POJOKSATU.id — Pendaftaran Indonesia-Austria Scholarship Programme (IASP) 2026 resmi dibuka dan ditujukan khusus bagi dosen tetap di perguruan tinggi Indonesia.

Program beasiswa jenjang doktoral ini merupakan bentuk kerja sama di bidang pendidikan tinggi antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Austria yang difokuskan untuk memperkuat kompetensi akademik serta meningkatkan kapasitas riset dosen di tingkat S3.

Melalui beasiswa ini, akademisi Indonesia memperoleh kesempatan strategis untuk mengembangkan penelitian di berbagai universitas ternama di Austria.

Baca Juga: Pengajuan KUR BRI Bisa Gagal Gara-gara SLIK OJK, Ini Penjelasan Lengkapnya

Dukungan pembiayaan penuh yang ditawarkan tidak hanya meringankan beban studi, tetapi juga membuka ruang luas bagi dosen untuk membangun jejaring akademik internasional yang berkelanjutan.

Indonesia-Austria Scholarship Programme atau IASP sendiri merupakan program beasiswa doktoral hasil kolaborasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dengan OeAD-GmbH yang bertindak atas nama Federal Ministry of Women, Science and Research Austria.

Program ini turut didukung oleh jaringan akademik ASEA-UNINET.

Baca Juga: Besok Tepat 3 Pekan Bencana, 82 Desa di Aceh Tengah dan 59 Desa di Bener Meriah Masih Terisolasi

IASP dirancang sebagai sarana pengiriman dosen Indonesia untuk menempuh studi doktoral di Austria.

Tujuan utamanya adalah mendorong peningkatan mutu pendidikan tinggi nasional sekaligus memperkuat ekosistem riset akademik di Indonesia melalui pengalaman dan kolaborasi internasional.

Peserta yang dinyatakan lolos dalam program IASP 2026 akan memperoleh berbagai fasilitas selama masa studi.

Manfaat tersebut mencakup pembiayaan penuh pendidikan doktoral, pemberian tunjangan bulanan sesuai ketentuan program, serta asuransi kesehatan dan dukungan administratif selama berada di Austria.

Baca Juga: Bersiap Pemberkasan Pencairan Tunjangan Profesi Dosen 2025 LLDIKTI Wilayah IV, Ini Tahapan dan Dokumennya

Selain itu, penerima beasiswa juga mendapatkan akses terhadap fasilitas riset serta bimbingan akademik dari universitas di Austria yang telah menjalin kerja sama resmi dengan pemerintah Indonesia.

Program ini sekaligus menjadi sarana peningkatan reputasi profesional bagi dosen dan peneliti melalui keterlibatan aktif dalam komunitas akademik internasional.

Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui akun Instagram resmi Kemdiktisaintek.ri, terdapat sejumlah persyaratan utama yang harus dipenuhi calon pendaftar IASP 2026.

Baca Juga: BPNT Tahap 4 Jabar Belum Cair? Warga Bogor Bisa Lapor Lewat TAROS Dinsos

Pendaftar wajib berstatus sebagai dosen tetap di perguruan tinggi di bawah pembinaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) atau Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK).

Calon peserta juga harus memiliki gelar magister dengan tahun kelulusan maksimal lima tahun, belum menyandang gelar doktor, dan tidak sedang menempuh studi S3.

Kemampuan bahasa Inggris menjadi persyaratan penting yang dibuktikan melalui skor TOEFL iBT minimal 90 atau IELTS minimal 6,5 dengan masa berlaku maksimal dua tahun.

Baca Juga: BPNT Tahap 4 2025 Kapan Cair di Jawa Barat? Ini Bocoran Jadwal dan Cara Cek KKS

Di samping itu, pendaftar diwajibkan menyusun proposal riset akademik berbahasa Inggris yang telah memperoleh persetujuan dari calon pembimbing di universitas tujuan di Austria.

Batas usia pendaftar ditetapkan maksimal 35 tahun per 31 Desember pada tahun pendaftaran.

Dokumen administratif yang perlu dipersiapkan meliputi curriculum vitae berbahasa Inggris, dua surat rekomendasi akademik berbahasa Inggris, paspor, Letter of Acceptance tanpa syarat dari universitas atau calon supervisor di Austria, serta ijazah dan transkrip nilai jenjang S2.

Pendaftaran IASP 2026 telah dibuka dan akan berlangsung hingga 01 Maret 2026 melalui laman resmi https://kualifikasi.dikti.kemdiktisaintek.go.id.

Proses seleksi beasiswa dilakukan secara bertahap, dimulai dari seleksi administrasi untuk menilai kelengkapan dan keabsahan dokumen pendaftar.

Baca Juga: Bansos Tepat Sasaran atau Tidak, Semua Berawal dari RT RW

Tahap berikutnya adalah evaluasi proposal riset oleh panel akademik yang kemudian dilanjutkan dengan wawancara atau diskusi ilmiah bersama calon supervisor atau tim seleksi.

Penentuan penerima beasiswa didasarkan pada hasil evaluasi menyeluruh guna memastikan kandidat yang terpilih memiliki kesiapan akademik serta rencana penelitian yang matang untuk menjalani studi doktoral di Austria.

Program IASP 2026 pun menjadi peluang berharga bagi dosen Indonesia untuk mengembangkan karier akademik sekaligus berkontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi nasional melalui riset berstandar internasional.***