POJOKSATU.id — Dalam keseharian, penggunaan kata-kata dalam Bahasa Indonesia tidak hanya soal benar secara tata bahasa, tapi juga tepat secara makna. Salah satu contoh yang sering menimbulkan kerancuan adalah penggunaan kata bergeming" dan frasa "tak bergeming".
Banyak orang mengira "tak bergeming" bermakna "diam", padahal secara semantik dan sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maknanya justru sebaliknya.
Bergeming Bukan Sekadar Kata
Menurut KBBI, "bergeming" berarti diam atau tidak bergerak sedikit pun. Kata ini mengandung makna keteguhan, tidak goyah, atau tidak menunjukkan reaksi terhadap sesuatu.
Misalnya, dalam kalimat "Ia tetap bergeming meski diteriaki", kata itu menggambarkan seseorang yang tetap tenang dan tidak berubah posisi atau pendiriannya.
Namun, masalah muncul ketika kata ini disandingkan dengan kata "tidak" atau "tak". Banyak orang yang menganggap "tak bergeming" sama dengan tetap diam, padahal jika ditafsirkan secara harfiah, "tak bergeming" justru berarti "tidak diam" atau "bergerak".
Baca Juga: Pekerjaan Saluran Air di Karawang Diprotes karena Tak Ada Rambu
Contoh Kalimat yang Menyesatkan
Kesalahan umum bisa ditemukan dalam kalimat seperti, "Mahasiswa itu tetap tak bergeming pada pendiriannya."
Kalimat ini secara semantik berarti mahasiswa tersebut bergerak dari pendiriannya, padahal maksud si penutur kemungkinan besar adalah bahwa ia tetap kukuh dan tidak bergeser sedikit pun.
Kalimat yang benar seharusnya adalah:
"Mahasiswa itu tetap bergeming pada pendiriannya."
Dengan begitu, maknanya jelas: mahasiswa tersebut tetap diam, tidak terpengaruh, dan tidak mengubah sikap atau pandangannya.
Baca Juga: KAI Daop 3 Cirebon Tangani Mud Pumping, Untuk Meningkatkan Kenyamanan Pelanggan
Mengapa Hal Ini Penting?
Kesalahan kecil seperti ini bisa berdampak besar, terutama dalam konteks komunikasi resmi, tulisan ilmiah, jurnalisme, atau pidato publik.
Ketidaktepatan memilih kata bukan hanya membuat kalimat rancu, tetapi juga bisa mengubah arti sepenuhnya dari pesan yang disampaikan.
Hal ini juga menunjukkan bahwa pemahaman semantik (makna kata) sama pentingnya dengan pemahaman sintaksis (struktur kalimat).
Susunan kata dan frasa yang tidak tepat bisa menghasilkan makna yang bertolak belakang dari maksud awal penutur.
Peran KBBI dalam Standarisasi Bahasa
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjadi rujukan utama dalam menentukan arti kata yang benar.
Dalam kasus "bergeming", KBBI tegas menjelaskan bahwa kata tersebut berarti "diam saja" atau "tidak bergerak sedikit juga".
Maka, menambahkan "tidak" di depannya akan secara logis membentuk arti "tidak diam", bukan "diam terus-menerus".
Menghindari Kesalahan Serupa
Baca Juga: Gelar Pesta Ulang Tahun Senilai Rp1 Miliar, Ria Ricis: Ajang Silaturahmi dan Perayaan Diri
Penggunaan kata seperti ini sering luput dari perhatian karena telah menjadi kebiasaan dalam bahasa lisan atau tulisan media sosial.
Padahal, kebiasaan yang salah jika dibiarkan bisa menjadi kelaziman yang membingungkan.
Oleh sebab itu, penting bagi penutur Bahasa Indonesia untuk memperhatikan makna sebenarnya dari setiap kata dan menghindari penggunaan istilah secara sembarangan.
Kesalahan seperti "tak bergeming" yang dimaksudkan sebagai "diam tak berubah" sebaiknya diperbaiki agar sesuai dengan struktur dan arti yang tepat.
Bahasa yang baik bukan hanya soal estetika, tapi juga ketepatan dalam menyampaikan maksud ***




