POJOKSATU.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama organisasi eksplorasi laut global OceanX berhasil menyelesaikan misi penelitian laut dalam bertajuk OCEANX-BRIN Collaborative Deep-sea Research and Capacity Building Program 2025 – Mission Leg 2.

Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, menyampaikan bahwa leg kedua misi ini dilaksanakan pada 5–24 Januari 2026.

Fokus penelitian mencakup biodiversitas laut, oseanografi, pengamatan laut, serta fish aggregating device (FAD) atau yang lebih dikenal sebagai rumpon.

Baca Juga: Pemkot Bandung Kebut Pembersihan Drainase, Waspadai Ancaman Banjir dan Luapan Sungai

“Berfokus pada biodiversitas, oseanografi, dan juga pengamatan laut, serta fish aggregating device atau yang lebih kita kenal rumpon,” ujar Nugroho, mengutip laman BRIN, Selasa (27/1).

Ia menegaskan, upaya menuju kemandirian eksplorasi laut nasional membutuhkan penguatan ekosistem kapal riset secara berkelanjutan, mulai dari armada, sumber daya manusia, hingga pendanaan yang memadai.

Tahap akhir misi Leg 2 sendiri masih berlangsung di perairan utara Sulawesi Utara, sebelum kapal riset bersandar di Pelabuhan Bitung pada 24 Januari 2026.

Baca Juga: Indonesia–Prancis Perkuat Kerja Sama Kampus Lewat Tahun Inovasi

Temuan Megafauna Laut
ROV Program Lead OceanX, Andrew Craig, melaporkan dari atas kapal riset OceanXplorer bahwa selama misi berlangsung, tim peneliti berhasil mengidentifikasi 14 spesies megafauna laut.

Temuan tersebut terdiri atas 10 spesies mamalia laut, dua spesies hiu, dan dua spesies penyu. Identifikasi dilakukan melalui berbagai metode observasi, baik visual maupun berbasis teknologi mutakhir.

Peneliti mamalia laut Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Sekar Mira, menjelaskan sejumlah mamalia laut teridentifikasi melalui pengamatan udara menggunakan helikopter kapal.

Baca Juga: Fantastis! Gaji ASN Kudus Capai Rp 542 Miliar, PPPK Paruh Waktu Kebagian Rp 63,8 M

“Bahkan, kami menjumpai Indopacetus pacificus atau paus paruh Longman, yang jika terkonfirmasi akan menjadi catatan baru bagi daftar biodiversitas di perairan Indonesia,” ungkap Sekar.

Berburu Data Tanpa Melukai Satwa
Selain observasi visual, penelitian ini juga memanfaatkan teknologi environmental DNA atau eDNA metabarcoding.

Metode ini memungkinkan peneliti mendeteksi keberadaan megafauna laut melalui jejak genetik yang tertinggal di air, tanpa harus bersentuhan langsung dengan hewan.

Baca Juga: Gerak Senyap di Istana, Prabowo DIkabarkan Reshuffle Kabinet dan Lantik DEN Periode 2026–2030 Hari Ini

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Andhika Prima Prasetyo, menyebut pendekatan ini sebagai cara baru mempelajari laut dalam secara lebih etis.

“Kita, tuh, kayak lagi berburu paus tanpa membunuh paus, whaling tanpa harpoon. Harapannya, kita bisa mempelajari distribusinya, tidak hanya horizontal tapi juga secara vertikal,” ujarnya.

Pendekatan ini dinilai membuka peluang besar untuk memahami pola sebaran megafauna laut secara lebih komprehensif.

Baca Juga: Riwayat Pendidikan SD–SMA Hilang di Info GTK? Ini Penyebab Sistemik dan Langkah Aman Agar Validasi Tetap Lolos

Peran Kapal Selam Berawak
Ekspedisi laut dalam ini turut didukung dua unit kapal selam berawak, yakni Nadir dan Neptune.

Peneliti Indo Ocean Foundation, Ilham, menjelaskan bahwa Nadir difokuskan untuk dokumentasi visual dan kebutuhan media.

Sementara itu, Neptune dimanfaatkan untuk kepentingan ilmiah.

Kapal selam ini dilengkapi dengan Niskin bottle untuk pengambilan sampel air, lengan robotik pengambil biota, serta bio box yang berfungsi menjaga spesimen tetap stabil selama proses analisis di laboratorium kapal.

Baca Juga: Perpres 79 Tahun 2025 Dibahas, Prabowo Singgung Kenaikan Gaji ASN dan Harapan Baru Pensiunan, Ini Penjelasannya

Melalui metode video transect, Nadir juga merekam struktur komunitas biota di kawasan gunung bawah laut Sulawesi Utara, memberikan gambaran visual ekosistem laut dalam yang selama ini sulit dijangkau.

Basis Data untuk Kebijakan Konservasi
Lead Scientist ekspedisi sekaligus Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Pipit Pitriana, menilai ekspedisi ini memberikan kontribusi penting bagi pengayaan basis data biodiversitas perairan Sulawesi Utara.

Baca Juga: TPG 2025 Tak Cair Bukan Hangus! Dirjen GTK Buka Skema Pembayaran 2026, Guru Diminta Tenang

Data tersebut dinilai krusial sebagai landasan ilmiah dalam penyusunan rekomendasi kebijakan konservasi laut yang lebih presisi dan berkelanjutan.

Wakil Kepala BRIN, Amarulla Oktavian, turut mengapresiasi pelaksanaan ekspedisi kolaboratif ini.

Ia berharap fasilitas dan teknologi yang dimiliki OceanX dapat menjadi referensi pengembangan kapal riset BRIN ke depan.

Baca Juga: Negara Mendadak Tambah Kaya, KPK Pulangkan Rp 1,53 Triliun Hasil Sitaan Tahun 2025

“Saya berharap hasil penelitian ini terdokumentasi dengan baik dan semua sampel disimpan di repositori ilmiah nasional sesuai aturan. Kita akan melanjutkan penelitian ini menggunakan kapal penelitian kita sendiri dengan peralatan standar yang tidak boleh kalah canggih,” tegas Amarulla. ***