POJOKSATU.ID - Isu mengenai kembalinya Ujian Nasional (UN) menjadi perbincangan hangat di kalangan para pendidik dan orang tua.
Beberapa pihak berpendapat bahwa UN masih perlu dipertahankan sebagai alat ukur keberhasilan pendidikan, sementara yang lain merasa bahwa sistem ini sudah tidak lagi relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini.
Salah satu yang memberikan pandangan menarik tentang hal ini adalah Ibu Itje Chodidjah, seorang Dewan Pakar dari Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK).
Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan melalui kanal YouTube PSPK pada 10 November 2024, Ibu Itje berbicara dengan penuh ketegasan dan empati mengenai pandangannya tentang Ujian Nasional dan dampaknya terhadap generasi muda Indonesia. Mari kita simak pemikirannya.
Salah satu masalah utama yang sering dibicarakan adalah relevansi UN di tengah perkembangan dunia yang semakin modern.
Ibu Itje menjelaskan bahwa meskipun UN digunakan untuk menilai kompetensi siswa, ia merasa bahwa ujian ini tidak cukup memberikan gambaran menyeluruh tentang kemampuan siswa.
"Pendidikan tidak seharusnya hanya diukur dari satu titik, yaitu ujian," katanya.
Ia menilai bahwa sistem ini lebih memfokuskan pada materi yang diujikan, sementara hal-hal penting seperti keterampilan hidup dan kreativitas siswa seringkali terabaikan.
Bagi Ibu Itje, Ujian Nasional seringkali menempatkan siswa dalam tekanan yang besar, tanpa memperhatikan kondisi mereka secara individu.
“Pendidikan bukanlah penjara yang menakutkan,” ujar beliau.
Ia merasa bahwa mengukur kualitas pendidikan melalui ujian yang terbatas justru mengabaikan kemampuan sebenarnya yang perlu dimiliki oleh siswa, seperti kemampuan berpikir kritis dan kreativitas.
Ibu Itje juga mengkritik penggunaan teknologi untuk "mengawasi" ujian, yang justru bisa menciptakan ketakutan, bukannya membantu siswa untuk berkembang.
Menurut Ibu Itje, teknologi dalam pendidikan seharusnya digunakan untuk mendukung proses pembelajaran, bukan untuk mengawasi siswa.
“Teknologi bisa menjadi alat yang luar biasa jika digunakan untuk membantu anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan dan efektif,” jelasnya.
Ia berpendapat bahwa teknologi tidak perlu digunakan untuk memantau ujian, karena itu justru akan mengalihkan fokus siswa dari pembelajaran yang sesungguhnya.
Baca Juga: UNPAR Diteror Lewat Surat Kaleng, Begini Isi Ancamannya!
Ibu Itje menyarankan bahwa penilaian siswa tidak hanya mengandalkan ujian tertulis seperti UN.
Sebagai alternatif, dia mendukung sistem penilaian berbasis kompetensi yang lebih holistik, seperti Asesmen Nasional (AN) yang lebih mengutamakan pengembangan keterampilan dan kemampuan praktis siswa, bukan sekadar nilai ujian.
"Penilaian yang lebih fleksibel dan berbasis kompetensi akan lebih mencerminkan kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan dunia nyata," katanya.
Ibu Itje juga menyoroti dampak dari UN terhadap keadilan bagi siswa di seluruh Indonesia.
Banyak siswa, terutama di daerah dengan fasilitas pendidikan terbatas, merasa kesulitan dalam mengikuti ujian.
Tanpa adanya pemerataan kualitas pendidikan, hasil ujian pun tidak bisa dijadikan tolok ukur yang adil bagi semua siswa.
Ibu Itje mengingatkan bahwa setiap siswa memiliki potensi yang berbeda-beda dan pendidikan seharusnya bisa menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Bagi Ibu Itje, pendidikan harus lebih dari sekadar menyiapkan siswa untuk ujian.
Ia percaya bahwa tujuan utama pendidikan adalah mengembangkan potensi siswa secara menyeluruh, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.
"Anak-anak kita harus diberi kesempatan untuk belajar dan berkembang sesuai dengan minat dan bakat mereka, bukan hanya untuk lulus ujian," ujarnya.
Isu mengenai kembalinya Ujian Nasional memang memerlukan perhatian kita semua, terutama dalam melihat apakah sistem pendidikan yang ada sudah mencerminkan kebutuhan zaman.
Seperti yang disampaikan oleh Ibu Itje, kita perlu berpikir lebih jauh tentang bagaimana cara kita menilai siswa.
Tidak hanya dengan melihat hasil ujian, tetapi dengan menilai kemampuan mereka dalam berbagai aspek kehidupan.
Pendidikan seharusnya menjadi sarana untuk mengembangkan potensi setiap siswa, bukan hanya untuk mencapai angka atau nilai tertentu.***



