POJOKSATU.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) masuk dalam daftar 13 universitas di Indonesia yang masuk radar pemantauan integritas riset dunia versi Research Integrity Risk Index 2024.

Meski demikian, Rektor ITB, Prof Tatacipta Dirgantara, menegaskan bahwa secara keseluruhan, posisi ITB dalam indeks tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan banyak universitas di Malaysia.

"Jadi memang masalah integritas riset itu jadi perhatian kita betul, ya. Tapi meskipun kami masuk daftar pemantauan, dibanding Malaysia kami masih lebih bagus. Kalau ITB ya, dari sisi integritas," ungkap Tata dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (31/7/2025).

Tidak Selevel Negara Maju?

Menurut Tata, publik sebaiknya tidak langsung membandingkan kualitas dan etika riset perguruan tinggi di Indonesia dengan kampus-kampus di negara maju.

Baca Juga: Kemdiktisaintek Sosialisasikan ANUGERAH KERJA SAMA DIKTISAINTEK 2025, Ada Tiga Lomba, Untirta Dukung visi KAMPUS BERDAMPAK

Pasalnya, sistem dan platform tempat publikasi yang digunakan para peneliti di Indonesia umumnya belum sekelas dengan platform yang ada di luar negeri.

"Kalau dibandingkan dengan negara maju yang ekosistemnya berbeda, ya memang kita enggak bisa bandingkan," katanya.

Tata menjelaskan bahwa banyak penulis di Indonesia adalah pemula yang masih mempublikasikan hasil riset di jurnal-jurnal dengan reputasi yang belum sekelas jurnal negara maju.

Ini yang kemudian membuat riset-riset dari Indonesia, termasuk ITB, dianggap berisiko secara integritas.

Masuk Daftar Kuning, Tapi Masih Wajar

ITB tercatat berada di peringkat ke-354 dari 1.500 universitas dunia yang masuk dalam indeks tersebut, dan berada dalam kategori watch list alias dalam pemantauan.

Menurut Tata, status "kuning" atau dalam pengawasan bukan berarti hasil penelitian kampusnya buruk.

Baca Juga: 13 Kampus Indonesia Disorot Soal Riset, UI hingga ITB Masuk Daftar Pengawasan

"ITB itu integritas kita meskipun masuk kuning tapi sebetulnya itu masih dalam konteks wajar," ujarnya menegaskan.

Secara umum, ia juga menekankan bahwa kualitas riset di Indonesia tidak bisa dianggap rendah, terlebih jika dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan ASEAN.

Baca Juga: Kabar BaiK untuk PTKIN dan PTKIS, Kemenag Resmi Buka Pendaftaran Perguruan Tinggi Penyelenggara KIP Kuliah 2025, Ini Syaratnya

"Indonesia itu lumayan sebetulnya. Jangan hanya melihat 'oh Indonesia jelek', nanti bisa dilihat perbandingannya dengan kampus-kampus top ASEAN lainnya," kata Tata.

Daftar Kampus Indonesia dengan Integritas Riset Diragukan

Research Integrity Risk Index 2024 yang disusun oleh Profesor Lokman Meho dari Universitas Amerika di Beirut menilai risiko institusional dalam integritas riset dari 1.500 universitas di dunia.

Ada lima kategori penilaian:

  • Low Risk
  • Normal Variation
  • Watch List
  • High Risk
  • Red Flag

Berikut 13 kampus dari Indonesia yang masuk dalam daftar:

  1. Binus University — peringkat 11 (Red Flag)

  2. Universitas Airlangga — peringkat 40 (Red Flag)

  3. Universitas Sumatera Utara — peringkat 49 (Red Flag)

  4. Universitas Hasanuddin — peringkat 69 (Red Flag)

  5. Universitas Sebelas Maret — peringkat 86 (Red Flag)

  6. Universitas Diponegoro — peringkat 152 (High Risk)

  7. Universitas Brawijaya — peringkat 155 (High Risk)

  8. Universitas Padjadjaran — peringkat 177 (High Risk)

  9. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) — peringkat 233 (Watch List)

  10. Universitas Indonesia — peringkat 266 (Watch List)

  11. Institut Teknologi Bandung (ITB) — peringkat 354 (Watch List)

  12. Institut Pertanian Bogor (IPB) — peringkat 358 (Watch List)

  13. Universitas Gadjah Mada (UGM) — peringkat 363 (Watch List)

Budaya Riset Sejak Dini

Masuknya 13 universitas Indonesia ke dalam daftar pemantauan integritas riset ini bisa jadi alarm bagi dunia pendidikan tinggi.

Baca Juga: Daftar 9 Prodi FISIP Unpad Raih Akreditasi FIBAA, Berlaku hingga Juni 2030

Ini bukan soal siapa yang salah, tapi tentang bagaimana memperkuat research culture sejak dini—dari pelatihan akademik, etika publikasi, hingga sistem pengawasan internal kampus.

Tata menyebutkan, ITB siap melakukan perbaikan sistemik agar kejadian serupa tidak menjadi preseden negatif ke depan.

Bagaimana menurut Anda? Di bagian bawah artikel, tulis tanggapan di kolom komentar ya.

Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami: