POJOKSATU.id, BELAJAR matematika sejak usia dini sangat penting untuk membangun dasar kemampuan berpikir logis anak.

Pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) baik TK/KB/TPA/SPS, kegiatan belajar matematika dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu keterampilan dasar berpikir matematis dan konsep matematika permulaan.

Keduanya saling melengkapi dan harus dikenalkan dengan cara yang menyenangkan agar anak bisa belajar tanpa merasa terbebani.

Baca Juga: 17 Rekomendasi Smartwatch Terbaik 2025, Pilihan Brand yang Cocok buat Kamu, Cek Lengkap Fitur Unggulannya!

Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini;

1. Keterampilan Dasar Berpikir Matematis

Keterampilan dasar ini merupakan fondasi sebelum anak benar-benar masuk ke tahap konsep matematika.

Anak belajar melalui kegiatan konkret, interaktif, dan melibatkan pengalaman langsung. Beberapa sub-kegiatan yang termasuk dalam keterampilan ini adalah:

Mencocokkan (Matching):

Orang tua coba terapkan ada anak untuk mencari hubungan dengan melihat kesamaan ciri, misalnya warna, ukuran, atau fungsi.

Baca Juga: Transparan dan Praktis, Kemenag Buka Akses Produk Hukum lewat JDIH 2.0

Bahkan bisa sampai mencocokkan dengan lambang bilangan.

Mengklasifikasi/Mengelompokkan:

Anak belajar memilah benda atau kejadian berdasarkan kesamaan tertentu, misalnya bentuk, warna, ukuran, bahan, atau fungsi.

Dari sini anak belajar berpikir analitis dan menemukan hubungan logis.

Mengurutkan:

Orang tua mengajak anak untuk membandingkan lebih dari dua benda atau situasi, lalu mengurutkannya berdasarkan ciri-ciri seperti panjang, tinggi, berat, atau jumlah.

Baca Juga: INFO Pelaksanaan PPG Calon Guru Tahun 2025, Begini Kata Dirjen GTK Nunuk Suryani!

Proses ini mengasah keterampilan logika dan observasi.

2. Konsep Matematika Permulaan

Setelah keterampilan berpikir matematis anak matang, barulah ia siap dikenalkan pada konsep matematika yang lebih spesifik.

Konsep ini mencakup:

Bilangan: Anak belajar mengenali bilangan dari sisi nama (nominal), urutan (ordinal), hingga jumlah (cardinal).

Tujuannya agar anak bukan hanya menghitung, tetapi juga paham makna bilangan.

Aljabar: Dimulai dengan mengenali pola sederhana melalui kegiatan seperti menyusun bentuk, meronce, atau membuat urutan warna.

Dari sini anak terbiasa mengidentifikasi dan memperluas pola.

Baca Juga: KABAR BAIK! Kemenag Rilis Perpustakaan JDIH, Permudah Akses Karya Ilmiah Dosen Syariah

Geometri: Anak dikenalkan pada konsep ruang (atas-bawah, kiri-kanan, jauh-dekat) dan bentuk dua dimensi (lingkaran, segitiga, persegi) maupun tiga dimensi (bola, kerucut, silinder).

Pengukuran: Anak belajar membandingkan ukuran panjang, tinggi, berat, volume, hingga waktu dan suhu.

Melalui kegiatan nyata seperti menimbang atau mengukur, anak memahami konsep kuantitas.

Analisis Data: Anak dikenalkan cara menyajikan informasi secara visual, misalnya melalui grafik sederhana.

Kegiatan ini melatih keterampilan memahami data dan informasi numerik.

Kenapa Penting untuk Anak PAUD?

Matematika di PAUD bukan sekadar menghitung angka, tetapi membangun cara berpikir kritis, logis, dan kreatif.

Anak juga dilatih untuk memecahkan masalah dengan berbagai strategi.

Baca Juga: Menangis Tanggapi Hasil DNA Putrinya dan Ridwan Kamil Tak Ada Kecocokan, Lisa Mariana : Demi Allah, Gua Bisa Bongkar yang Lain

Dengan pendekatan yang tepat, belajar matematika akan terasa menyenangkan, layaknya bermain sambil belajar.

Ada dua jenis kegiatan belajar matematika di PAUD yang wajib Ayah Bunda pahami, yaitu keterampilan dasar berpikir matematis dan konsep matematika permulaan.

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

Keduanya adalah tahap penting yang akan memudahkan anak ketika nanti melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

Dengan metode belajar yang interaktif, anak tidak hanya mampu berhitung, tapi juga bisa berpikir kritis, logis, serta siap menghadapi tantangan belajar berikutnya. ***