PojokSatu.id - Menjelang pembukaan seleksi CPNS 2026, satu topik kembali jadi perbincangan hangat.
Benarkah formasi dengan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) Non-CAT bisa membuat peserta gugur meski nilai SKD tinggi?
Pertanyaan ini wajar, sebab pada seleksi tahun-tahun sebelumnya, sejumlah peserta gagal di tahap akhir karena tak lolos komponen SKB yang tidak menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT).
Baca Juga: Inflasi 0,28 persen Hasil Operasi Senyap Pemerintah dan BI Jaga Harga Pangan Tetap Aman
Isu ini pun menjadi perhatian banyak pihak.
Beberapa media nasional menyoroti bahwa peserta disarankan tidak gegabah memilih formasi dengan SKB non-CAT.
Hal itu disebabkan karena risiko SKB non-CAT lebih tinggi dibandingkan SKB berbasis CAT.
Apa Itu SKB Non-CAT?
Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) adalah tahap lanjutan setelah pelamar lulus ambang batas Seleksi Kompetensi Dasar (SKD).
Namun, tidak semua instansi menerapkan tes berbasis sistem komputer (CAT).
Beberapa formasi, seperti di Kemenkumham, Kemenhub, dan BNPB, menggunakan metode non-CAT, berupa tes psikologi, wawancara, tes fisik, atau tes kesamaptaan.
Untuk itu pelamar CPNS 2026 disarankan lebih cermat meninjau jenis SKB dalam formasi yang dipilih.
Baca Juga: Kadin Tangsel Umumkan Peserta Resmi MUKOTA IV, 98 Peserta Versi SC Gugur
SKB non-CAT dinilai lebih berisiko karena hasilnya bisa bersifat eliminatif.Yang dimana satu kesalahan kecil bisa membuat peserta langsung gugur.
Bukti di Lapangan, Gugur Meski Nilai SKD Tinggi
Pengalaman seleksi tahun-tahun sebelumnya memperlihatkan pola yang sama.
Berkaca dalam seleksi CPNS 2024 di Kemenkumham (Kanwil NTB), banyak peserta dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS).
Rata-rata disebabkan karena gagal dalam tes kesehatan dan psikotes bagian dari SKB non-CAT.
Baca Juga: Guru Madrasah Masih Sulit Diangkat PPPK, Ini Akar Masalah yang Tak Kunjung Tuntas
Beberapa menyebut bahwa beberapa tes non-CAT seperti wawancara kepribadian dan kesamaptaan bersifat menggugurkan.
Artinya, meski peserta sudah lolos passing grade SKD, kegagalan di satu komponen non-CAT bisa langsung menghapus peluang menjadi ASN.
Mengapa SKB Non-CAT Dianggap Berisiko?
Sederhananya, SKB CAT mengandalkan sistem skor digital yang objektif, sementara SKB non-CAT melibatkan penilaian manual oleh penguji.
Artinya, ada potensi perbedaan standar antarinstansi.
Tes non-CAT juga biasanya menuntut kesiapan fisik dan psikologis tinggi.
Kegagalan dalam satu unsur seperti tekanan darah, berat badan, atau hasil psikotes bisa membuat peserta langsung gugur tanpa memperhitungkan nilai sebelumnya.
Maka dari itu, pelamar disarankan memilih formasi dengan SKB CAT penuh, terutama jika menginginkan proses yang transparan dan terukur.
Tips Aman untuk Pelamar CPNS 2026
Sebelum mendaftar, pahami terlebih dahulu mekanisme seleksi di instansi tujuan.
Berikut beberapa tips penting dari pengamat ASN dan hasil evaluasi media nasional:
1. Cek metode SKB di pengumuman formasi. Pastikan tahu apakah CAT atau non-CAT.
2. Siapkan fisik dan mental. Tes lapangan, psikotes, atau kesehatan sering kali jadi faktor gugur.
3. Jangan tergiur jumlah formasi besar. Teliti syarat dan mekanisme setiap instansi.
4. Utamakan formasi dengan SKB CAT. Nilai lebih objektif dan kecil kemungkinan digugurkan.
Baca Juga: Membangun Karir di Dunia Maritim: Profil Jurusan NKN SMK KAL 2 Surabaya, Lulusan Siap Jadi Perwira
5. Pahami bobot nilai. Beberapa instansi menerapkan sistem eliminasi pada tes tertentu.
Dengan persiapan matang, peserta bisa menghindari kegagalan akibat kurang memahami sistem seleksi.
Formasi dengan SKB non-CAT bukan berarti buruk, tapi memiliki tantangan tersendiri.
Baca Juga: Andra Soni Gandeng Mahasiswa dan Seniman, Bukti Banten Makin Terbuka untuk Kolaborasi
Tes non-CAT kerap menilai aspek kepribadian, fisik, dan kesehatan, hal yang sulit diukur angka semata.
Karena itu, bagi calon pelamar CPNS 2026, penting untuk membaca dengan saksama setiap pengumuman instansi.
Satu keputusan kecil dalam memilih formasi bisa menentukan nasib akhir: lolos sebagai ASN atau gugur di tahap akhir.***




