POJOKSATU.id, PROGRAM Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan (Daljab) Kemenag Tahun 2025 kini hadir dengan sejumlah pembaruan, termasuk pada format Uji Pengetahuan (UP).
Tahun ini, UP dalam PPG Daljab tidak hanya berbentuk tes objektif, tetapi juga mencakup esai berbasis studi kasus yang menggambarkan situasi nyata di kelas.
Guru diminta menganalisis masalah, menyusun solusi, dan menuliskan refleksi pembelajaran dalam waktu 30 menit, dengan batas maksimal 500 kata.
PPG Daljab dirancang untuk mencetak guru profesional, kreatif, inovatif, serta bertakwa.
Sebelum dinyatakan lulus, peserta wajib mengikuti pretest dan ujian esai yang menguji empat kompetensi dasar guru: kepribadian, profesional, pedagogik, dan sosial.
Salah satu peserta PPG Daljab berbagi pengalamannya dalam menghadapi tantangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
Ia mengaku sering mendapati rendahnya minat dan partisipasi siswa, terutama saat menyampaikan materi yang bersifat abstrak, seperti nilai kejujuran.
“Banyak siswa terlihat pasif dan kurang terlibat dalam diskusi, sehingga suasana kelas jadi kurang hidup,” ujarnya.
Baca Juga: Pengalihan Status PPPK dan Honorer Ke PNS, Jadi Pembahasan Serius KSP
Guru itu menyadari pendekatan konvensional yang digunakan membuat interaksi di kelas terbatas dan berdampak pada hasil belajar siswa.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia kemudian menerapkan pembelajaran kontekstual yang dipadukan dengan value based learning atau pembelajaran berbasis nilai.
Setiap materi dikaitkan dengan situasi nyata yang dekat dengan kehidupan siswa, misalnya melalui studi kasus tentang kejujuran di lingkungan sekolah.
Ia juga melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan seperti diskusi kelompok, proyek kreatif berupa drama dan poster kampanye nilai, hingga sesi berbagi pengalaman pribadi.
Baca Juga: Malam Minggu Kalian Dijamin Gak Bakalan Basi! Pemprov DKI Hadirkan Night Safari di Ragunan
Pendekatan ini membuat pembelajaran menjadi lebih hidup, bermakna, dan menggugah emosi siswa.
Dampaknya pun terasa signifikan. Siswa mulai aktif berdiskusi, lebih percaya diri mengemukakan pendapat, serta menunjukkan peningkatan sikap keislaman, terutama dalam hal kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi.
Evaluasi formatif juga menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap materi PAI.
Beberapa siswa yang dulunya pasif kini mulai menunjukkan semangat baru untuk belajar. Suasana kelas berubah menjadi lebih dinamis dan menyenangkan.
Baca Juga: Malam Minggu Kalian Dijamin Gak Bakalan Basi! Pemprov DKI Hadirkan Night Safari di Ragunan
Guru tersebut kemudian menyimpulkan bahwa penyampaian nilai-nilai keislaman akan lebih bermakna bila dikaitkan langsung dengan konteks kehidupan siswa.
Ia menilai, pembelajaran yang hanya bersifat teoritis sering kali sulit dipahami dan kurang membekas.
“Ketika siswa merasakan relevansi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, pembelajaran menjadi lebih menyentuh dan inspiratif,” katanya.
Baca Juga: Mengenal Sosok di Balik Logo Sekolah Garuda: dari Santri Gontor untuk Indonesia Emas
Pengalaman ini mengajarkannya bahwa guru bukan hanya penyampai materi, tetapi juga fasilitator pembentuk karakter. Pembelajaran efektif, menurutnya, lahir dari empati, relevansi, dan keteladanan.
Ketika siswa melihat manfaat ajaran Islam dalam keseharian mereka, maka PAI bukan sekadar pelajaran, melainkan panduan hidup yang mereka hayati. ***




