POJOKSATU.id — Di dunia pendidikan, membaca bukan sekadar aktivitas rutin tetapi merupakan fondasi utama agar siswa dapat berpikir kritis, kreatif, dan berdaya saing.
Pemerintah melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menetapkan gerakan inI sebagai program strategis untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis di sekolah.
GLS yang mulai dilaksanakan sekitar tahun 2016, bertujuan menumbuhkan dan menguatkan karakter siswa melalui pembudayaan ekosistem literasi agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Baca Juga: Blusukan ke Timur, Gibran Tunjukkan Gaya Kepemimpinan Muda yang Dekat dengan Rakyat
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa meskipun program telah berjalan di banyak sekolah, masih banyak pertanyaan mengenai efektivitasnya.
Pengertian dan Tujuan Gerakan Literasi Sekolah
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah upaya menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang kaya literasi, artinya membaca, menulis, menyimak, dan berbicara menjadi bagian dari budaya sekolah.
Tujuan umum GLS adalah menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi membaca serta menulis siswa dan meningkatkan kapasitas warga sekolah agar literat sepanjang hidup.
Baca Juga: Gubernur Lagi, Rakyat Lelah, Mengapa Kepala Daerah Tak Kapok Korupsi?
Sedangkan tujuannya mencakup pembiasaan membaca minimal 15 menit sebelum pembelajaran, penyediaan lingkungan teks yang kaya (sudut baca dan perpustakaan mini), hingga peningkatan minat baca dan keterampilan menulis.
Tahapan Pelaksanaan GLS
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dilaksanakan melalui tiga tahap utama, yakni:
-Pembiasaan, kegiatan ringan seperti membaca 10-15 menit sebelum kelas dimulai, menata sudut baca, menciptakan lingkungan teks.
-Pengembangan, setelah kebiasaan terbentuk, dilanjutkan dengan kegiatan menulis tanggapan, diskusi buku, memperluas jenis bacaan.
-Pembelajaran, literasi diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran, bukan hanya Bahasa Indonesia, siswa dilatih memahami teks, mengevaluasi informasi, dan memproduksi tulisan.
Apakah Gerakan Literasi Indonesia Ini Efektif?
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan GLS dapat meningkatkan minat baca dan kemampuan memahami teks siswa.
Misalnya, studi pada SD Lab School menunjukkan bahwa setelah program GLS berjalan, siswa terbiasa membaca dan tergerak untuk menulis karya sederhana seperti cerpen atau puisi.
Adapun laporan evaluasi dari Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan menyebut bahwa meskipun data lengkap belum tersedia, program GLS sudah menunjukkan langkah positif dalam menumbuhkan budaya literasi.
Baca Juga: Praktis Banget! Cara Bayar Pajak Motor Mobil Lewat Samsat Keliling, Lengkap Jadwal dan Titiknya
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa GLS memiliki potensi efektif, namun keberhasilannya masih sangat tergantung pada konteks sekolah, dukungan guru, dan sarana yang tersedia.
Hambatan dan Tantangan Utama Implementasi GLS
Beberapa sekolah menghadapi kendala dalam implementasi GLS, antara lain:
-Keterbatasan sarana dan prasarana (koleksi buku, sudut baca, perpustakaan yang menarik) yang belum memadai.
-Guru dan staf yang belum sepenuhnya memahami atau belum menjadi agen literasi aktif.
-Kebiasaan literasi belum melebur menjadi budaya sekolah secara menyeluruh, kegiatan pembiasaan seringkali saja, tanpa tindak lanjut pengembangan.
-Variabilitas antar sekolah, kondisi sosial ekonomi, dukungan orang tua, hingga lokasi (perkotaaan dan pedesaan) turut memengaruhi hasil implementasi.
Cara Efektif Supaya GLS Lebih Efektif
Untuk memastikan GLS benar-benar meningkatkan keterampilan membaca siswa, berikut beberapa langkah disarankan, yakni:
-Adanya kolaborasi guru, perpustakaan, dan orang tua. Guru harus menjadi model literasi, perpustakaan harus ramah-anak, orang tua mendukung aktivitas membaca di rumah.
-Monitoring dan evaluasi rutin. Sekolah perlu mengukur capaian literasi secara periodik (minat baca, kemampuan memahami teks, aktivitas menulis) dan menyesuaikan strategi.
-Pengayaan bacaan dan lingkungan literasi kaya. Selain buku pelajaran, sediakan buku-bacaan populer atau digital reading supaya siswa merasa tertarik.
-Integrasi literasi ke semua mata pelajaran. Literasi bukan hanya tugas guru Bahasa Indonesia; guru IPA, IPS, Matematika dan lainnya juga bisa mengangkat kegiatan membaca, menulis, dan refleksi.
Baca Juga: Inflasi Tetap Jinak Meski Harga Cabai dan Emas Naik Apa Jurus Pemerintah Jaga Stabilitas?
Fleksibilitas dan kreativitas kegiatan, misalnya klub membaca, lomba menulis cerita, pojok membaca outdoor, digital reading challenge supaya literasi terasa menarik bagi siswa zaman sekarang.
Program Gerakan Literasi Sekolah telah menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat budaya membaca dan menulis di sekolah-sekolah Indonesia.
Meskipun belum sempurna dan hasilnya bervariasi antar sekolah, data dan penelitian menunjukkan bahwa GLS dapat mengangkat minat baca dan keterampilan literasi siswa bila diimplementasikan dengan baik, berkelanjutan, dan didukung seluruh pemangku kepentingan.
Sekolah yang mampu menjadikan membaca dan menulis sebagai kebiasaan kolektif akan lebih dekat pada visi “sekolah literat” yang produktif, kreatif, dan adaptif di abad ke-21.
Baca Juga: Cara Cek Jurnal Scopus Asli atau Palsu, Penting Diketahui Dosen Biar Tak Kena Sanksi!
Semoga artikel ini bermanfaat bagi guru, sekolah, dan orang tua yang ingin menguatkan literasi di lingkungan pendidikan. ***




