POJOKSATU.id - Harapan ratusan pelamar program Koperasi Desa (Kopdes) dan Kampung Nelayan Merah Putih untuk melangkah lebih jauh dalam proses seleksi mendadak berubah menjadi kekecewaan.

Setelah berhasil melewati tahapan ujian kompetensi dasar, sebagian peserta justru terpaksa menghentikan perjuangan mereka sebelum memasuki Seleksi Kompetensi Tambahan (SKT).

Bukan karena nilai yang kurang memadai ataupun gagal memenuhi syarat administrasi.

Kendala yang dihadapi para peserta justru muncul dari persoalan teknis yang dinilai cukup memberatkan.

Baca Juga: Usia Masuk SD Kini Lebih Fleksibel, Anak 5,5 Tahun Sudah Bisa Daftar

Belakangan, media sosial ramai dipenuhi keluhan peserta seleksi yang mengaku kesulitan mengikuti tahapan lanjutan.

Sejumlah unggahan warganet di berbagai platform, termasuk Threads, menyoroti persoalan jadwal pelaksanaan yang dianggap terlalu mendadak.

Keluhan tersebut ikut menjadi bahan perbincangan setelah sejumlah akun informasi karier mengangkat fenomena tersebut.

Banyak peserta menyampaikan rasa kecewa karena informasi pelaksanaan SKT baru diketahui dalam waktu yang sangat singkat.

Baca Juga: Bobot Nilai TKA Jalur Prestasi SPMB 2026 Berbeda Tiap Daerah, Ini Ketentuan di Jawa Barat

Persoalan utama yang banyak disorot berkaitan dengan pengumuman jadwal ujian yang disebut baru diterima menjelang pelaksanaan tes.

Beberapa peserta mengaku memperoleh informasi hanya satu hari sebelum tahapan SKT berlangsung.

Kondisi itu mungkin tidak terlalu menyulitkan bagi peserta yang lokasi ujiannya berada di kota tempat tinggal atau wilayah yang masih mudah dijangkau.

Namun situasinya berbeda bagi pelamar yang harus melakukan perjalanan lintas kota, bahkan lintas provinsi.

Baca Juga: Trump Pilih Gencatan Senjata dengan Iran, Netanyahu Menolak, Hubungan Keduanya Kini Tegang

Waktu persiapan yang terbatas membuat sebagian peserta kesulitan mengatur perjalanan secara mendadak.

Dalam hitungan jam, mereka harus menentukan moda transportasi, menyiapkan akomodasi, sekaligus memastikan dapat hadir tepat waktu di lokasi ujian.

Kendala pertama yang banyak dikeluhkan berkaitan dengan keterbatasan waktu.

Mencari tiket perjalanan secara mendadak bukan perkara mudah, terutama bagi peserta yang harus menempuh jarak jauh atau bepergian antarpulau.

Baca Juga: TPG Bagi Guru Non ASN 2026 Cair Setiap Bulan! Ini Syarat dan Cara Agar Pencairan Tidak Terhambat

Selain persoalan ketersediaan transportasi, faktor biaya juga menjadi tantangan tersendiri.

Tiket perjalanan yang dipesan mendadak umumnya memiliki harga lebih tinggi. Belum lagi kebutuhan tambahan seperti penginapan, konsumsi, dan biaya operasional lain yang harus disiapkan dalam waktu singkat.

Bagi sebagian peserta, kondisi tersebut menimbulkan dilema.

Di satu sisi mereka telah berjuang keras hingga lolos tahap awal seleksi.

Baca Juga: Bupati Bandung Kecam Penangkapan Jurnalis Asal Cicalengka Thoudy Badai dalam Misi Kemanusiaan Gaza

Namun di sisi lain, keterbatasan waktu dan kesiapan biaya membuat langkah menuju tahapan berikutnya menjadi semakin berat.

Akibat situasi tersebut, sejumlah pelamar dikabarkan memilih tidak melanjutkan proses dan melewatkan SKT.

Keputusan itu memunculkan rasa kecewa mendalam karena kesempatan yang telah diperjuangkan sejak awal akhirnya terhenti bukan karena kemampuan, melainkan faktor teknis.

Hingga kini, linimasa media sosial masih dipenuhi berbagai respons dari peserta yang berharap adanya evaluasi dari pihak penyelenggara.

Baca Juga: Kompak! Ratusan Bikers Honda Turun ke Jalan Ramaikan Vario Night Ride Tasikmalaya

Sejumlah pelamar menilai pemberitahuan jadwal yang lebih awal dapat membantu peserta mempersiapkan perjalanan dan kebutuhan lain secara lebih matang.

Para peserta berharap pengalaman serupa dapat menjadi bahan perbaikan pada pelaksanaan seleksi berikutnya.

Dengan begitu, kerja keras peserta yang telah lolos tahap awal tidak harus kandas hanya karena persoalan waktu pengumuman yang dianggap terlalu mepet.

***