POJOKSATU.ID - Sebuah video viral memperlihatkan seorang pria di Desa Bangkong, Kecamatan Bangkong, Kabupaten Branjangan.

Ia menolak ketika rumahnya ditempeli stiker penerima bantuan sosial (bansos) kategori keluarga miskin.

Dalam video berdurasi sekitar satu menit itu, pria tersebut tampak marah dan berdebat dengan petugas.

Yang datang membawa stiker bertuliskan Keluarga Penerima Manfaat Program Bantuan Sosial.

Baca Juga: Dari Istana ke Partai Gerindra? Langkah Politik Budi Arie Setiadi Terhambat Penolakan Kader Muda

Yang menarik perhatian publik, rumah yang dikunjungi itu tampak megah dengan halaman luas dan mobil pribadi terparkir di depan.

Meski demikian, nama kepala keluarga tersebut ternyata masih terdaftar sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah.

 

Petugas dari dinas sosial dan perangkat desa datang ke rumah pria itu untuk menempelkan stiker tanda penerima bansos, sesuai program transparansi pemerintah.

Namun, sang pemilik rumah langsung menolak dengan nada tinggi.

Baca Juga: Panduan Klaim Bantuan Sosial 2025, Cara Cepat dan Aman Lewat Aplikasi Resmi Cek Bansos dari Kemensos

Petugas mencoba menjelaskan bahwa pendataan dilakukan berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan hasil verifikasi yang dilakukan sebelumnya.

Meski sudah dijelaskan, pria itu tetap bersikeras menolak.

Cekcok pun tak terhindarkan sebelum akhirnya petugas memilih menunda penempelan stiker sambil melaporkan kejadian itu ke pemerintah desa.

 

Video tersebut menuai beragam tanggapan.

Sebagian warganet menilai petugas hanya menjalankan tugas dan tidak layak dimarahi.

Sementara yang lain menyoroti lemahnya sistem pendataan bansos.

Pihak Dinas Sosial Kabupaten Branjangan pun segera angkat bicara.

Baca Juga: Alih Teknologi Mahal, Apa Keuntungannya untuk Industri Dalam Negeri?

Mereka mengonfirmasi bahwa nama pria tersebut memang masih tercantum dalam daftar penerima bantuan sosial tahun 2025.

Namun statusnya kini sedang dalam proses verifikasi ulang.

Dinsos melakukan pembaruan data agar penerima bantuan benar-benar warga miskin yang berhak.

Setiap laporan warga akan ditindak lanjuti.

Baca Juga: Cara Membuat Akun MagangHub Kemnaker untuk Daftar Magang Nasional Batch 2

Kasus ini menyoroti persoalan klasik dalam penyaluran bantuan sosial di Indonesia berupa data penerima tidak akurat.

Masih banyak warga mampu yang terdaftar sebagai penerima, sementara sebagian keluarga miskin justru belum tersentuh bantuan.

Program penempelan stiker sejatinya dirancang untuk meningkatkan transparansi dan pengawasan publik.

Agar warga sekitar bisa ikut memantau siapa yang seharusnya menerima bantuan dari pemerintah.

Baca Juga: Aktivitas Sehari-hari Peserta Magang Nasional, Antara Belajar, Kerja, dan Pengalaman Baru

Namun di sisi lain, penerapan di lapangan sering menimbulkan resistensi karena menyangkut rasa malu dan stigma sosial.

Tidak sedikit warga yang menolak ditempeli stiker meskipun datanya memang masuk dalam daftar penerima.

 

Kasus di Desa Bangkong menjadi pengingat bahwa keberhasilan program sosial tidak hanya bergantung pada kebijakan pusat.

Tetapi juga kejujuran dan kesadaran masyarakat dalam melaporkan kondisi ekonomi sebenarnya.

Pemerintah diharapkan terus memperbaiki sistem data penerima bansos agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan tidak lagi memicu polemik di masyarakat.***