POJOKSATU.id - Pernah bilang “mager” saat diajak pergi? Atau menyebut seseorang “kepo” karena terlalu ingin tahu urusan orang lain?

Istilah-istilah seperti itu sudah sangat akrab dalam percakapan sehari-hari.

Menariknya, sejumlah bahasa yang identik dengan gaya bicara anak muda tersebut ternyata sudah memiliki tempat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Jadi, kata yang terdengar santai dan sering muncul dalam obrolan atau media sosial ternyata tidak selalu sekadar bahasa pergaulan.

Baca Juga: Momen Kepala BGN Sudaryono Dicecar Nasib Sisa MBG, Jawabannya Jaka Sembung Mampir Kota Buol, Kagak Nyambung puooll

Ada “mager”, misalnya. Kata ini merupakan akronim dari “malas bergerak”.

Dalam KBBI, mager bermakna enggan atau sedang tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas.

Kemudian ada “gabut”. Istilah yang sering dipakai ketika seseorang sedang tidak punya kegiatan ini merupakan akronim dari “gaji buta”.

Dalam penggunaannya, gabut juga berkaitan dengan kondisi tidak melakukan apa pun hingga merasa bosan atau tidak memiliki pekerjaan.

Nah, kalau “baper”, istilah ini juga tidak kalah populer. Baper merupakan bentuk dari “terbawa perasaan”.

Baca Juga: Dua Brigjen Dilaporkan ke Puspom TNI Terkait Dugaan Penyerobotan Bangunan Cagar Budaya di Menteng

Maknanya merujuk pada sikap berlebihan atau terlalu sensitif ketika menanggapi suatu hal.

Tak heran kalau istilah ini sering muncul ketika seseorang dianggap terlalu memasukkan sebuah perkataan atau kejadian ke dalam hati.

Ada pula “julid”. Kata ini biasanya langsung dikaitkan dengan kebiasaan memberikan komentar negatif terhadap orang lain.

Dalam KBBI, julid berkaitan dengan sikap iri dan dengki terhadap keberhasilan orang lain, yang biasanya ditunjukkan melalui komentar, status, atau pendapat di media sosial yang menyudutkan seseorang.

Baca Juga: Goresan Pensil Fakih Bikin Potret Bupati Aep Tampak Hidup

Sementara itu, “lebai” digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang berlebihan.

Kata tersebut merujuk pada tindakan atau ekspresi yang berlebih-lebihan dalam menunjukkan sesuatu.

Dalam percakapan sehari-hari, istilah ini kerap digunakan ketika seseorang dinilai terlalu dramatis dalam merespons sebuah keadaan.

Kalau sudah bicara soal “cuan”, istilah ini mungkin paling sering terdengar dalam pembahasan bisnis, pekerjaan, sampai investasi.

Cuan berarti keuntungan atau laba. Dalam penggunaan sehari-hari, kata tersebut biasa digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang memperoleh keuntungan dari suatu transaksi atau kegiatan ekonomi.

Baca Juga: Bukan Cuma Pengganti Kopi, Hanjeli Sukabumi Disiapkan Jadi Produk Unggulan Bernilai Jual

Terakhir ada “kepo”.

Istilah ini digunakan untuk menyebut rasa ingin tahu yang berlebihan, terutama mengenai kepentingan atau urusan orang lain.

Maknanya terasa sangat dekat dengan kebiasaan di media sosial, ketika seseorang begitu penasaran dengan kehidupan orang lain sampai ikut mencari tahu berbagai hal yang sebenarnya bukan urusannya.

Kehadiran istilah-istilah tersebut di KBBI menunjukkan bahwa perkembangan bahasa berjalan mengikuti pemakaian masyarakat.

Bahasa anak muda yang awalnya terdengar tidak resmi bisa berkembang menjadi istilah yang dikenal luas dan akhirnya tercatat dalam kamus.

Baca Juga: Hadir di Puncak 100 Tahun Gontor, Presiden Prabowo Terima Hadiah Istimewa Mushaf dan Buku Sejarah!

Meski begitu, penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan konteks, terutama dalam situasi formal.

Jadi, mulai sekarang kalau mendengar “mager”, “gabut”, “baper”, “julid”, “lebai”, “cuan”, atau “kepo”, jangan buru-buru menganggapnya sekadar bahasa gaul.

Beberapa di antaranya ternyata sudah punya makna yang terdokumentasi dalam kamus bahasa Indonesia.***