POJOKSATU.ID - Masalah food waste atau pemborosan makanan kembali menjadi sorotan di 2026.

Di tengah upaya pemerintah menyalurkan bantuan sosial dan menjaga ketahanan pangan, ironinya masih banyak makanan terbuang sia-sia setiap hari.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar bagaimana mungkin makanan dibuang, sementara masih banyak masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan?

Food waste bukan sekadar persoalan sisa makanan di rumah atau restoran.

Baca Juga: Wow! 4 Kasus Korupsi Terbesar 2025 Terbongkar! Ada yang Sentuh Rp285 Triliun, Libatkan Menteri hingga Raja Minyak

Ini adalah masalah sistemik yang berdampak pada ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Data dan berbagai kajian menunjukkan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat pemborosan makanan yang tinggi.

Di sisi lain, pemerintah terus menyalurkan bantuan sosial (bansos) seperti bantuan pangan, sembako, dan program perlindungan sosial lainnya untuk membantu masyarakat rentan.

Fakta bahwa bansos masih sangat dibutuhkan menunjukkan bahwa akses terhadap makanan belum merata.

Baca Juga: Jangan Asal Ikut Promo, Ini Panduan Berpikir Sebelum Tambah Daya PLN

Banyak keluarga bergantung pada bantuan pangan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Namun pada saat yang sama, makanan layak konsumsi justru berakhir di tempat sampah, baik dari rumah tangga, pasar, hingga pelaku usaha makanan.

Food waste membawa dampak yang jauh lebih luas dari sekadar pemborosan.

Dari sisi ekonomi, makanan yang terbuang berarti hilangnya nilai uang, tenaga, dan sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya.

Dari sisi lingkungan, pemborosan makanan berkontribusi pada emisi gas rumah kaca, terutama dari limbah organik yang membusuk di tempat pembuangan akhir.

Ini memperparah krisis iklim dan merusak keberlanjutan lingkungan.

Sementara dari sisi sosial, food waste mencerminkan ketimpangan satu pihak membuang makanan, sementara pihak lain kesulitan mendapatkannya.

Baca Juga: Listrik Rumah Sering Boros Padahal Daya Kecil? Jawabannya Ada di Promo PLN 2026

Memasuki 2026, tantangan pangan tidak semakin ringan.

Perubahan iklim, fluktuasi harga pangan, serta tekanan ekonomi global membuat pengelolaan pangan menjadi isu krusial.

Dalam konteks ini, mengurangi food waste menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Pemerintah terus mendorong program bantuan pangan dan penguatan cadangan pangan.

Baca Juga: AC hingga EV Charger Jadi Beban, Alasan Rumah 2026 Tak Bisa Bertahan dengan Daya Lama

Namun, upaya ini perlu didukung oleh kesadaran masyarakat agar makanan tidak berakhir sia-sia.

Kesadaran menghargai makanan harus dimulai dari hal sederhana.

Mengambil porsi secukupnya, menyimpan makanan dengan benar, hingga memanfaatkan sisa makanan secara bijak adalah langkah kecil yang berdampak besar.

Bagi pelaku usaha makanan, pengelolaan stok dan distribusi yang lebih baik dapat membantu menekan pemborosan.

Sementara itu, kolaborasi dengan komunitas sosial untuk menyalurkan makanan berlebih yang masih layak konsumsi juga bisa menjadi solusi nyata.

Mengurangi food waste bukan hanya soal empati, tetapi juga tanggung jawab bersama dalam menjaga sumber daya.

Setiap makanan yang tidak terbuang berarti membantu mengurangi tekanan pada sistem pangan dan memberi ruang bagi lebih banyak orang untuk mendapatkan hak dasarnya.

Di saat masih banyak masyarakat membutuhkan makan dan bansos, 2026 seharusnya menjadi momentum untuk lebih sadar bahwa makanan bukan sekadar konsumsi, melainkan amanah yang harus dijaga dan dihargai.***