POJOKSATU.ID - Warman Zai adalah salah satu dari sekian banyak guru yang mendedikasikan diri untuk pendidikan di daerah terpencil.

Mengajar Bahasa Inggris di SMA 1 Ulugawo, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, Warman setiap hari menghadapi tantangan akses jalan yang sulit.

Sekolah yang terletak di puncak bukit ini hanya bisa dicapai dengan kendaraan roda dua, melalui jalanan berbatu, berkerikil, dan licin saat musim hujan.

Kondisi jalan yang ekstrem memaksa Warman sering menuntun motornya demi keselamatan.

Baca Juga: Kemendikdasmen Terapkan Skema Swakelola Dana Revitalisasi Sekolah Langsung ke Rekening

Meski demikian, kesulitan ini tidak menyurutkan semangat Warman.

Lulusan Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Niha Raya Nias Selatan ini memilih kembali mengabdi di kampung halamannya sejak tahun 2017.

Statusnya sebagai guru honorer selama delapan tahun tidak menghalanginya untuk terus berkarya.

Ia sempat tidak bisa mendaftar PPPK karena belum ada formasi untuk guru Bahasa Inggris di wilayahnya.

Baca Juga: Kemendikdasmen Tuntaskan Pembangunan 11.179 Sekolah Rusak Bentuk Revitalisasi Sekolah

Dedikasi Warman mendapat perhatian dari pemerintah.

Pada tahun 2019, ia mulai menerima Tunjangan Khusus Guru (TKG) karena mengajar di daerah khusus.

Tunjangan ini memotivasi Warman untuk semakin aktif meningkatkan kompetensinya.

Berkat dukungan finansial tersebut, pada tahun 2022, ia berhasil menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan mendapatkan sertifikat pendidik.

Sejak saat itu, ia pun berhak menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG).

Dengan adanya TKG dan TPG, kesejahteraan Warman dan keluarganya ikut meningkat.

Pendapatan ini sangat membantu, terutama mengingat istrinya juga berstatus guru honorer di sekolah yang sama.

Tunjangan tersebut memungkinkannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mendukung profesinya, seperti membeli buku dan laptop untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar.

Baca Juga: Kemendikdasmen Terapkan Skema Swakelola Dana Revitalisasi Sekolah Langsung ke Rekening

Selain mengajar di sekolah, Warman juga mengabdi di lingkungan tempat tinggalnya.

Setiap Sabtu sore, ia secara sukarela mengajarkan Bahasa Inggris dasar kepada anak-anak usia SD dan SMP di sekitar rumahnya.

Hal ini membuktikan komitmennya yang kuat untuk memajukan pendidikan di tanah kelahirannya.

Ia sebagai guru honorer pun memiliki kesempatan mendapatkan TKG dan TPG.***

Baca Juga: Kemendikdasmen Tuntaskan Pembangunan 11.179 Sekolah Rusak Bentuk Revitalisasi Sekolah

Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android

Versi iOS

Channel WhatsApp

Fanpage Edugov

Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Ferdy Wamala