 2.
Hal ini membuat banyak calon guru mempertanyakan efektivitas, kesehatan mental, serta batas kewajaran beban studi dalam program yang menjadi pintu masuk profesi guru di Indonesia ini.
Kunci tentang padatnya PPG dan minimnya hari libur ini mencerminkan persoalan yang lebih luas.
Bagaimana standar persiapan guru dirancang, dan apakah sistem yang sangat intensif benar-benar menghasilkan guru yang kompeten, atau justru membuat calon pendidik kelelahan sebelum memasuki dunia kerja.
Baca Juga: Menguak Statistik BPS, Provinsi Mana Saja Punya Indeks Literasi Terendah di 2024-2025?
Kebijakan PPG dan Padatnya Kegiatan Akademik
Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dirancang sebagai tahap profesional untuk mempersiapkan tenaga pendidik yang kompeten.
Dalam praktiknya, PPG jalur prajabatan memiliki struktur kurikulum yang intensif, mencakup pembelajaran teori, praktik mengajar, asesmen kompetensi, hingga proyek tugas akhir.
Namun laporan lapangan menunjukkan bahwa jadwal PPG semakin padat dari tahun ke tahun.
Banyak peserta mengungkapkan bahwa break semester hanya diberikan satu hari, baik pada penutup semester 1 maupun semester 2. Artinya, transisi dari semester ke semester berlangsung sangat cepat tanpa jeda pemulihan.
Baca Juga: Popbela Dorong Edukasi Kecantikan yang Lebih Inklusif dan Sehat
Padahal beban akademik PPG mencakup:
1. Tatap muka sinkron berjam-jam setiap hari
2. Pembelajaran asinkron mandiri
3. Proyek individu dan kelompok
4. Praktik mengajar di sekolah mitra
5. Asesmen formatif dan sumatif yang intens
6. Pelaksanaan program pengabdian atau refleksi praktik
Struktur ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah padatnya aktivitas akademik sudah sejalan dengan tujuan pembentukan calon guru berkualitas?
Baca Juga: EVP 2025: Perkuat Kepedulian Sosial bagi Pasien Tidak Mampu di Jawa Barat
Suara Mahasiswa: Antara Dedikasi dan Tekanan
Calon guru peserta PPG banyak melaporkan pengalaman yang sama, yakni jadwal yang padat membuat mereka kesulitan mengatur ritme belajar, istirahat, dan kesehatan mental.
Banyak yang merasa kelelahan fisik dan emosional akibat rangkaian kegiatan yang berlangsung tanpa jeda memadai.
Beberapa pengalaman yang kerap muncul di kalangan mahasiswa PPG meliputi:
Satu, aktivitas akademik berlangsung hampir setiap hari, dengan sinkronisasi daring yang memakan waktu panjang.
Mahasiswa harus selalu siap dengan tugas presentasi, diskusi, maupun simulasi pembelajaran.
Baca Juga: Kejari Jakbar Eksekusi Terpidana Wijanto Tirtasana ke Lapas Cipinang
Dua, waktu istirahat minim karena beban tugas yang harus diselesaikan dalam satuan waktu pendek.
Banyak mahasiswa menyebut tidur larut sebagai rutinitas ketika mengejar tenggat.
Tiga, praktik mengajar di sekolah mitra membutuhkan energi besar karena mahasiswa harus mempersiapkan perangkat ajar, observasi kelas, hingga refleksi harian.
Empat, break antar semester yang hanya satu hari membuat banyak peserta merasa seperti tidak pernah libur, sehingga tidak ada ruang untuk pemulihan mental.
Pada akhirnya, tekanan akademik yang terlalu besar dikhawatirkan memengaruhi kualitas pembelajaran dan motivasi calon guru itu sendiri.
Baca Juga: Literasi Itu Lebih dari Bisa Baca: Ketika Siswa Tak Bisa Pahami Teks, Apa Dampaknya Bagi Masa Depan?
Kekhawatiran Pakar Pendidikan: Risiko Kelelahan Akademik
Beberapa pakar pendidikan menilai bahwa padatnya jadwal pendidikan profesi harus dilihat secara hati-hati.
Standar profesional memang penting untuk memastikan guru memiliki kompetensi tinggi.
Namun pelaksanaan program tidak boleh mengabaikan faktor kelelahan, stres, dan burnout.
Pendidikan profesi yang terlalu padat berisiko:
1. Menurunkan kualitas pembelajaran
2. Mengurangi kreativitas calon guru
3. Menghambat refleksi mendalam
4. Meningkatkan stres kronis
5. Mengurangi motivasi untuk terus berkembang dalam profesi
Guru adalah profesi yang menuntut empati, kesabaran, dan stabilitas emosional.
Jika calon guru sudah mengalami kelelahan sejak masa pendidikan, maka kualitas pembelajaran yang kelak diberikan pun bisa terpengaruh.
Apakah Sistem PPG Efektif Membentuk Guru Profesional?
Pertanyaan besar yang muncul: apakah padatnya jadwal benar-benar berbanding lurus dengan kualitas guru yang dihasilkan?
Beberapa analisis menilai bahwa kualitas pendidikan profesi bukan hanya ditentukan oleh intensitas jam belajar.
Tetapi oleh kualitas bimbingan dosen, kedalaman refleksi praktik mengajar, suasana pembelajaran yang sehat, keseimbangan teori dan praktik, kesehatan mental peserta, serta ruang untuk eksplorasi pedagogis
Jika ruang jeda tidak disediakan, peserta justru tidak maksimal dalam menyerap kompetensi.
Proses pembelajaran menjadi sekadar menyelesaikan tugas, bukan memahami esensi profesi guru.
Baca Juga: Baru Selesai 16 Ribu Sekolah, Prabowo Minta Maaf dan Incar Perbaikan 60 Ribu Tahun Depan
Evaluasi Sistem dan Harapan Calon Guru
Banyak calon guru berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap desain kalender akademik PPG. Beberapa usulan yang muncul dari lapangan antara lain:
1. Penambahan jeda antar semester
2. Penyesuaian beban tugas agar lebih manusiawi
3. Pelatihan konseling akademik untuk mendukung kesehatan mental peserta
4. Penyesuaian jadwal praktik agar tidak bentrok dengan tugas teori
5. Keseimbangan yang lebih baik antara sinkron & asinkron
Kesadaran bahwa profesi guru adalah tulang punggung pendidikan nasional harus menjadi alasan utama untuk menghadirkan sistem PPG yang tidak hanya ketat, tetapi juga manusiawi.
Baca Juga: Ratusan Laskar FPI Karawang Pastikan Hadir di Reuni 212
Calon Guru Butuh Ruang Napas
Kualitas guru masa depan tidak hanya ditentukan oleh ketatnya kurikulum, tetapi oleh keseimbangan antara tuntutan akademik dan ruang untuk tumbuh sebagai individu.
Jadwal PPG yang hanya memberi libur sehari per semester memunculkan kekhawatiran serius tentang kesejahteraan calon guru.
Jika tujuan PPG adalah menghasilkan pendidik profesional, maka program harus memastikan peserta berada dalam kondisi sehat, stabil, dan termotivasi.
Beban belajar yang sangat tinggi tanpa jeda memadai hanya akan membentuk kelelahan, bukan kompetensi.
Baca Juga: 10 Olahraga Bela Diri yang Membangun Kekuatan, Ketahanan, dan Disiplin Diri
Pendidikan yang baik membutuhkan guru yang kuat, bukan hanya secara akademik, tetapi juga secara emosional. ***




