POJOKSATU.id – Dua siswi MAN Insan Cendekia (IC) Pekalongan, Ulviana Dianti Zahra dan Lunadhia Ajjasefti Arumi, kembali berhasil mengembangkan inovasi teknologi canggih berbasis Internet of Things (IoT).

Teknologi tersebut bernama HydroGO yang dirancang untuk memantau dan merawat tanaman hidroponik secara otomatis.

Alat ini diciptakan untuk mengatasi solusi dari keterbatasan lahan pertanian di perkotaan sekaligus menjawab tantangan era smart farming.

Baca Juga: Strategi Tangsel Imbas Pemangkasan Transfer Daerah: Gaji ASN Ditunda, TPP Dipotong 6 Persen

Melalui sistem digital, petani dapat memantau pH air, suhu, dan kadar nutrisi secara real-time. Dari keresahan itulah, HydroGO lahir sebagai jawaban inovatif menuju era pertanian cerdas

“HydroGO kami rancang agar petani bisa memantau kondisi tanaman mulai dari pH air, suhu, hingga kadar nutrisi secara real-time,” ujar Ulviana.

Berdasarkan hasil uji coba, penggunaan HydroGO mampu bisa menekan risiko kerusakan tanaman hingga separuhnya dari 10 persen menjadi hanya 5 persen.

Baca Juga: Pemkot Tangsel Jawab Tudingan Dana Mengendap Rp1,13 Triliun

Sekaligus meningkatkan pendapatan petani hingga 24,69 persen dibandingkan dengan metode manual.

Teknologi ini juga hemat air dan nutrisi sehingga ramah lingkungan.

Inovasi ini sejalan dengan tema “Kewirausahaan Hijau: Solusi Lokal untuk Masa Depan Berkelanjutan” dalam ajang Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2025.

Baca Juga: Gubernur Banten Dorong ASN Tingkatkan Akuntabilitas, Targetkan SAKIP Naik ke Kategori Lebih Tinggi

Guru pembimbing MAN IC Pekalongan menyebut bahwa karya tersebut merupakan bukti nyata kemampuan siswa madrasah dalam berinovasi di bidang pertanian digital.

“HydroGO bukan sekadar alat, melainkan bukti bahwa siswa madrasah mampu menjadi motor penggerak inovasi pertanian masa depan,” ujarnya.

Kedepannya, tim HydroGO berencana meluncurkan aplikasi seluler agar sistem monitoring semakin praktis melalui gawai.

Mereka juga tengah menjalin kolaborasi antar komunitas petani hidroponik dan Dinas Pertanian setempat guna memperluas penerapan teknologi ini di lapangan.***