POJOKSATU.id — Di balik laboratorium Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (Undip), lahir inovasi teknologi yang bisa menjadi solusi besar bagi persoalan lingkungan di Indonesia.

Guru Besar Undip, Prof Dr Muhammad Nur DEA, yang dikenal konsisten meneliti bidang rekayasa fisika nuklir dan plasma, kini memperkenalkan terobosan baru: Teknologi Gelombang Nano Mikro Plasma Ozon.

Teknologi ini berfungsi sebagai proses oksidasi lanjut untuk mengolah air limbah industri menjadi jernih, sekaligus ramah lingkungan.

Baca Juga: Kabar Terbaru Pencairan TPG 2025: Daftar Lengkap Daerah yang Sudah Terima Dana TPG Triwulan III

“Terobosan ini bentuk kontribusi kami, para ilmuwan perguruan tinggi, bagi kemajuan Tanah Air Indonesia,” ujar Prof M Nur saat ditemui di FSM Undip, Kamis (23/10/2025).

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjelaskan, konsep fisika nuklir dan plasma menjadi dasar dalam pengembangan teknologi tersebut.

Plasma ozon, menurutnya, merupakan materi alam semesta dalam wujud keempat setelah padat, cair, dan gas.

Baca Juga: Mahasiswa USK Raih Emas di Malaysia Lewat Inovasi Terrae Digital Platform

Melalui Center for Plasma Research (CPR) Undip, Prof M Nur dan timnya telah melahirkan berbagai inovasi berbasis teknologi plasma yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Sebelumnya, metode plasma ozon juga sukses membantu petani memperpanjang usia simpan hasil panen. 

Tak hanya itu, beberapa produk inovatif seperti D Ozone dan Zetagreen juga dikenal luas karena mampu membersihkan udara serta menekan pertumbuhan bakteri dan jamur.

Baca Juga: Dari 552 Daerah, Hanya 321 yang Lolos: Ini Kriteria Penerima TPG 100 Persen 2025

“Teknologi plasma ozon memiliki kemampuan ampuh antibakteri, antivirus, jamur, kuman, dan sebagainya,” jelas putra daerah Batu Bara, Sumatera Utara ini.

Bukan hanya untuk pertanian, teknologi hasil risetnya juga terbukti membantu penyembuhan luka bagi penderita diabetes.

Dengan terapi plasma ozon, luka pada kaki dan tangan pasien diabetes dapat sembuh lebih cepat karena terbebas dari infeksi bakteri dan kuman.

Baca Juga: Kemendikdasmen Mulai Validasi Tahap 4, TPG Juli–September 2025 Segera Ditransfer

Kini, pengembangan berikutnya difokuskan pada pengolahan air limbah industri menjadi air jernih dan aman.

Penelitian ini merupakan bagian dari Program Riset Konsorsium Berdampak, yang melibatkan Undip, Universitas Riau, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Program ini juga masuk dalam Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (Rikub) 2025, inisiatif dari Kemendiktisaintek yang mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Baca Juga: Puluhan Rumah Rusak di Terjang Angin Puting Beliung di Cirebon

Prof M Nur menjelaskan cara kerja teknologi ini secara sederhana.

Air limbah industri dialirkan melalui alat generator plasma berkapasitas tinggi yang berfungsi memproduksi ozon.

Ozon ini kemudian dimasukkan ke dalam air limbah dengan sistem nano mikro bubble — gelembung berukuran sangat kecil yang membantu memecah polutan secara efisien.

Baca Juga: Inilah Tiga Tokoh Legendaris Keuangan Dunia, Pemikirannya Mengejutkan, Yuk Kenali Lebih Dekat

“Material ozon bersifat sangat reaktif dan mampu mengurai berbagai zat pencemar seperti bau, zat berwarna, hingga mikroorganisme berbahaya.

Semua itu terdegradasi dalam proses oksidasi lanjut, sehingga air limbah menjadi lebih bersih dan jernih,” terang Prof M Nur.

Selain membersihkan, teknologi ini juga berpotensi membasmi virus dan bakteri yang mungkin terkandung dalam limbah cair industri.

Baca Juga: Bupati Pangkas Anggaran, Dewan Pengupahan Karawang dan Kadisnaker Malah Wisata Kerja ke Bali

Dengan sederet manfaatnya, inovasi ini bukan sekadar langkah ilmiah, tetapi wujud nyata kontribusi sains untuk kemanusiaan dan keberlanjutan lingkungan.

“Riset ini bukan hanya untuk kemajuan teknologi, tapi juga demi kehidupan yang lebih sehat dan lestari bagi masyarakat,” pungkas Prof M Nur. ***