POJOKSATU.id, KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menekankan, guru PAUD dan SD menjadi fokus utama pemerintah. Ini sejalan dengan kebijakan wajib belajar 13 tahun yang kini mencakup satu tahun prasekolah.

Dalam forum dialog bersama media di Jakarta, Jumat, 3 Oktober 2025, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti menyebut pendidikan anak usia dini adalah kunci lahirnya generasi unggul.

“Pemenuhan kualifikasi guru PAUD dan SD serta wajib belajar prasekolah menjadi prioritas agar layanan pendidikan semakin merata dan bermutu,” ujarnya.

Baca Juga: Ini 20 Menu Makanan Bergizi untuk Keluarga, Aman dan Cocok untuk Sarapan hingga Makan Malam

233 Ribu Guru Belum Sarjana

Data Kemendikdasmen mencatat masih ada sekira 233 ribu guru yang belum berkualifikasi S-1/D-4, mayoritas di jenjang PAUD dan SD.

Dari total 637.445 guru PAUD formal dan nonformal, hampir separuhnya belum bergelar sarjana.

Padahal kualitas guru terbukti menentukan keberhasilan pendidikan anak sejak dini.

Untuk itu, pemerintah meluncurkan program afirmasi kualifikasi akademik.

Guru yang belum sarjana, berusia maksimal 55 tahun, dan terdaftar di Dapodik, berkesempatan menempuh studi di 91 LPTK dengan dukungan biaya Rp3 juta per semester.

Baca Juga: Lolos Verifikasi, Simak Panduan Guru Menyusun RPP dan Modul Ajar Kurikulum Merdeka

Tahun 2025, program ini menargetkan 12.500 peserta, terdiri atas 6.745 guru TK dan 5.755 guru SD.

Bagi guru senior, skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dipakai agar studi bisa dituntaskan lebih cepat: 2 semester untuk usia 47–55 tahun, dan rata-rata 2–4 semester bagi guru di bawah 47 tahun.

Wajib Belajar 13 Tahun Termasuk Prasekolah

Selain peningkatan kualifikasi guru, Kemendikdasmen menyiapkan Grand Design Wajib Belajar 13 Tahun.

Rinciannya: 9 tahun pendidikan dasar, 3 tahun pendidikan menengah, serta 1 tahun prasekolah.

Direktur Pendidikan PAUD, Nia Nurhasanah, menjelaskan usia 5–6 tahun adalah periode emas perkembangan anak, sehingga prasekolah kini masuk prioritas.

Baca Juga: 7 Cara Ampuh Mencegah Keracunan Makanan, Wajib Diterapkan di Rumah

Upaya dilakukan lewat penegerian PAUD, pembangunan sekolah baru, revitalisasi lembaga, serta pengembangan model PAUD-SD satu atap di daerah 3T.

“Sejak 2023, kurikulum dan buku sudah disesuaikan agar transisi PAUD ke SD berjalan mulus dan menyenangkan,” ungkap Nia.

Dukungan dan Tantangan

Pemerintah juga memperkuat pedagogi berbasis STEM, pendidikan agama, karakter, bahasa ibu, serta inklusivitas.

Kemitraan dengan 75 organisasi pendidikan telah dijalin untuk memastikan dukungan dari berbagai pihak.

Baca Juga: 10 Platform Terbaik untuk Membuat Soal Ujian dengan AI, Guru Jadi Lebih Hemat Waktu! Kotak Masuk

Namun, sejumlah pertanyaan masih muncul, mulai dari pembiayaan wajib belajar prasekolah, status tenaga pendidik bila PAUD dinegerikan, hingga aturan masuk SD untuk anak usia 6 tahun. Menanggapi itu, Nia menegaskan pemerintah kini fokus memperluas akses sambil merumuskan regulasi lebih detail.

“Kami butuh dukungan semua pihak untuk menyampaikan betapa pentingnya PAUD bagi masa depan anak Indonesia.

Pendidikan bermutu hanya bisa terwujud bila guru berkualitas, akses setara, dan partisipasi publik berjalan beriringan,” tegasnya.

Baca Juga: Lagi Viral, Edit Foto Ala Photobox dengan Gemini AI, Jadi Estetik, Simpel, dan Murah

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Hikmah Nurul Auliya

Dengan peningkatan kualifikasi guru PAUD-SD dan wajib belajar 13 tahun, Kemendikdasmen optimistis kualitas pendidikan dasar di Indonesia akan semakin merata, sekaligus mengangkat harkat guru. ***