POJOKSATU.id, TIDAK banyak yang tahu bahwa dalam khazanah bahasa Indonesia terdapat istilah khusus untuk menyebut hari setelah lusa. Selama ini, kita terbiasa menggunakan kata besok dan lusa dalam percakapan sehari-hari.

Namun, ternyata kosakata Nusantara menyimpan istilah lain yang sangat kaya dan punya urutan waktu yang jelas.

Urutan Penanda Waktu

Dalam tradisi kosakata Nusantara, urutan waktu disebut dengan istilah yang spesifik:

- Besok adalah satu hari setelah hari ini (H+1)
- Lusa adalah dua hari setelah hari ini (H+2)
- Tulat atau langkat adalah hari ketiga setelah hari ini (H+3), yaitu hari sesudah lusa
- Tubin adalah hari keempat setelah hari ini (H+4), yaitu dua hari setelah lusa

Kekayaan Kosakata Penanda Waktu

Bahasa adalah cermin budaya. Masyyarakat Indonesia sejak dahulu telah mengenal istilah yang lebih detail dalam menyebut penanda waktu harian.

Tidak berhenti pada lusa, ada kosakata yang menunjukkan hari ketiga bahkan keempat setelah hari ini.

Hal ini menegaskan bahwa bahasa lokal di Nusantara memiliki sistem penanggalan dan pemahaman waktu yang sangat kaya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ditemukan dua istilah yang jarang digunakan:

- Tulat (juga disebut langkat): berarti hari sesudah lusa atau hari ketiga setelah hari ini.
Contoh: Jika hari ini Senin, maka tulat jatuh pada Kamis.

- Tubin: berarti hari keempat dari sekarang, yaitu dua hari setelah lusa.
Contoh: Jika hari ini Senin, maka tubin jatuh pada Jumat.

Menariknya, kedua isttilah ini disebut sebagai kosakata yang digunakan dalam kesusastraan Melayu klasik, sehingga bukan hanya istilah keseharian tapi juga bagian dari tradisi sastra lama.

Contoh Kalimat Penggunaan

1. Tulat

“Kita jadi berangkat ke Jogja tulat, ya. Jadi masih ada waktu buat persiapan.”

“Ujian matematika baru dilaksanakan tulat, jangan lupa belajar.”

2. Tubin

“Pertandingan final akan digelar tubin, jadi kita bisa nonton bareng.”

“Jangan lupa, jadwal medical check‑up kamu tubin, jangan sampai terlewat.”

Dalam percakapan modern, istilah-istilah tersebut hampir tidak pernah digunakan.

Kini, mayoritas masyarakat lebih memilih cara sederhana dengan menyebut “tiga hari lagi” atau “empat hari lagi”.

Padahal, jika istilah tersebut tetap dipertahankan, percakapan sehari-hari akan terasa lebih ringkas sekaligus memperkaya kosakata bahasa Indonesia.

Menjadi Warisan Linguistik Nusantara

Walau jarang terdengar, kosakata ini merupakan bukti bahwa masyarakat Indonesia memiliki tradisi linguistik yang kuat.

Setiap istilah menyimpan cerita dan sejarah yang mencerminkan cara pandang masyarakat terhadap waktu.

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Mengetahui istilah seperti tulat, langkat, dan tubin membantu kita menyadari betapa luasnya khazanah bahasa Indonesia yang belum sepenuhnya tergali.

Dengan mengenali kembali istilah‑istilah ini, generasi muda bisa ikut menjaga warisan linguistik Nusantara agar tidak hilang ditelan zaman.