POJOKSATU.id - Pakar Teknik Mesin Pertanian IPB University, Prof Desrial, mengembangkan inovasi energi terbarukan berbasis sumber daya lokal dengan memanfaatkan minyak nyamplung dan biogas sebagai bahan bakar mesin pertanian.
Inovasi ini dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong kemandirian energi di sektor pertanian nasional.
Hal tersebut disampaikan Prof Desrial dalam Orasi Ilmiah Guru Besar yang digelar Sabtu (24/1/2026).
Ia menegaskan bahwa minyak nyamplung dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar mesin diesel pertanian tanpa melalui proses konversi kimia yang rumit.
Baca Juga: Dari Alat Musik Tradisional ke Modern, Ini Proses Evolusinya yang Jarang Disadari
“Minyak nyamplung dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar mesin diesel pertanian. Ini bagian dari pengembangan teknologi energi terbarukan di sektor pertanian,” ujarnya.
Potensi Besar Minyak Nyamplung
Menurut Prof Desrial, potensi minyak nyamplung di Indonesia mencapai sekitar 4,8 juta ton per tahun.
Angka ini menjadikan nyamplung sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang sangat prospektif untuk dikembangkan secara nasional.
Pengujian kinerja mesin diesel berbahan bakar minyak nyamplung murni telah dilakukan dan menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Baca Juga: Boleh KB Meski Belum Menikah? Ternyata Bukan Cuma Buat Cegah Kehamilan, Simak Penjelasannya
Mesin diesel tetap mampu bekerja dengan pola kinerja yang relatif serupa dengan penggunaan bahan bakar solar.
“Hasil pengujian menunjukkan bahwa motor diesel dengan bahan bakar minyak nyamplung memiliki pola kinerja yang serupa dengan bahan bakar solar,” ungkapnya.
Riset ini merupakan bagian dari pengembangan rekayasa mesin diesel berbahan bakar nabati, khususnya minyak kelapa dan minyak nyamplung.
Dengan memanfaatkan sistem pemanas bahan bakar dari panas gas buang, mesin diesel konvensional dapat diadaptasi menggunakan minyak nabati murni.
Siap Diterapkan di Lapangan
Berdasarkan uji laboratorium dan lapangan, mesin diesel berbahan bakar nabati tetap beroperasi stabil dengan penurunan daya yang masih dalam batas wajar.
Teknologi ini berpotensi diterapkan secara luas, mulai dari alat dan mesin pertanian (alsintan), genset, hingga mesin kapal nelayan.
Baca Juga: Mahasiswa UMS Tembus Black Hat Europe London, Kenalkan Virtual Lab Keamanan Siber
Inovasi tersebut dinilai sangat relevan bagi wilayah perdesaan dan daerah terpencil yang masih memiliki keterbatasan akses energi.
Atas pengembangannya, riset Prof Desrial masuk dalam daftar 104 inovasi paling prospektif di Indonesia.
Konverter Biogas untuk Petani dan Peternak
Selain minyak nabati, Prof Desrial juga mengembangkan teknologi konverter biogas sebagai solusi energi terbarukan di kawasan perdesaan.
Konverter ini dirancang sederhana, mudah difabrikasi, dan dapat langsung dipasang pada motor bakar bensin sebagai pengganti karburator.
Baca Juga: PIKMI 2026 Resmi Dibuka, Universitas Nusa Mandiri Bidik Prestasi Lebih Tinggi
“Potensi biogas di kawasan peternakan sangat besar. Di Indonesia, potensinya mencapai sekitar 28 juta meter kubik per tahun. Ini bisa dimanfaatkan untuk motor bakar bensin,” jelasnya.
Konverter biogas tersebut telah diuji langsung di peternakan sapi dengan memanfaatkan biogas dari digester.
Hasilnya, pompa air berbahan bakar biogas mampu beroperasi secara stabil dan layak digunakan oleh petani maupun peternak.
Sejalan dengan Kebijakan Energi Nasional
Prof Desrial juga menyinggung kebijakan energi nasional yang saat ini tengah mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati melalui program B40 dan persiapan menuju B50.
Kebijakan ini sejalan dengan upaya pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian dalam memperkuat energi berbasis sumber daya lokal.
“Inovasi ini menegaskan bahwa pembangunan industri alsintan nasional harus berpijak pada tiga pilar utama, yaitu kesesuaian teknologi dengan agroekosistem tropis, pemanfaatan energi terbarukan berbasis sumber daya lokal, serta kesiapan teknologi untuk diadopsi oleh pengguna,” tegasnya.
Di tengah tantangan krisis energi global, inovasi ini menjadi pengingat bahwa solusi bisa lahir dari kekayaan lokal.
Pertanian tak hanya soal pangan, tetapi juga masa depan energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan bagi Indonesia.***




