POJOKSATU.id — Bahasa tubuh sering kali jadi penentu lolos atau tidaknya kandidat dalam wawancara kerja.

Tanpa disadari, sikap tubuh yang salah dapat meninggalkan kesan negatif, bahkan ketika jawaban sudah bagus.

Oleh karena itu, penting bagi para pencari kerja untuk memahami bahasa tubuh apa saja yang harus dihindari agar tampil lebih percaya diri dan profesional.

Baca Juga: Pelantikan PPPK Tasikmalaya Pecah! Dari Selebrasi, Yel-Yel, Hingga Arak Wali Kota

Bahasa tubuh merupakan komunikasi nonverbal yang tercermin dari postur, ekspresi wajah, gerak tangan, hingga kontak mata.

Saat wawancara, pewawancara tidak hanya mendengarkan jawaban, tetapi juga membaca gestur untuk menilai kesiapan, kesungguhan, dan kepribadian kandidat.

Kesalahan kecil dalam bahasa tubuh dapat dianggap sebagai tanda gugup, tidak siap, atau kurang antusias terhadap posisi yang dilamar.

Baca Juga: Malaysia Nekat! Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Main Medsos Mulai 2026, Indonesia Kapan Nyusul?

Salah satu bentuk bahasa tubuh yang perlu dihindari adalah menunduk atau menghindari kontak mata.

Kebiasaan ini membuat kandidat terlihat tidak percaya diri atau menyembunyikan sesuatu.

Duduk membungkuk juga harus dijauhi karena memberi kesan malas dan tidak antusias.

Baca Juga: BREAKING! Dana Pensiun ASN Kembali Utuh, KPK Setor Rp 883 Miliar ke Taspen, Simak Penjelasannya!

Sebaliknya, terlalu kaku pun tidak disarankan karena membuat suasana tidak natural.

Gelisah berlebihan seperti memainkan bolpoin, mengetuk meja, menggerakkan kaki, hingga meremas jari dapat menunjukkan kecemasan.

Tindakan tersebut bukan hanya mengganggu konsentrasi pewawancara, tetapi juga menurunkan kesan profesional.

Menyilangkan tangan di dada pun kerap terbaca sebagai simbol defensif atau tertutup, sehingga lebih baik menjaga posisi tangan tetap terbuka dan rileks.

Baca Juga: Guru PPPK Bakal Direlokasi Lewat SE Baru BKN, Ini Penjelasan Lengkap Prof Zudan

Senyum berlebihan juga dapat menjadi bumerang karena dianggap tidak serius.

Namun, jika terlalu datar, pewawancara bisa menganggap kandidat tidak ramah atau tidak antusias.

Menyentuh wajah atau rambut berulang kali juga harus dihindari, sebab dapat dipersepsikan sebagai tanda tidak percaya diri atau gugup.

Perilaku lain yang sering terjadi tanpa disadari adalah memeriksa jam tangan atau melihat sekeliling ruangan.

Baca Juga: Guru PPPK Bakal Direlokasi Lewat SE Baru BKN, Ini Penjelasan Lengkap Prof Zudan

Gestur tersebut menandakan kandidat tidak fokus atau ingin cepat menyelesaikan wawancara.

Begitu juga dengan jabat tangan yang terlalu lemah atau terlalu kuat—keduanya menimbulkan kesan negatif yang tidak perlu.

Terakhir, mencondongkan tubuh terlalu dekat ke arah pewawancara juga tidak dianjurkan karena dapat membuat situasi menjadi tidak nyaman.

Baca Juga: Heboh! Siswa Dipecat dari IDN Bogor, Orang Tua Tuding Sekolah Ilegal dan Abaikan Anak

Postur ideal adalah duduk tegak, rileks, dan menjaga jarak profesional.

Dengan menghindari bahasa tubuh tersebut, kandidat dapat tampil lebih percaya diri, sopan, dan profesional selama wawancara.

Persiapan teknis memang penting, tetapi komunikasi nonverbal juga punya peran besar dalam menentukan hasil akhir.

Semakin baik mengelola bahasa tubuh, semakin besar peluang memberi kesan positif sejak detik pertama sesi wawancara dimulai.***