POJOKSATU.id – Upaya pencegahan stunting tidak cukup hanya mengandalkan pemenuhan gizi.
Penguatan fungsi keluarga sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi fondasi penting untuk memastikan tumbuh kembang anak berlangsung optimal sekaligus mencetak sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul.
Pesan tersebut disampaikan Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University, Dr. Tin Herawati, dalam materi Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB).
Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama sekaligus paling berpengaruh dalam menentukan kualitas kehidupan seorang anak.
Ia menjelaskan bahwa seluruh fungsi keluarga harus dijalankan secara utuh agar mampu memenuhi kebutuhan fisik, emosional, sosial, dan psikologis anak sejak awal kehidupan.
"Kualitas pengasuhan anak pada periode 1.000 HPK sangat menentukan kualitas anak di masa yang akan datang.
Dampak kerusakan yang terjadi pada periode ini dapat bersifat permanen dan berjangka panjang. Karena itu, keluarga harus menjalankan fungsi-fungsinya secara optimal sebagai fondasi lahirnya SDM Indonesia yang berkualitas," ujarnya.
Periode Emas yang Menentukan Masa Depan Anak
Dr. Tin menjelaskan bahwa periode 1.000 HPK dimulai sejak masa kehamilan selama sekitar 270 hari hingga anak mencapai usia dua tahun atau sekitar 730 hari.
Rentang waktu tersebut dikenal sebagai periode emas karena perkembangan otak berlangsung sangat cepat, bahkan lebih dari satu juta koneksi saraf baru dapat terbentuk setiap detiknya pada awal kehidupan.
Baca Juga: Jangan Terburu-buru, Revisi UU Hak Cipta Diminta Utamakan Transparansi dan Kepastian Hukum
Pada masa inilah anak membutuhkan asupan gizi yang cukup, kasih sayang, lingkungan yang aman, serta stimulasi yang sesuai agar pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan pembentukan karakter berlangsung secara optimal.
Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, dampaknya tidak hanya meningkatkan risiko stunting, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan belajar, kesehatan, produktivitas, hingga kualitas hidup seseorang ketika dewasa.
Selain itu, pengasuhan yang kurang optimal juga dapat menghambat pembentukan hubungan emosional yang aman (secure attachment) antara orang tua dan anak, sehingga berpotensi memunculkan berbagai persoalan perilaku maupun perkembangan psikologis di kemudian hari.
Baca Juga: IDI Tegaskan Dokter Icha Lakukan Tugas Sesuai SOP, Sudah Konsul Spesialis Ular Berbisa
Delapan Fungsi Keluarga Harus Berjalan Seimbang
Dalam paparannya, Dr. Tin menegaskan bahwa pencegahan stunting membutuhkan implementasi delapan fungsi keluarga secara menyeluruh, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan pangan.
Delapan fungsi tersebut meliputi fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan.
Menurutnya, seluruh fungsi tersebut saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat, harmonis, dan mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
"Peran dan tanggung jawab seluruh anggota keluarga, mulai dari Ayah dan Ibu perlu bekerja sama dalam mengasuh anak, menjaga kesehatan keluarga, menciptakan lingkungan yang bersih, memenuhi kebutuhan gizi, serta membangun komunikasi yang hangat dan penuh kasih sayang.
Dengan demikian, kualitas pengasuhan akan semakin baik," imbuhnya.
Pengasuhan Disesuaikan dengan Tahapan Perkembangan Anak
Dr. Tin juga menjelaskan bahwa penerapan fungsi keluarga harus dilakukan sesuai tahapan perkembangan anak sejak masa kehamilan.
Baca Juga: Dugaan Love Scamming, Sekdis Ruly Bersama Lelaki Lain Sebelum Tewas di Juanda, Suami Diabetes
Selama kehamilan, ibu dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin melakukan pemeriksaan kehamilan, menjaga kesehatan fisik maupun mental, serta menghindari paparan rokok dan alkohol.
Langkah tersebut penting untuk mendukung pertumbuhan janin sekaligus mengurangi risiko bayi lahir dengan berat badan rendah maupun mengalami stunting.
Setelah bayi lahir hingga usia enam bulan, keluarga perlu memastikan pemberian kolostrum, ASI eksklusif, imunisasi lengkap, serta memberikan rasa aman melalui perhatian dan kasih sayang.
Pada fase ini, stimulasi perkembangan juga mulai diberikan sesuai usia bayi.
Memasuki usia 7 hingga 23 bulan, anak membutuhkan Makanan Pendamping ASI (MPASI) bergizi seimbang, lingkungan yang bersih dan sehat, aktivitas bermain yang merangsang perkembangan, komunikasi yang intensif, serta pemantauan pertumbuhan secara rutin melalui Posyandu maupun fasilitas pelayanan kesehatan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung perkembangan fisik, kecerdasan, kemampuan sosial, dan kesehatan anak secara menyeluruh.
Perkuat Ketahanan Keluarga untuk Indonesia Bebas Stunting
Melalui Sekolah Keluarga Berkualitas, IPB University terus memperkuat pemahaman para fasilitator dan masyarakat mengenai pentingnya menjalankan fungsi keluarga secara optimal selama periode 1.000 HPK.
Dengan semakin banyak keluarga yang memahami pentingnya pengasuhan berbasis ilmu pengetahuan, pemenuhan gizi yang baik, komunikasi yang hangat, serta kerja sama seluruh anggota keluarga, diharapkan upaya percepatan penurunan angka stunting di Indonesia dapat berjalan lebih efektif.
Penguatan fungsi keluarga sejak awal kehidupan menjadi investasi jangka panjang yang tidak hanya melahirkan anak-anak yang sehat dan cerdas, tetapi juga membentuk generasi Indonesia yang tangguh, berkarakter, dan memiliki daya saing tinggi untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan. ***




