POJOKSATU.ID – Di tengah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap informasi digital, isu tentang Bantuan Subsidi Upah (BSU) kembali menjadi sasaran empuk para pembuat hoaks.

Dalam beberapa minggu terakhir, linimasa media sosial dipenuhi tautan bantuan palsu, pesan berantai, hingga situs tiruan yang mengatasnamakan pemerintah.

Meski berkali-kali dibantah, hoaks BSU tetap menjadi salah satu yang paling cepat viral.

Jawabannya sederhana karena isu uang adalah pemicu paling kuat dalam psikologi pengguna media sosial.

Baca Juga: Kabar Baik! TPG TW 4 ASN Mulai Masuk di Berbagai Provinsi, Ini Daftar Update Lengkapnya

Saat muncul kabar bahwa pemerintah membuka kembali pendaftaran BSU, banyak warga langsung percaya tanpa memeriksa kebenarannya.

Motif ekonomi, kebutuhan mendesak, dan harapan mendapatkan bantuan membuat hoaks ini mudah menjalar dari satu grup ke grup lain.

Selain itu, sebagian besar hoaks BSU dirancang dengan narasi yang sangat meyakinkan:

menggunakan logo resmi kementerian,

menyertakan kata-kata seperti tahap final, terbatas, atau pencairan langsung,

dan menampilkan countdown palsu agar korban merasa harus segera mengisi data pribadi.

Baca Juga: Akhir Era Rujukan Bertingkat, BPJS Kesehatan Terapkan Alur Rujukan Baru Mulai 2026

Model penyebaran semacam ini membuat hoaks BSU menjadi sangat efektif dan sangat cepat viral.

Modus yang Paling Sering Muncul

Beberapa pola hoaks BSU yang paling sering ditemukan antara lain:

1. Link Pendaftaran Palsu

Tautan biasanya berakhiran domain tidak resmi dan meminta data pribadi seperti NIK, nomor rekening, hingga password aplikasi perbankan.

2. Pesan Broadcast WhatsApp

Narasi pemerintah kembali cairkan BSU bagi seluruh pekerja sering diikuti ajakan untuk klik link tertentu.

3. Akun Media Sosial Tiruan

Beberapa akun Facebook dan TikTok meniru akun resmi kementerian, memposting jadwal pencairan palsu untuk memancing engagement.

4. Situs yang Menyerupai Portal Pemerintah

Pelaku membuat halaman login palsu yang tampilannya menyerupai situs kementerian sehingga korban tidak menyadari bahwa mereka sedang memberikan data sensitif.

Baca Juga: Kabar Baik! TPG TW 4 ASN Mulai Cair Hari Ini, Penantian Panjang Berakhir

5. Klaim Pencairan Instan

Modus yang menjanjikan BSU cair 1 juta dalam 1 menit hanya dengan mengisi formulir atau membayar biaya administrasi.

Masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa BSU hanya diumumkan melalui kanal resmi pemerintah, bukan melalui pesan broadcast atau link yang tidak jelas.

Kurangnya literasi digital juga memperburuk situasi.

Dalam beberapa kasus, korban baru menyadari bahwa mereka ditipu setelah data pribadi bocor atau saldo rekening berkurang.

Baca Juga: Catat dan Simak! Kontrak 1 Tahun PPPK Paruh Waktu Tidak Otomatis Diperpanjang, Menurut Menpan-RB Penilaian Jadi Penentu, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Aspek lain yang membuat hoaks BSU sangat memikat adalah emosi kolektif.

Ketika satu orang percaya dan membagikan informasi tersebut, lingkungan digitalnya ikut terdorong untuk membagikan kembali.

Fenomena ini disebut echo chamber, di mana informasi palsu terasa semakin benar karena terus diulang.

Baca Juga: Bilal Juara ROOKIE Fighter, Warga Tagih Komitmen Pemda Karawang pada Atlet

Sekalipun tampak meyakinkan, hoaks BSU sebenarnya bisa dikenali melalui beberapa ciri:

Tidak pernah ada link pendaftaran BSU di luar situs resmi pemerintah.

Pemerintah tidak pernah meminta password, PIN, atau OTP.

Pengumuman BSU hanya disampaikan melalui kanal resmi seperti situs kementerian, konferensi pers, dan akun terverifikasi.

Narasi yang mengandung unsur cepat, langsung cair, atau hanya hari ini biasanya merupakan ciri penipuan digital.

Baca Juga: Berapa Jumlah ASN 5 Tahun Lagi? Ini Perkiraan BKN dan Tantangan Besarnya

Masyarakat disarankan untuk melakukan verifikasi silang sebelum membagikan informasi, serta melapor ke pihak berwenang jika menemukan tautan palsu.

Edukasi publik menjadi langkah penting untuk mengurangi penyebaran hoaks, terutama yang menyangkut isu bantuan uang.***