POJOKSATU.id - Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Ditjensaintek) Kemdiktisaintek bersama ITB dan TikTok Indonesia menggelar Seminar dan Workshop Nasional Fuel Your Potential (FYP) 2025 di Sabuga ITB.
Mengusung tema Civitas Akademika sebagai Agen Komunikator Sains di Era Digital, acara ini memotret meningkatnya kebutuhan akan komunikasi sains yang kredibel, seru, dan dekat dengan keseharian publik.
Kegiatan berlangsung sejak pagi, diisi rangkaian pembukaan, sambutan, keynote utama, diskusi panel, sesi inspiratif, hingga workshop yang berfokus pada konten STEM.
Baca Juga: Cek Daerahmu, Inilah Daftar Wilayah Jabar yang Sudah Terima ATENSI YAPI Desember 2025
Antusiasme peserta dari berbagai kampus tampak langsung sejak awal, menandai besarnya ketertarikan generasi muda terhadap literasi sains sekaligus peluang pemanfaatan ruang digital sebagai kanal edukatif yang efektif.
Akademisi Didorong Jadi Penggerak Komunikasi Sains
Dikutip dari rilis resmi ITB pada Senin (8/12/2025), Prof. Yudi Darma, S.Si., M.Si., Ph.D. menegaskan bahwa era digital membuka ruang luas bagi sivitas akademika untuk menjadi rujukan publik.
Ia memaparkan data bahwa lebih dari 80% penduduk Indonesia kini memiliki akses internet, peluang besar untuk menghadirkan konten berbasis bukti secara kreatif.
Baca Juga: Muzakkir Manaf Anggap Pihak yang Tolak Bantuan Asing ke Aceh adalah Orang Bodoh
Menurut Prof. Yudi, ketertarikan masyarakat terhadap sains sebenarnya tinggi, hanya saja figur ilmiah yang konsisten tampil di ruang digital masih terbatas.
Ia menyoroti tantangan konten populer yang sering mengedepankan viralitas ketimbang kredibilitas.
“Ruang digital tidak hanya menjadi tempat berbagi informasi, tetapi wadah pendidikan yang sangat potensial. Kita ingin mahasiswa dan akademisi mampu menghadirkan konten yang tidak hanya viral, tetapi juga mencerahkan,” ujarnya pada Kamis(4/12/2025).
Baca Juga: Untuk Keamanan dan Penerangan, Pemkot Bandung Lakukan Pemangkasan Pohon di Supratman–Riau
Ia berharap FYP dapat menjadi inkubator gagasan yang memperkuat budaya ilmiah dan mendorong citizen science di Indonesia.
TikTok Dorong Ekosistem Edukasi Makin Luas
Executive Director Tokopedia & TikTok E-Commerce Indonesia, Stephanie Susilo, menyebut bahwa konten edukasi kini termasuk lima kategori paling banyak dicari masyarakat di TikTok.
Untuk memperkuat akses tersebut, TikTok menghadirkan STEM Feed, fitur khusus berisi kurasi konten sains dan teknologi.
Baca Juga: Delapan Film Karya Siswa SMK Budi Luhur Tayang di XXI saat Libur Sekolah
Stephanie menegaskan komitmen TikTok dalam membangun ekosistem yang mendorong literasi sains dan pemikiran kritis generasi muda.
Kolaborasi dengan kampus dan pemerintah dinilai mampu membuat riset dan inovasi terasa lebih dekat dengan masyarakat.
“Platform digital dapat menjadi jembatan agar riset dan inovasi yang lahir di kampus dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” ungkapnya.
Baca Juga: Dana ATENSI YAPI 2026 Segera Masuk, Simak Bulan dan Persyaratannya
ITB Perkuat Peran Civitas Akademika
Di kesempatan lain, Direktur Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. apt. Muhamad Insanu, S.Si., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan kepada ITB sebagai tuan rumah.
Ia menilai perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memiliki tugas memastikan ilmu itu hadir dalam format yang mudah dijangkau publik.
Ia menekankan efektivitas pendekatan PESO (Paid, Earned, Shared, Owned Media) untuk mengemas pesan sains menjadi informasi yang menarik dan mudah dicerna.
Baca Juga: OJK Peringatkan Era Baru Penipuan Digital: AI Mampu Meniru Suara dan Wajah dengan Akurat
“Komunikasi sains adalah upaya kolektif,” jelasnya, seraya menyebut FYP sebagai wadah strategis bagi mahasiswa dan akademisi untuk mengasah keterampilan komunikasi digital.
Keynote, Panel, dan Workshop Perdalam Kapasitas Komunikasi Sains
Acara berlanjut dengan keynote oleh Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., yang membahas kebijakan transformasi pendidikan tinggi di era digital, serta Prof. Ir. I Gde Wenten, M.Sc., Ph.D., yang menegaskan urgensi diseminasi sains sebagai pilar kemajuan bangsa.
Baca Juga: Hasto: Alam Sedang Marah, Politik Harus Mengedepankan Perawatan Bumi
Diskusi panel menyoroti peran akademisi dan kreator dalam membangun ekosistem edukasi digital yang sehat.
Sesi inspiratif menghadirkan kreator edukatif seperti Imam Santoso dan Richard Silalahi (@inisikiboo), yang membagikan pengalaman merancang konten sains yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pada sesi workshop, peserta mendapatkan pelatihan teknis pembuatan konten STEM langsung dari tim TikTok Indonesia dan kreator Jerome Polin.
Mereka juga diajarkan strategi monetisasi konten agar karya edukatif dapat bertahan dan menjangkau audiens lebih luas.
Menuju Ekosistem Sains yang Lebih Inklusif
FYP 2025 menjadi wujud kerja sama lintas sektor antara pemerintah, perguruan tinggi, dan platform digital untuk memperluas akses literasi sains.
Dengan ratusan peserta dari berbagai daerah, acara ini memperlihatkan bahwa komunikasi sains yang kredibel dan kreatif makin dibutuhkan masyarakat di tengah derasnya arus informasi. ***




