POJOKSATU.id - Aktif mengajar sebagai guru bahasa Inggris di SD Negeri Sawunggaling 1, Kota Surabaya, Jawa Timur, bukanlah hambatan untuknya berkiprah di bidang lain.
Dialah Qomarul Lailiah, salah satu wasit perempuan Indonesia yang terpilih kembali menjadi wasit di Olimpiade pada cabang olahraga bulu tangkis.
Setelah sebelumnya bertugas di Olimpiade Tokyo 2020, perempuan yang akrab dipanggil Lia itu kini terpilih kembali untuk menjadi wasit bulutangkis Olimpiade Paris 2024.
Lia memang salah satu wasit wanita Indonesia yang memiliki sertifikasi BWF. Karena itu, BWF tanpa ragu memilih Lia untuk kembali menugaskan dirinya sebagai wasit dalam cabang bulu tangkis di Olimpiade Paris 2024 sekaligus untuk Paralimpiade Paris 2024.
Baca Juga: Kisah Soma Syafaati, Pengabdi Setulus Hati, Guru ABK Berprestasi, Pejuang Pendidikan Sejati
Lia bahkan satu-satunya wasit bulu tangkis Indonesia yang akan berpartisipasi dalam pesta olahraga dunia itu.
Perempuan kelahiran Surabaya, 24 September 1977 ini awalnya ia tidak berniat menjadi seorang wasit.
Tahun 2000, saat Lia masih menjadi mahasiswa prodi Sastra Inggris di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra (STIBA) Satya Widya, Surabaya.
Demi meningkatkan pengetahuannya belajar bahasa Inggris, Lia saat itu memutuskan menjadi seorang guru honorer di sebuah SD di belakang rumahnya.
Keputusan itu diambil Lia karena nasihat gurunya yang menyebutkan bahwa salah satu metode pembelajaran efektif adalah dengan mengajar.
Lia menuturkan, pengalaman mengajarkan bahasa Inggris dari dasar pada siswa di sekolah memantapkannya menjadi guru SD. Lia juga mengambil akta mengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 2005.
Di sekolah itulah ia bertemu seorang guru olahraga yang bernama Bambang Wahyu yang pertama kali mengajaknya menjadi wasit.
“Tapi saya menolak, saya bilang ‘saya pegang raket saja diketawain. Kalau lawan ibu PKK saya siap’. Tapi beliau bilang, ‘wasit perempuan itu sedikit di Indonesia. Sedangkan ilmu perwasitan bisa dipelajari’. Lalu saya diberi buku Law of Badminton. Terus terang, buku itu enggak saya baca karena tidak tertarik,” cerita Lia.
Karena kepandaiannya berbahasa Inggris, Bambang Wahyu terus mendorong Lia menjadi wasit.
Kali ini alasannya karena banyak wasit dengan ilmu perwasitan dan kepemimpinan yang kerap terhalang komunikasi bahasa internasional saat hendak naik tingkat menjadi wasit nasional.
“Padahal kepemimpinan wasit Indonesia tak kalah bersaing dengan luar negeri. Namun wasit Indonesia selalu gagal gegara masalah komunikasi. Mereka terbatas dengan kemampuan berbahasa Inggrisnya,” tuturnya.
Bambang juga mengungkapkan wasit Indonesia banyak yang tidak mengerti buku Law of Badminton, karena buku itu belum ada terjemahan berbahasa Indonesia.
"Ilmu badminton ini selalu berkembang. Setiap bulannya ada saja yang diperbaharui. Dan itu teksnya dalam bahasa Inggris. Inilah yang menjadi kelemahan dari teman-teman kita. Akhirnya mereka enggak mengerti peraturan yang sebenarnya," ungkap Lia.
Tak putus asa, Bambang lalu meminta Lia untuk mencoba membantunya sebagai hakim garis dalam sebuah pertandingan kecil.
"Saat itu saya sedang mengajar privat dan diminta untuk menjadi hakim garis oleh Pak Bambang. Dia bilang, 'kamu kan mahasiswa, bisa dapat tambahan uang jadi hakim garis'. Dari situ saya mulai belajar," ujar Lia.
Selanjutnya, oleh koordinator wasit di Surabaya Lia disertakan dalam pelatihan dan ujian untuk menjadi wasit tingkat provinsi pada tahun 2000. Lia berhasil lulus ujian tersebut.
Lia mengungkapkan bahwa memimpin pertandingan pada awalnya tidaklah mudah. Dia mengalami banyak protes dari para pemain dan merasa tertekan secara mental.
“Sampai para pemain berteriak kok begitu wasitnya, ada yang bilang ini wasit lulusan mana harus sekolah wasit lagi,” tuturnya.
Tapi Lia tidak patah semangat. Sebaliknya ia optimistis dan semangatnya untuk belajar ia jalankan dengan mencari referensi dari buku Law of Badminton, yang akhirnya dia baca.
Setelah berhasil lulus dalam ujian nasional B sebagai wasit pada tahun 2003, Lia kemudian mengikuti ujian nasional A pada saat Indonesia Open.
Ujian nasional B berbeda dengan ujian nasional A yang mensyaratkan kemampuan wasit untuk menguasai bahasa Inggris.
Setelah dinyatakan lulus dalam ujian nasional A, Lia kemudian dikirim untuk mengikuti sertifikasi wasit tingkat Asia. Hasilnya sangat memuaskan karena Lia berhasil lulus dan bahkan masuk dalam peringkat tiga besar.
Turnamen pertamanya yang dia pimpin di luar negeri adalah Macau Open pada 2006. “Pertama kali excited banget, benar-benar senang,” kata dia.
Pada tahun 2017, Lia berhasil lulus ujian untuk menjadi wasit Badminton World Federation Certified Umpire. Setahun kemudian, ia pun dipanggil menjadi wasit di Olimpiade Tokyo.
Dengan sertifikasi ini dari BWF, Lia kini memiliki kualifikasi wasit di tingkat tertinggi untuk badminton internasional.
Namun penunjukan wasit untuk Olimpiade tidak hanya mempertimbangkan sertifikasi BWF, ada juga pertimbangan kesetaraan gender.
Sisi ini yang masih jarang ditemui di kalangan wasit wanita bulu tangkis dengan sertifikasi BWF di seluruh dunia.
"Kalau saya ini (terpilih) karena kesetaraan gender ya, karena memang wasit wanita itu jarang. Jumlah kami tidak sampai 50 persen dari total wasit bulu tangkis di seluruh dunia," tutur Lia.
Namun, tantangan Lia tak hanya sampai disana. Lia juga tetap harus menyisihkan waktu dari tugasnya mengajar di sekolah untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai wasit BWF.
"Saya selain wasit kan guru bahasa Inggris, makanya saya bilang saya ini terdampar. Sebagai guru, saya selalu meminta dukungan dari dinas terkait, kebetulan saya PNS ya. Saya juga enggak mau job desk utama saya terbengkalai. Jadi saya inginnya win-win solution. saya totalitas di sekolah dan totalitas saat jadi wasit," ujarnya.
Menariknya, Lia mengimplementasikan seluruh ilmu yang diperolehnya di sekolah tempatnya mengajar.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak di sekolah selalu dilatih untuk disiplin, percaya diri, dan pantang menyerah. Menurut Lia, inilah poin penting yang berperan dalam meraih kesuksesan dalam pendidikan.
“Ternyata itu betul-betul terjadi, ketika kita menerapkan tiga hal itu akan memudahkan kita mencapai banyak hal. Makanya saya ajarkan kepada anak didik saya sedini mungkin,” pungkasnya. ***




