POJOKSATU.id — Desa Guwosari di Kapanewon Pajangan, Bantul, kembali menjadi tempat pengabdian mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Sejak 2021, desa ini menjadi lokasi langganan bagi IMM Fisipol UMY dalam menjalankan program pengabdian berbasis pemberdayaan masyarakat dan potensi lokal.

Pada tahun 2025, IMM Fisipol UMY kembali menerima pendanaan dari Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Program ini memungkinkan mereka melanjutkan inisiatif pembangunan masyarakat yang telah dimulai di Guwosari sejak empat tahun lalu.

Baca Juga: Trigger: Drama Korea yang Bikin Penonton Terjebak di Dilema Etik Paling Rumit

Mengangkat tema “Dewi Selarong: Optimalisasi Desa Wisata Berbasis Community-Based Tourism Menuju Guwosari Mandiri Budaya”, program ini fokus pada pariwisata budaya.

Mahasiswa tidak datang hanya sebagai relawan, tetapi berperan sebagai bagian dari keluarga besar desa yang turut membangun bersama warga.

Fokus utama pengabdian tahun ini adalah pada pemuda, agar mampu mengelola potensi pariwisata budaya secara mandiri dan berkelanjutan.

Ketua Tim Pelaksana, Rasya Raditya Hariana, menyampaikan alasan mereka kembali ke Guwosari setelah beberapa tahun.

Baca Juga: Purwakarta Raih Predikat Pratama KLA 2025, Targetkan Naik ke Nindya!

“Kami merasa punya ikatan emosional dengan Guwosari. Masyarakat sudah mengenal kami, dan kami ingin menjaga kepercayaan itu,” kata Rasya.

IMM Fisipol UMY telah melalui perjalanan panjang dalam mengabdi di Guwosari. Mereka memulai dari program PHP2D pada 2021.

Kemudian dilanjutkan dengan Young Sustainable Initiative (YSI) pada 2022 dan 2023, serta PPK Ormawa tahun 2024.

Berbagai kegiatan telah mereka lakukan, mulai dari pelatihan UMKM, pelestarian budaya lokal, hingga peningkatan kapasitas pemuda desa.

Konsistensi inilah yang membuat mereka kembali dipercaya menerima pendanaan PPK Ormawa pada tahun 2025.

Tahun ini, program difokuskan pada pengembangan desa wisata berbasis community-based tourism yang lebih konkret dan berkelanjutan.

Beberapa kegiatan unggulan yang akan dilaksanakan antara lain pelatihan pemandu wisata dan pengelolaan homestay bagi pemuda desa.

Mereka juga akan mendigitalisasi narasi budaya lokal, menyusun paket wisata tematik, dan merancang roadmap pariwisata partisipatif.

Pembentukan forum pemuda wisata desa juga menjadi bagian dari strategi pembangunan pariwisata berbasis komunitas.

“Pengalaman tahun lalu memberi kami banyak pelajaran. Sekarang kami ingin lebih fokus menjadikan pemuda desa sebagai penggerak utama,” tambah Rasya.

Baca Juga: Mahasiswa PTKI Wajib Tahu! 7 Jurus Sukses untuk Unggul di Akademik, Ibadah, dan Karier

Tim pengabdian terdiri atas 15 mahasiswa Fisipol UMY, didampingi dosen pembimbing Sakir Ridho Wijaya.

Mereka menjunjung tinggi kolaborasi bersama warga dan pemerintah desa untuk memastikan program sesuai kebutuhan riil masyarakat.

Program ini tak hanya ditujukan untuk memberdayakan Guwosari, tetapi juga sebagai upaya IMM Fisipol UMY bersaing dalam ajang nasional Abdidaya Ormawa.

Ajang tersebut merupakan kompetisi prestisius yang menilai praktik pengabdian mahasiswa berbasis riset, kolaborasi, dan dampak nyata di masyarakat.

“Kami percaya Guwosari punya semua potensi untuk menjadi desa wisata unggulan di DIY. Kami hanya memfasilitasi, masyarakatlah yang menggerakkan,” kata Rasya.

Dengan semangat kolaborasi, mahasiswa IMM Fisipol UMY berharap Guwosari berkembang menjadi desa wisata budaya yang mandiri dan berdaya saing.

Mereka ingin menjadikan Guwosari sebagai destinasi unggulan yang mampu menarik wisatawan dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.***

Kirim komentar dan baca artikel Pojoksatu.id lainnya tanpa iklan melalui aplikasi kami di bawah ini:

Versi Android

Versi iOS

Saluran Whatsapp

FanPage Edugov