POJOKSATU.id – One Village One CEO (OVOC) 2026 menghadirkan pembelajaran tematik yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengembangkan komoditas unggulan berbasis potensi lokal.
Berbagai materi disusun agar peserta tidak hanya memahami aspek budidaya, tetapi juga mampu melihat peluang pengembangan usaha dari hulu hingga hilir.
Salah satu tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah komoditas buah unggul.
Baca Juga: Sinopsis Avatar Aang: The Last Airbender, Film Animasi Baru yang Resmi Rilis Lebih Awal
Materi tersebut disampaikan oleh Dian Rahma Fitri, S.P., yang mengulas berbagai teknik budidaya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Peserta mempelajari teknik top working sebagai metode peremajaan tanaman guna meningkatkan produktivitas dan mutu buah.
Selain itu, mereka juga dibekali pengetahuan mengenai cara memilih entres alpukat dan durian yang berkualitas sebagai faktor penting dalam keberhasilan proses sambung pucuk.
Pembelajaran turut mencakup pemilihan varietas unggul, standar budidaya, hingga teknik perawatan tanaman agar mampu menghasilkan buah dengan nilai ekonomi yang tinggi.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut di Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB University melalui sesi Thematic Course bersama Sujino Pamungkas.
Dalam sesi ini, peserta mempelajari teknik budidaya ubi jalar, manajemen produksi, hingga strategi panen yang tepat untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas hasil panen.
Materi berikutnya disampaikan oleh Dwi Ananda Cesario dan Dasep Nurjaman, S.E., dari PT Binature Farm.
Keduanya membahas teknik penanganan pascapanen ubi jalar dan edamame, mulai dari proses sortasi, pengemasan, hingga penyimpanan yang tepat agar mutu produk tetap terjaga serta memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan.
Tidak hanya membahas sektor hortikultura, OVOC 2026 juga menghadirkan pembelajaran mengenai strategi pengembangan usaha perikanan. Dr. Eng. Henry Kasmanhadi Saputra, S.Pi., M.Si., memberikan materi tentang strategi akses pasar dan kemitraan ikan air tawar dengan sektor HOREKA (Hotel, Restoran, dan Katering).
Peserta memperoleh wawasan mengenai peluang pasar, strategi membangun kemitraan, serta pentingnya memahami kebutuhan industri sebagai salah satu pasar potensial bagi produk perikanan air tawar.
Baca Juga: Perut Kembung Tak Selalu Karena Masuk Angin, Kenali 9 Penyebab dan Cara Mengatasinya
Sebagai bentuk pembelajaran berbasis praktik, peserta kemudian diajak mengolah ikan air tawar menjadi produk pangan bernilai tambah.
Dimsum dan bakso berbahan dasar ikan air tawar dipilih sebagai menu yang mudah dipraktikkan sekaligus memiliki prospek bisnis yang menjanjikan.
Setelah proses produksi selesai, peserta melakukan analisis terhadap nilai (value) produk yang dihasilkan untuk memahami potensi pengembangan usahanya.
Melalui rangkaian pembelajaran hari kedua ini, peserta OVOC 2026 tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis mengenai budidaya dan pengolahan berbagai komoditas unggulan, tetapi juga memahami pentingnya menghasilkan produk berkualitas yang mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Baca Juga: Gelar Honda Modif Contest 2026, AHM Siapkan Wadah Kreativitas Modifikator Indonesia
Pendekatan tersebut menjadi bekal penting bagi peserta dalam membangun usaha berbasis potensi lokal yang memiliki daya saing.
Pada akhirnya, pengembangan komoditas unggulan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membudidayakan hasil pertanian, tetapi juga oleh inovasi dalam pengolahan, strategi pemasaran, dan keberanian menciptakan nilai tambah.
Melalui pembelajaran tematik seperti ini, OVOC 2026 membuka ruang bagi lahirnya generasi muda yang siap mengembangkan potensi daerah menjadi peluang usaha yang berkelanjutan dan berdampak bagi masyarakat. ***




