POJOKSATU.id - Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengungkapkan bahwa Indonesia akan memainkan peran strategis dalam kerja sama Indonesia–Mesir, khususnya di bidang pendidikan dan pengembangan Bahasa Arab. 

Hal tersebut disampaikan Menag sepulang dari kunjungan kerja ke Mesir atas mandat Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Menag, Universitas Al-Azhar memberikan sinyal positif terhadap penguatan kerja sama yang dijalin antara kedua negara, tidak hanya dalam sektor pendidikan, tetapi juga pada berbagai kepentingan strategis sebagai sesama negara mayoritas Muslim yang moderat.

Baca Juga: Update Terbaru, Sebanyak 82 Warga Masih Hilang Tertimbun Longsor Cisarua Bandung Barat

“Al-Azhar sangat mendukung kerja sama antara kedua negara, bukan saja dalam bidang pendidikan, tetapi juga berbagai kepentingan strategis sebagai sesama negara mayoritas Muslim yang moderat,” ungkap Menag Nasaruddin Umar di Tangerang, Kamis, 22 Januari 2026.

Al-Azhar Siap Dampingi Perguruan Tinggi Keagamaan

Menag menjelaskan, Al-Azhar menyatakan kesiapan memberikan asistensi kepada perguruan tinggi keagamaan di Indonesia, baik negeri maupun swasta. 

Baca Juga: Indonesia Pernah Hidup Tanpa Listrik, Begini Cara Negeri Ini Bertahan Sebelum Era Modern

Dukungan tersebut ditujukan untuk memperkuat kapasitas institusi agar mampu menghasilkan lulusan yang lebih kompeten dan berdaya saing.

“Al-Azhar bersedia memberikan asistensi kepada perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi keagamaan Islam negeri seperti UIN, IAIN, maupun PTKIS, terutama dalam pengendalian mutu,” jelasnya.

Selain pendampingan institusional, kerja sama juga mencakup dukungan sumber daya manusia. Menag menyebut Al-Azhar siap mengirim dosen-dosen yang dibutuhkan Indonesia, terutama di bidang Bahasa Arab.

Baca Juga: Pohon Tumbang Timpa Fasilitas SPBU Pramuka, Pertamina Regional JBB Bergerak Cepat Lakukan Penanganan

“Al-Azhar juga bersedia mengirim dosen-dosen yang diperlukan oleh Indonesia, terutama dosen Bahasa Arab, bahkan sekitar 200 hingga 1.000 tenaga ahli Bahasa Arab dari Mesir siap datang ke Indonesia,” sambung Menag.

MoU Indonesia–Mesir Dijadwalkan April 2026

Lebih lanjut, Menag mengungkapkan bahwa Pemerintah Mesir berencana melakukan kunjungan resmi ke Indonesia pada April 2026.

Agenda utama kunjungan tersebut adalah penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) serta pembahasan lanjutan terkait program-program strategis kerja sama Indonesia–Mesir.

Baca Juga: Minyak Goreng Dijaga Ketat! Pasokan Naik Jadi 700 Ribu KL, Harga Dipatok dari Distributor hingga Pengecer

Kerja sama ini diharapkan mampu memperkuat pendidikan tinggi Islam di Indonesia agar semakin relevan dengan kebutuhan zaman dan tantangan global.

Apresiasi Internasional dan Tantangan Peradaban

Dalam kunjungan tersebut, Indonesia juga memperoleh apresiasi internasional. 

Menag menyampaikan bahwa dalam pertemuan dengan pemerintahan Mesir dan para ulama dunia, Indonesia dinilai memiliki peran strategis dalam pengembangan sains dan teknologi, khususnya di bidang Artificial Intelligence (AI).

Baca Juga: Tangis Haru Warnai Penyerahan SK, Ratusan Honorer Kota Palu Resmi Diangkat Jadi PPPK Paruh Waktu

Menurut Menag, potensi Indonesia dalam pengembangan AI dipandang sebagai kekuatan baru dalam peradaban dunia Islam. 

Hal ini turut dibahas dalam pertemuannya dengan Menteri Wakaf Mesir, Usamah Al-Sayyid Al-Azhari.

“Kita diminta untuk mengantisipasi perkembangan sains dan teknologi, khususnya Artificial Intelligence, agar menjadi kekuatan dalam pengembangan peradaban dan kebudayaan, bukan sebaliknya melemahkan peradaban yang substantif,” ujar Menag.

Baca Juga: KACAU! Banjir Bandang Purbalingga Mirip Tragedi Sumatera, Kayu Gelondongan Meluncur dari Lereng Slamet!

Menag menegaskan bahwa pengakuan tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab besar bagi Indonesia. 

Sejumlah ulama besar dunia menilai Indonesia sebagai negara yang aman dan strategis untuk pengembangan sains dan teknologi peradaban modern.

“Indonesia dituntut dan ditantang untuk menjadi episentrum baru dalam pengembangan peradaban dunia Islam modern,” tegasnya. ***