POJOKSATU.id - Kuliah Kerja Nyata Tematik Literasi (KKN-T Literasi) IPB University tahun 2025 telah melaksanakan program kerja bertajuk Sobat Tani.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat desa melalui peningkatan pengetahuan di bidang pertanian, khususnya terkait pengendalian hama dan penyakit pada tanaman.

Kegiatan ini dihadiri oleh perangkat desa serta Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat.

Sobat Tani yang dihadirkan terdiri dari rangkaian sesi sosialisasi mengenai jenis-jenis hama dan penyakit tanaman yang kerap ditemui oleh petani di lapangan, serta cara penanggulangannya secara ramah lingkungan.

Baca Juga: Mentan Amran Terima Anugerah Bintang Mahaputra Adipurna dari Presiden Prabowo

Tidak hanya itu, peserta juga diajak untuk mengikuti praktik langsung pembuatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) sebagai salah satu solusi alami untuk meningkatkan kesehatan tanaman.

PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) ini dijadikan pupuk hayati yang dibuat dari bakteri menguntungkan yang hidup di sekitar perakaran tanaman (rizosfer), biasanya dikembangkan dengan bahan dasar seperti akar bambu, akar rumput, atau sumber organik lain yang kaya mikroba.

Mikroorganisme ini berperan membantu pertumbuhan tanaman dengan berbagai cara, seperti memfiksasi nitrogen dari udara, melarutkan fosfat yang terikat di tanah, menghasilkan hormon pemacu tumbuh (auksin, sitokinin, giberelin), serta menekan pertumbuhan patogen penyebab penyakit melalui mekanisme antibiosis maupun kompetisi.

PGPR tidak hanya meningkatkan ketersediaan hara dan merangsang pertumbuhan akar, tetapi juga memperkuat ketahanan tanaman terhadap stres lingkungan maupun serangan penyakit, sehingga produktivitas pertanian dapat ditingkatkan secara lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Baca Juga: Direktur Teknik PSSI Ahirnya Terisi, Erick Thohir Resmi Tunjuk Alexander Zwiers, Ini Alasan dan Targetnya

Pada pembuatan PGPR kali ini, masyarakat diajak membuatnya dengan bahan alami yang mudah tersedia di lingkungan sekitar. Bahan yang digunakan antara lain, akar bambu, air, gula merah cair, terasi, dedak, kapur sirih.

Prosesnya mudah, sebelumnya akar bambu difermentasi selama dua hari, kemudian air fermentasinya diambil dan dicampurkan dengan bahan lain.

Setelah itu, semuanya dicampur dan diaduk secara merata, lalu difermentasi lagi selama kurang lebih 2 minggu hingga PGPR siap digunakan sesuai takarannya.

Antusiasme hadir dari para anggota Poktan dan Gapoktan yang menyimak materi dan aktif berdiskusi saat praktik pembuatan PGPR berlangsung.

“Saya merasa senang dengan adanya kegiatan Sobat Tani ini karena kami jadi lebih paham tentang hama dan penyakit tanaman serta cara pengendaliannya. Kami juga mendapat pengetahuan baru tentang pembuatan PGPR dan cara aplikasinya, yang sangat bermanfaat untuk mengurangi biaya produksi. Harapan saya, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan lebih banyak lagi petani yang ikut merasakan manfaatnya,” tutur Bapak Maskunin.

Baca Juga: IPB University Lepas 257 Peserta Ekspedisi Patriot, Siap Bertugas di 21 Provinsi

Koordinator Tim KKN-T Desa Ngudirejo, Fajril Nuriyasin mengungkapkan bahwa program Sobat Tani ini bisa bermanfaat bagi petani disana.

Harapannya kegiatan ini bisa menjadi bekal yang bermanfaat bagi petani di Desa Ngudirejo, terutama dalam mengenali hama dan penyakit tanaman serta cara pengendaliannya. Selain itu, penggunaan aplikasi DigiTani juga semoga dapat membantu petani lebih melek teknologi, sehingga pertanian di Desa Ngudirejo ini bisa semakin maju dan modern,” ujar Fazril.

Seluruh Tim KKNT IPB University juga berharap bahwa kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan produktivitas pertanian lokal serta memperkuat kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah desa.***