POJOKSATU.ID - Kabar kepastian dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) yang menyatakan BSU Tahap II tidak cair pada November atau Desember 2025.

Itu bak sambaran petir di siang bolong bagi jutaan pekerja bergaji pas-pasan.

Bagi mereka yang berpenghasilan maksimal Rp3.500.000 yaitu kelompok sasaran utama BSU sebelumnya.

Menurut mereka akhir tahun seharusnya menjadi momen lega dengan adanya bantuan tambahan.

Baca Juga: Warning! Cuma Lulusan Baru 1 Tahun yang Boleh Daftar Magang 80.000 Kuota Digaji UMK! Kemnaker Tutup Pintu buat Fresh Graduate Tua?

Namun, nihilnya kabar Bantuan Subsidi Upah (BSU) lanjutan mengubahnya menjadi periode kecemasan dan kepastian anggaran yang semakin mencekik.


Kenaikan Harga Mengancam, BSU Diharapkan Penyelamat

Kondisi ekonomi mikro pekerja saat ini jauh dari kata stabil.

Data menunjukkan, menjelang akhir tahun harga-harga kebutuhan pokok cenderung mengalami kenaikan signifikan.

Mulai dari bahan pangan hingga biaya sekolah anak. Kenaikan inflasi musiman ini seringkali tidak mampu diimbangi oleh kenaikan upah.

Baca Juga: Lulusan PPG 2025 Auto Senang! TPG Bulanan Siap Sambut Guru Baru, Tak Perlu Cemas Nunggu SKTP 3 Bulan

Masyarakat sudah berharap penuh. Sebab uang BSU Rp600 ribu yang cair kemarin (Juni-Agustus) hanya cukup untuk menutup lubang utang dan kebutuhan mendesak.

Sekarang mau akhir tahun, harga beras naik lagi. Kalau tidak ada BSU Tahap II, bagaimana mereka bisa bertahan?

Masyarakat secara struktural sangat rentan terhadap guncangan ekonomi.

Kelompok masyarakata ini dulu menjadi prioritas penerima BSU 2025, kini merasa diabaikan di saat mereka paling membutuhkan dukungan fiskal dari pemerintah.

Fokus pada Kriteria Rentan Gaji di Bawah Rp3,5 Juta

Perlu diingat kembali, BSU 2025 dirancang khusus untuk kelompok pekerja yang terdaftar aktif di BPJS Ketenagakerjaan namun memiliki keterbatasan daya beli.

Ditandai dengan batasan gaji Rp3.500.000. Kelompok inilah yang paling merasakan dampak ketiadaan BSU lanjutan.

Ketiadaan BSU Tahap II tidak hanya menghilangkan Rp600.000 di kantong mereka.

Tetapi juga menghilangkan harapan akan adanya bantalan keuangan ekstra menjelang pengeluaran besar seperti libur akhir tahun atau persiapan tahun ajaran baru.

Baca Juga: Cium Kaki

Organisasi buruh dan serikat pekerja pun mulai bereaksi.

Mereka mendesak Kemnaker untuk segera melakukan evaluasi ulang dan mencari celah anggaran untuk memberikan stimulus atau bantuan pengganti di akhir tahun.

Pekerja di sektor formal dengan gaji rendah adalah tulang punggung ekonomi.

Jika daya beli mereka merosot karena harga mahal, dampaknya akan meluas.

Baca Juga: 43 Instansi Sudah Terbitkan SK PPPK Paruh Waktu 2025, Cek Daftarnya

Masyarakat mendesak pemerintah tidak hanya menutup buku BSU 2025, tapi segera merencanakan bantuan alternatif untuk akhir tahun.


Permohonan Khusus untuk Kebijakan Akhir Tahun

Meskipun secara faktual Kemnaker telah menutup pintu BSU Tahap II karena anggaran sudah habis dan tidak ada arahan Presiden, desakan dari pekerja tetap bergema.

Desakan ini bukanlah sekadar meminta dana, melainkan permohonan agar pemerintah peka terhadap situasi human interest pekerja.

Baca Juga: Dilema Guru, TPG TW 3 Belum Cair, TW 4 Sudah di Depan Mata, Begini Solusinya Agar Akhir Tahun Bisa Cair Ganda!

Mereka meminta pemerintah mempertimbangkan:

1. Bantuan Langsung Tunai (BLT) pengganti yang disasar khusus untuk pekerja gaji rendah.

2. Subsidi harga kebutuhan pokok menjelang Hari Besar Keagamaan.

Pada akhirnya, bagi pekerja dengan gaji pas-pasan BSU bukan sekadar bantuan, melainkan garis pertahanan terakhir untuk menjaga dapur tetap mengepul.

Sementara pemerintah fokus pada kebijakan makro, jutaan buruh menanti kebijakan yang secara nyata dan segera menyentuh kantong mereka.

Suara rakyat kecil harus didengar. Pemerintah harus segera mencari solusi bantuan akhir tahun pengganti BSU Tahap 2!***