POJOKSATU.id - Ketegangan kembali mencuat di ruang diskusi para guru setelah unggahan Ahmad Topan Sanusi di grup Facebook Info Sertifikasi Guru menyoroti keterlambatan pencairan SKTP tanggal 27–28 Oktober yang belum menunjukkan perkembangan.

Unggahan itu langsung memicu gelombang kekesalan karena banyak guru merasa batas kesabaran mereka sudah mencapai titik kritis.

Sejak tanggal yang dinantikan terlewati tanpa kabar, berbagai spekulasi mulai bermunculan dan menciptakan kecemasan kolektif.

Guru menilai keterlambatan ini tidak lagi sekadar persoalan administrasi, melainkan menyangkut kepastian ekonomi dan penghargaan terhadap profesi pendidik.

Baca Juga: Hindari Gagal Registrasi! Simak Link Lapor Diri PPG Batch IV Kemenag yang Sering Dicari Guru

Suasana semakin memanas ketika wacana membentuk grup aksi bersama mulai didorong sebagai langkah alternatif untuk memperjuangkan kejelasan.

 

Keterlambatan SKTP Menjadi Pemicu Utama Geramnya Para Guru

Banyak guru mengaku mengalami ketegangan emosional sejak SKTP melewati tanggal 27–28 Oktober tanpa informasi yang jelas.

Baca Juga: Empat Ilmuwan Perempuan Bersinar di FWIS 2025, Riset Konkret untuk Masa Depan Indonesia

Mereka merasa telah menunggu dengan harapan besar, namun setiap hari justru dihadapkan pada ketidakpastian yang membuat situasi semakin berat.

Secara psikologis, para guru menganggap bahwa penundaan ini menghambat kestabilan finansial yang selama ini sangat mereka andalkan.

Ruang diskusi yang biasanya tenang mulai dipenuhi keluhan dan kekhawatiran dari guru-guru di berbagai daerah.

Situasi ini memperlihatkan bahwa komunikasi mengenai pencairan TPG masih belum transparan dan terencana secara matang.

 

Unggahan Ahmad Topan Sanusi Membuat Suara Ketidakpuasan Guru Makin Lantang

Dalam unggahannya, Ahmad Topan Sanusi menyebut bahwa situasi ini “sudah tidak bisa ditoleransi lagi,” dan pernyataan tersebut langsung menyentuh perasaan banyak guru.

Komentar-komentar berisi keluhan, kekesalan, dan kebingungan pun membanjiri kolom diskusi hanya dalam hitungan jam.

Baca Juga: AKBP Basuki Diamankan Propam Imbas Tewasnya Dosen Dwinanda Levi, Mahasiswa Untag Diminta Sabar

Banyak guru mengaku sudah menunggu sejak triwulan awal, tetapi tidak mendapatkan titik terang sedikit pun dari pihak berwenang.

Unggahan itu dianggap sebagai pemantik yang membuka pintu bagi guru untuk jujur menyampaikan keresahan yang selama ini ditahan.

Dari sanalah mulai muncul dorongan kuat untuk membentuk grup aksi demi mempercepat penyampaian tuntutan. 

 

WA Grup Aksi Diusulkan untuk Mempercepat Konsolidasi Informasi dan Solusi

Banyak guru menilai bahwa kelompok WhatsApp khusus dapat menjadi pusat koordinasi yang lebih terarah dibandingkan diskusi yang tersebar di banyak komunitas.

Baca Juga: Empat Ilmuwan Perempuan Bersinar di FWIS 2025, Riset Konkret untuk Masa Depan Indonesia

Mereka merasa informasi mengenai SKTP terlalu banyak versi dan sering kali tidak sinkron, sehingga memicu kesalahpahaman.

Dengan adanya satu ruang komunikasi, guru berharap bisa saling menguatkan serta mencari jawaban langsung dari sumber terpercaya.

Grup tersebut juga dianggap mampu mengorganisir langkah bersama jika diperlukan tindakan yang lebih strategis.

Keberadaan grup ini diharapkan menjadi wadah yang memperkuat posisi guru dalam memperjuangkan hak-hak mereka.

 

Guru Khawatir Keterlambatan Ini Mengindikasikan Masalah Administratif yang Lebih Besar

Sebagian guru menduga bahwa keterlambatan ini bukan sekadar persoalan waktu, tetapi mungkin terkait validasi data, kendala Info GTK, atau hambatan administrasi lainnya.

Ketidakhadiran penjelasan resmi membuat banyak dugaan berkembang dan memperbesar rasa cemas di kalangan guru.

Situasi ini juga membuat mereka merasa perlu bergerak lebih cepat untuk menghadapi kemungkinan penundaan lanjutan.

Guru khawatir bahwa jika tidak ada respons tegas, penyaluran berikutnya bisa mengalami nasib serupa atau bahkan lebih buruk.

Baca Juga: Dekranasda Tangsel Hadirkan Tangsel Art Festival 2025, Angkat Karya Kreatif dan UMKM Lokal

Ketidakpastian inilah yang akhirnya memperkuat urgensi pembentukan grup aksi bersama.

 

Kebersamaan Guru Menjadi Kekuatan Utama dalam Menghadapi Tarik Ulur SKTP

Semangat untuk bersatu bukan hanya dipicu oleh rasa marah, tetapi juga kebutuhan untuk menemukan solusi yang lebih efektif.

Baca Juga: Dekranasda Tangsel Hadirkan Tangsel Art Festival 2025, Angkat Karya Kreatif dan UMKM Lokal

Guru sadar bahwa suara individu sering kali tidak cukup kuat untuk mendorong respons dari pihak terkait.

Melalui kebersamaan, mereka berharap dapat membangun tekanan moral yang lebih solid dan mendorong pemerintah memperbaiki pola komunikasi.

Guru juga ingin memastikan bahwa keterlambatan SKTP tidak lagi dianggap sebagai hal yang lumrah dan dapat berulang tanpa evaluasi.

Baca Juga: Dekranasda Tangsel Hadirkan Tangsel Art Festival 2025, Angkat Karya Kreatif dan UMKM Lokal

Dengan kekompakan, guru berharap dapat memperjuangkan hak mereka secara lebih profesional dan terstruktur.

Keterlambatan SKTP 27–28 Oktober kembali memanaskan suasana di komunitas guru, terlebih setelah unggahan Ahmad Topan Sanusi memantik diskusi besar mengenai hak dan kejelasan informasi.

Tidak adanya penjelasan resmi membuat guru merasa perlu menyatukan suara melalui grup aksi yang lebih terorganisir.

Guru menilai bahwa persoalan ini bukan hanya teknis, tetapi berkaitan dengan penghargaan dan kepastian bagi profesi pendidik.

Mereka berharap langkah kolektif ini mampu mendorong perbaikan yang nyata dalam proses sertifikasi dan pencairan TPG.

Kini, para guru menunggu apakah gerakan ini benar-benar dapat membawa perubahan yang selama ini mereka nanti.***