POJOKSATU.id — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menorehkan prestasi membanggakan di dunia riset dan inovasi.
Melalui program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB), Prof. I Ketut Eddy Purnama, dosen Departemen Teknik Komputer ITS, berhasil memperoleh pendanaan untuk melanjutkan pengembangan iBrain2U.
iBrain2U adalah sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu dokter mendiagnosis penyakit otak secara cepat, akurat, dan efisien.
Program RIKUB sendiri hadir untuk mendorong riset unggulan yang berdampak nyata.
Berbeda dari penelitian tunggal, RIKUB mengedepankan kolaborasi lintas perguruan tinggi dengan pembagian peran layaknya membuat produk bersama.
“Kalau dianalogikan seperti membuat kipas angin, ada yang mengerjakan motor, ada yang membuat bilah kipas, dan ada yang mendesain casing. Semua digabungkan menjadi satu produk unggulan,” jelas Prof Ketut.
Dalam riset iBrain2U, tiap universitas mitra berperan sesuai bidang keahliannya.
Modul diagnosis epilepsi dikembangkan bersama Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Modul tumor bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya.
Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Semarang turut mengembangkan modul lain.
Selain itu, Rumah Sakit Haji Surabaya juga dilibatkan sebagai mitra uji coba dan pengembangan sistem.
iBrain2U bukanlah riset yang muncul secara tiba-tiba.
Sejak 2019, penelitian ini telah didanai oleh LPDP dan berhasil menghasilkan prototipe yang berfungsi mengklasifikasi empat jenis penyakit otak, yaitu stroke, tumor, epilepsi, dan Alzheimer.
Cara kerjanya pun terbilang sederhana namun canggih.
Dokter hanya perlu mengunggah citra MRI pasien ke dalam sistem. Dalam hitungan menit, iBrain2U akan memprediksi jenis penyakit otak sekaligus menampilkan persentase kemunculannya.
Sistem ini juga mampu menunjukkan lokasi spesifik penyakit pada citra medis yang bisa mencapai ratusan potongan gambar (slice).
Baca Juga: Mahasiswa UMM Ciptakan SAMATA, Stroller Ajaib untuk Bantu Anak Autisme Berkomunikasi
Proses yang biasanya memakan waktu hingga satu jam kini bisa diselesaikan hanya dalam beberapa menit.
“Dengan iBrain2U, diagnosis bisa dilakukan jauh lebih cepat. Ini tentu meringankan beban dokter sekaligus mempercepat layanan bagi pasien,” ujar Prof. Ketut.
Pendanaan RIKUB kali ini akan difokuskan untuk memperkuat fitur, memperluas pengujian, dan mendiseminasikan iBrain2U ke berbagai rumah sakit di Indonesia.
Dalam rencana pengembangannya:
- Tahun pertama, sistem akan dibuat dalam bentuk mini PC yang dapat terhubung dengan komputer rumah sakit untuk diuji dan dievaluasi.
- Tahun kedua, dikembangkan jejaring antar rumah sakit untuk mendukung implementasi tele-radiology, memungkinkan dokter dari berbagai daerah berkolaborasi dalam diagnosis pasien secara daring.
- Tahun ketiga, iBrain2U akan diintegrasikan dengan sistem Picture Archiving and Communication System (PACS) yang digunakan rumah sakit untuk menyimpan data citra medis.
Dengan integrasi ini, iBrain2U akan selaras dengan infrastruktur digital rumah sakit modern di Indonesia.
Lebih dari sekadar teknologi, Prof Ketut menekankan pentingnya dampak sosial dari inovasi ini.
“Saya akan sangat bangga kalau produk ini digunakan. Walaupun ada nilai komersial, yang paling penting adalah manfaatnya. Sayang sekali kalau riset sudah didanai tapi akhirnya tidak dimanfaatkan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa riset semacam ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah.
“Sesuai dengan misinya Pak Menteri, riset harus berdampak. Bukan hanya sekadar laporan, tapi benar-benar membantu masyarakat.”
Melalui dukungan RIKUB, ITS bersama mitra universitas dan Rumah Sakit Haji Surabaya optimistis bahwa iBrain2U akan menjadi inovasi medis yang bukan hanya pertama di Indonesia, tetapi juga berpotensi menjadi pionir di tingkat dunia.***




