POJOKSATU.id – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh akademisi Tanah Air.
Dr Julie Ekasari, peneliti dari bidang perikanan dan ilmu kelautan IPB University, resmi masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists Worldwide 2025 yang dirilis oleh Elsevier dan Stanford University.
Selama hampir dua dekade berkecimpung di dunia riset sejak 2006, nama Julie dikenal luas sebagai salah satu pionir dalam pengembangan teknologi bioflok untuk akuakultur, sebuah inovasi penting dalam sistem budi daya ikan yang ramah lingkungan.
Baca Juga: Kabar Terbaru Gaji Pensiunan PNS 2025, Cair Satu November, tapi Belum Ada Kenaikan
“Saya kira karena saya termasuk peneliti awal yang meneliti teknologi ini (bioflok), sehingga penelitian saya banyak disitasi oleh peneliti selanjutnya,” ujarnya dengan rendah hati.
Ia menambahkan, “Saya sangat bersyukur dan senang dengan pencapaian ini, terutama karena pencapaian ini juga merupakan pencapaian bersama mahasiswa dan tim. Saya sangat berterima kasih dan bangga kepada mereka.”
Peneliti Lapangan, Bukan Sekadar di Balik Meja
Menurut Dr Julie, perikanan budi daya di Indonesia punya potensi besar untuk dikembangkan, tapi penelitian yang ada masih sering belum menjawab persoalan nyata di lapangan.
Baca Juga: Membangun Karir di Dunia Maritim: Profil Jurusan NKN SMK KAL 2 Surabaya, Lulusan Siap Jadi Perwira
“Seorang peneliti seharusnya banyak terjun ke lapangan dan dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi para pembudi daya untuk kemudian dicarikan solusinya melalui penelitian,” paparnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin karena masalah perikanan budi daya umumnya kompleks dan tidak bisa diselesaikan oleh satu bidang ilmu saja.
"Peneliti perlu bekerja sama dengan peneliti dari berbagai bidang ilmu, pembuat kebijakan, dan stakeholder terkait,” jelasnya.
Baca Juga: Langkah-langkah Mengajukan Perbaikan Data DTKS Biar Nggak Gagal Dapat Bantuan
Pengakuan Dunia untuk Dedikasi dan Dampak Nyata
Masuknya Dr Julie dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025 bukan tanpa alasan.
Daftar tersebut disusun berdasarkan indikator objektif seperti jumlah sitasi, H-index, hingga dampak publikasi global—parameter internasional untuk mengukur kontribusi seorang peneliti terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penelitiannya tak hanya memperkaya literatur ilmiah, tetapi juga memberi arah baru bagi kebijakan akuakultur berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya kelautan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui kiprahnya, Dr Julie Ekasari menegaskan bahwa ilmuwan Indonesia mampu bersaing di panggung dunia.
Tak cuma lewat publikasi, tapi juga melalui dedikasi dan kontribusi nyata bagi keberlanjutan pangan dan lingkungan.
Dengan prestasi ini, Dr Julie menjadi bukti bahwa sains Indonesia punya taring di level global. Bahwa dengan kerja keras, kolaborasi, dan hati yang tulus untuk lingkungan, nama bangsa bisa bersinar lewat riset dan pengetahuan. ***




